Resensi Buku; Lelaki Harimau

Judul Buku: Lelaki Harimau
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi
ISBN: 978-602-03-0749-7
Layout isi: Noviprastya
Cetakan Pertama (cover baru) Agustus 2014
Tebal Halaman: 191




 Blurb: Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah penggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan penghianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas.  "Bukan aku yang melakukannya," ia berkata melanjutkan, "Ada harimau di dalam tubuhku."

Sebuah novel yang sangat tipis dan tipis sekali, yang sebenarnya menurut saya bisa satu kali baca langsung habis. Tapi, berhubung saya sedang melakukan tantangan RCO (Reading Challenge Odop) yang diadakan oleh ODOP. Maka, saya pun berusaha untuk menghabiskannya dalam satu pekan, dimana waktu yang telah ditentukan.

Isi: Dalam novel ini, pertama kita membuka halaman pun Eka Kurniawan sudah langsung menyuguhkan dengan kejadian yang sangat brutal oleh Margio, si penggiring babi dalam perangkap yang seharusnya dia beristirahat dalam menyambut musim perburuan. Tapi justru ia terperosok dalam sebuah pembunuhan yang sangat mengejutkan dan menyeramkan terhadap Anwar Sadat. Si mata keranjang yang telah menanam benih hingga menjadi janin dalam rahim Nuraeni yakni ibu kandung Margio. Akan tetapi dengan alih-alih bahwa Anwar Sadar sudah mempunyai anak dan istri, dia pun menolak keinginan Margio. Sebuah posisi yang sangat sulit bagi Margio, sebab Maharani telah pun tergila-gila dengannya dan sangat tidak mungkin untuk mereka menjadi sepasang kekasih karena sebuah sejarah keluarga yang sengkarut.

Sementara kesintingan Nuraeni semakin membuat Margio khawatir pun dengan Mameh, adiknya. Nuraeni yang tak pernah mendapat pelayanan  lembut dari Komar bin Syueb yang tak lain adalah suaminya, kekasaran serta makian yang selalu dia terima hingga membuatnya hengkang tidak mau bersetubuh. Hanya sesekali ketika Komar bin Syueb menyeret paksa dalam gudang beras. Kemudian Nuraeni mendapatkan kelembutan dari seorang Anwar Sadat, hingga kesintingannya sedikit berkurang dan itu yang menurut Margio dan Mameh. 

Margio yang hampir setiap hari memikirkan cara untuk membunuh Komar bin Syueb lebih memilih mingat dari rumah meninggalkan semuanya. Hingga kabar yang ia terima dari supir dan kenek bis bahwa ayahnya mati hampir membusuk. Kematian Komar bin Syueb adalah keriangan bagi Margio dan Mameh sebab tak ada lagi yang mereka risaukan tentang penyiksaan-penyiksaan terhadap Nuraeni. 


Taichung, 22 November 2019

Komentar

  1. Halaman pertama aq baca novel ini adalah..huwow, diksinya keren banget banget...hahaha, sampe aq gugling d kbbi bwt nyari artinya ajak yg tnyta anjing liar wakwakwak

    BalasHapus
  2. Keren kskskku, hari mau gak nakal
    #semangat

    BalasHapus
  3. Sebuah novel yang kelewat frontal menurutku..

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer