Sri Part 8
Sri Part 8
Oleh: Riana
Warga bersorak atas kekalahan yang mereka dapat. Sebuah fitnahan serta kesalahpahaman yang terpaksa harus menyeret mereka pada pernikahan. Tapi, apakah benar-benar sah pernikahan mereka? Sementara tak ada seorang pun keluarga dari mereka yang hadir menyaksikan.
"Hentikan! Apa-apaan ini?" suara lantang seorang perempuan dengan nanar mata penuh amarah.
Lastri. Ya, perempuan bernama Lastri yang tak lain adalah ibu kandung Sri. Tiba-tiba datang, entah dari mana dia tahu keberadaan anaknya yang mungkin tak lagi diinginkan. Semua kepala menoleh ke arah suara lantang itu, kemudian mata mereka membelalak penuh kebingungan.
"Ibu." Sri berusaha menyembunyikan wajahnya dari perempuan itu. Ya, perempuan yang seharusnya melindungi, tapi justru telah membiarkannya hancur.
"Ibu? Apa itu ibumu, Neng?" tanya Roni mencoba menyembunyikan keberadaan Sri dalam dekapannya.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" perempuan itu menarik paksa tubuh Sri dari dekapan Roni.
"Lepaskan, Bu! Sri mohon, lepaskan!" jerit tangis Sri membuat mata warga semakin mendelik. Penuh tanda tanya besar, sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka?
"Bu, saya mohon lepaskan istri saya!" ucap Roni bersimpuh di kaki perempuan yang seharusnya ia panggil Ibu mertua.
"Istri? Hah … pernikahan apa ini? Saya tidak merestui pernikahan kalian!" tubuh Roni seketika terpental karena tendangan Bu Lastri.
"Tapi saya benar-benar mencintai Sri. Saya janji akan membahagiakan dia sampai nafas terakhir saya!"
Pak Kyai dan warga serta Pak RT kemudian melerai mereka. Bu Lastri kalap, entah apa yang ada di pikirannya. Seorang ibu yang seharusnya menjadi tempat bersandar dan berlindung untuk anaknya, tapi tidak dengannya. Sekali lagi takdir telah mempermainkan Sri dan entah sampai kapan takdir akan terus mempermainkannya. Mungkin hanya waktu yang mampu menjawab
"Bu, lepaskan Sri. Sri mohon! Izinkan Sri ikut dan hidup dengan suami Sri!" ucap Sri memelas pada ibunya. Tidak ada pilihan lain selain harus kembali ikut dengan Roni yang telah menyelamatkannya.
"Oh … jadi seperti ini kelakuanmu? Ini yang kamu dapat dari almarhum bapakmu? Lari dari rumah, ikut dengan laki-laki dan hidup bersama seperti ini? Sri!" napas Bu Lastri kian tak beraturan.
"Kenapa Ibu tidak pernah mau percaya dengan Sri? Sri hancur karena ulah suami Ibu, Ibu jahat tidak pernah mau menjadi tempat Sri berkeluh kesah."
"Kamu yang kurang ajar, anak durhaka!" sebuah tamparan mendarat di pipi ranum Sri.
Sri diam, menatap lamat-lamat wajah ibunya. Surga kecil yang seharusnya ia hormati, namun apakah masih pantas seorang perempuan yang benar-benar telah menjelma iblis untuk disebut surga? Rasanya terlalu berlebihan sekali. Kemudian Pak Kyai kembali bertanya kepada mereka apa sebenarnya yang terjadi. Sri pun menjelaskan dengan seksama, bagaimana dia diperlakukan oleh Baron yang tak lain suami dari ibu kandungnya. Kehormatan yang telah terenggut bahkan dia pun sempat dijual untuk jaminan hutang ayah tirinya. Mata Sri terasa perih, seperih hatinya. Tetes air mata kemudian merebak di sana.
Warga dan Pak Kyai serta Pak RT akhirnya mengerti apa yang telah menimpa Sri. Perlahan pertahanan emosi Bu Lastri pun mengendur. Matanya berkaca-kaca menatap anak perempuannya yang telah hancur, kehilangan kehormatan yang seharusnya ia persembahkan untuk suaminya. Kemudian ia mendekatkan tubuhnya, mensejajarkan dengan tubuh Sri dan menarik tubuh itu dalam dekapannya.
"Maafkan ibu, Sri. Harusnya ibu tidak egois."
Air mata mereka pecah tak dapat dibendung lagi. Banyak pasang mata yang menyaksikan adegan mereka. Amarah seketika hilang menjadi tangis pilu. Ya, jika sejak dulu Bu Lastri sadar, mungkin kejadian itu takkan menimpa nasib Sri. Tapi kini nasi sudah menjadi bubur, semua kejadian sudah menjadi skenario atas kehendak-Nya.
"Baiklah, ibu akan merestui pernikahan kalian. Tapi izinkan ibu menyaksikan kalian mengucap ikrar itu."
Sebuah jawaban telah Sri dapat, berharap ini adalah awal yang baik dalam hubungan mereka. Sebab bagaimanapun jahatnya, seorang ibu tetaplah Malaikat bagi anak-anaknya. Pak Kyai pun menyetujui permintaan Bu Lastri dan bersedia menikahkan kembali serta menjadi wali hakim atas diri Sri. Untuk sekali lagi mereka mengucapkan ijab kabul, kali ini adalah pernikahan yang sah.
"Terima kasih, Bu. Saya janji akan membahagiakan Sri," Roni mencium tangan ibu mertuanya itu.
Pernikahan yang memang sebelumnya tidak pernah Sri pikirkan, kini telah menyeretnya masuk dalam dunia pernikahan. Yang artinya dia pun harus patuh pada suami, seperti ia patuh pada almarhum bapaknya. Kali ini Tuhan berlaku adil padanya. Itu yang ada di pikiran Sri. Takdir yang selama ini telah mempermainkannya, kini berganti dengan senyum kebahagiaan. Meski pada kenyataannya mungkin banyak pasangan pernikahan dini yang pada akhirnya gagal dan memilih bercerai.
"Terima kasih Mas telah menerimaku apa adanya. Aku yang telah kotor dan hina ini," ucapnya lirih pada suaminya itu.
Kemudian pandangan mereka beradu, Sri dapat melihat kesungguhan di dalam mata Roni. Pun dangan Roni yang telah menangkap setangkup asa yang terpancar dari dalam sana.
"Aku mencintaimu, Sri. Izinkan aku menjadi imam dunia akhiratmu!" Roni menarik tubuh mungil istrinya.
***
Episode ini sebenarnya masih belum berakhir, masih panjang sekali. Tapi izinkan aku mengakhirinya dengan sesuatu yang manis. Akankah pernikahan menjadi akhir dari segala kesedihan yang menimpa Sri, atau pada akhirnya Sri justru akan menderita dengan pernikahannya itu? Sebab manusia hanya mampu berencana, menginginkan segalanya yang baik dan indah. Tapi Tuhan jua yang berhak menentukan. Seperti halnya dengan kisah ini, penulis yang berhak menentukan ending dari setiap karyanya. Bukan begitu soal hidup atau soal karya?
Taichung, 27 Oktober 2019


Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.