Mengulas Cerpen Anak
Judul Cerpen: Belajar Menulia
Karya: Suden Basayev
Pengulas: Riana
Mengulas cerpen anak adalah tugas kelas fiksi one day one post (ODOP Batch 7) pekan 3. Jika kemarin saya mengulas cerpen historical fiction karya Bapak. Suden Basayev, kali ini saya juga mengulas cernak karya beliau yang memang sudah mumpuni di dunia kepenulisan.
Cerpen berjudul Belajar Menulis adalah sebuah cerpen yang menceritakan kedekatan sebuah hubungan antara ayah dan anak. Cerpen ini mengambil latar dari rumah, tepatnya di ruang kerja ayahnya yang difasilitasi komputer, kemudian kantor pos untuk mengirimkan naskah yang telah ditulis.
Cerpen karya Bapak. Suden Basayev ini adalah sebuah cerpen anak yang sangat mudah dipahami oleh anak-anak karena gaya penulisan yang memang sangat lugas, namun menyesuaikan pada siapa cerpen akan disajikan. Cerpen ini menceritakan bagaimana kebijaksanaan serta kesabaran seorang ayah dalam membimbing anaknya agar tidak iri dengan apa yang orang lain miliki. Juga bercerita bagaimana sang ayah mendidik anaknya, dengan ketelatenan mengajarkan anaknya untuk bisa berdikari sendiri agar bisa menghasilkan uang untuk membeli apa yang anaknya inginkan.
POV;
Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga yakni; Haikal, Ayah dan Bara juga Bunda. Hanya saja Bunda di sini tidak dijelaskan perannya.
Dengan tokoh utama adalah Haikal.
Alur yang digunakan oleh penulis adalah alur maju dengan tempo sedang sehingga pembaca dengan mudah memahami isi dari cerpen ini, juga memudahkan pembaca untuk mengetahui poin serta pesan yang terkadung dalam cerpen tersebut. Tidak juga tergesa-gesa untuk bisa sampai pada ending yang telah ditentukan.
Lakon dan Perwatakan:
*Ayah; Seorang ayah yang sangat bijaksana tapi sabar, telaten mengajarkan anaknya untuk berdikari sendiri.
*Haikal; Untuk perwatakan Haikal mungkin agak tidak sabaran, mau yang serba instan dan tidak mau berlama-lama menunggu. Tapi sebenarnya dia adalah anak yang mudah disetir oleh ayahnya. Menuruti apa yang ayahnya ajarkan.
*Bara; Di cerpen ini, Bara bisa dibilang anak mama, itu dapat dilihat dari bagaimana dia mendapatkan mainan. Bukan dari hasil kerja keras sendiri.
Konflik dari cerpen ini adalah ketika Haikal pulang sekolah dengan cemberut karena melihat Bara dibelikan mainan baru oleh mamanya. Sehingga membuat ayahnya bertanya tentang kecemberutan Haikal. Dan Haikal kemudian bercerita, namun ayahnya justru berkata "tidak boleh iri, bukankah Bunda berkata bahwa Haikal boleh membeli mainan tapi dengan uang sendiri."
Mungkin untuk anak seumuran Haikal bertanya-tanya dari mana dia menghasilkan uang sedangkan dia sendiri sering lupa menyisihkan uang jajannya untuk ditabung . Dan ayahnya memberi tahu bagaimana cara menghasilkan uang yaitu dengan menulis dan mengirimkan naskah ke redaksi. Namun Haikal awalnya menolak ide dari ayahnya karena sebenarnya dia tidak mau menunggu lama, menunggu naskah yang dikirimkan dimuat oleh redaksi. Ketelatenan dan kesabaran sang ayah akhirnya membuahkan hasil, Haikal kemudian mau belajar menulis dan mengirimkan naskahnya ke redaksi.
Pesan dalam cerpen ini sangat ngena, bahwa tidak ada yang instan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Semua butuh perjuangan, butuh proses dan butuh kesabaran serta ketelatenan. Menurut saya, cerpen ini sangat dan sangat layak untuk dikonsumsi anak-anak. Sebagai pembelajaran bahwa kesabaran pasti akan berbuah manis seperti ending cerpen yang berjudul Belajar Menulis ini. Naskah pertama Haikal pada akhirnya dimuat.
Secara keseluruhan, saya benar-benar menikmati kata demi kata yang penulis tuang dalam setiap kalimat. Karena penulis juga sudah menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang sesuai dan benar.
"Terima kasih untuk penulis yang telah menuliskan karya yang begitu apik. Banyak pesan dan ilmu yang terkandung di dalam cerpen ini, termasuk bagaimana mengajarkan anak untuk berdikari sendiri sejak usia dini."
Taichung, 13 Desember 2019
Mengulas Cernak
ODOP Batch 7 Kelas Fiksi
One Day One Post
Belajar Menulis


Senang sekali cernak saya diulas. Makasih banget Mbak. Salam semangat berkarya...
BalasHapus