Pesan Cinta dari Konstantinopel

Pesan Cinta dari Konstantinopel
Oleh: Riana


Rindu. Ya, tepatnya seperti itu ketika mendengar rumah Konstantinopel yang aku singgahi selama dua bulan belakangan akan dibongkar. Rindu pada kekonyolan keluarga baru, rindu ketika saling menyemangati, berbagi ilmu, berbagi banyak tips yang bukan hanya tentang literasi, tapi juga tentang merawat anak-anak dengan layak dan sesuai kodrat.

Berdebar kala menunggu pengumuman kelulusan setelah 8 pekan berjuang, meracik kata demi kata agar menjadi sebuah karya yang layak untuk dinikmati banyak pasang mata yang membaca. Sebuah kebanggaan tersendiri ketika aku bisa melewati setiap tantangan walaupun mungkin dengan hasil yang kurang memuaskan, setidaknya aku sudah berjuang untuk tetap konsisten dalam menulis. 

Jika dulu aku selalu memendam segala resah hanya dalam hati, kemudian lara terus menggerogoti jiwa, bahkan batin ini pun terus berdebat dengan akal waras. Ya-dulu, ketika aku belum paham apa itu literasi. Menulis pun hanya di wall Facebook atau di buku harian yang hingga detik ini masih tersimpan rapi di dalam koper, hanya sesekali saja aku membuka dan membacanya kembali.

Lalu, Tuhan telah membuka semuanya. Memberi jalan agar aku bisa mengembangkan setiap resah untuk dijadikan sebuah karya, bukan yang hanya tersimpan rapi di benak kemudian meledak layaknya bom waktu dan mematikan segala rasa juga asa. Ya, Tuhan telah mempertemukan aku dengan orang-orang hebat. Mempersatukan dalam wadah yang banyak memberi ilmu juga pengalaman yang begitu berharga buatku yaitu ODOP Batch 7

Jika pada tahun 2016 sempat tergabung dalam wadah literasi di Taiwan yaitu KPKers Taiwan (Komunitas Penulis Kreatif Taiwan) yang hanya bertahan beberapa bulan karena sibuk dalam dunia nyata.  Dan tahun 2018 mulai bangkit lagi dalam dunia kepenulisan. Hingga salah satu teman pada akhirnya menyarankan untuk mengikuti Ramadhan Writing Challenge ODOP 2019. Dari situ semangatku semakin berkobar. Belajar untuk tetap konsisten memang bukan hal yang mudah menurutku, apalagi dengan segala kesibukan yang banyak menyita waktu, pikiran juga tenaga. Tak jarang juga merasa lelah dengan keadaan ini, tapi aku merasa punya tanggung jawab baru ketika sudah masuk ODOP. 

Benar adanya, ketika aku melakukan apapun dengan hati serta niat yang ikhlas. Seperti halnya menulis menurutku tidak jauh bedanya dengan mengejar waktu untuk menjalankan rukun Islam kedua. Bukan merasa terkejar, tapi justru harus mengejarnya. Pun dengan tulisan, semakin mengejarnya maka semakin yakin adanya tanggung jawab. Tanggung jawab untuk membuat tulisan jauh lebih baik lagi agar layak disajikan pada publik.

Seperti apa yang kemarin Cak Lutfi tulis, apa kesan dan pesan untuk ODOP: sebenarnya memang banyak sekali kesan yang aku dapat dari mereka, orang-orang hebat yang tergabung di dalamnya. ODOP Batch 7 memberi warna baru dalam dunia literasiku, jika dulu hanya mampu kuhadirkan abu-abu, putih atau hitam saja. Kini lebih bisa menghadirkan merah, jingga, kuning, hijau, ungu, biru meski warnanya masih terlihat agak-agak buram. Ya, dulu aku hanya bisa membuat cerpen yang entah isinya menarik atau tidak. Tapi, semenjak tergabung dalam ODOP Batc 7 ini aku sedikit bisa membuat dan mengerti apa itu artikel, biografi, perbedaan fiksi dan non-foksi. Bagaimana membuat artikel yang baik, bagaimana berpuisi dengan indah. Semua aku dapatkan ilmunya dari pemateri yang memang benar-benar sudah ahli dalam bidangnya, yang lebih menariknya lagi belajar tanpa dipungut biaya apapun. Itu yang membuat semangatku semakin meledak-ledak, dan rasanya sayang sekali kalau harus dilewatkan.

Namun, satu pesanku untuk ODOP adalah harusnya setiap materi yang diberikan itu kemudian harus ada sebuah tantangan untuk membuat tulisan sesuai materi pada hari itu. Jadi lebih tertantang juga lebih tahu dimana letak kelemahan para pessrta dalam menulis. Walaupun harus memutar otak sedemikian rupa, tapi tantangan itu yang justru akan menumbuhkan rasa penasaran dan percaya diri untuk bisa menaklukan setiap genre tulisan meski itu bukan termasuk keahlian yang dimiliki. 

Harapan ke depan, semoga ODOP semakin maju, semakin menggelegar di angkasa. Semakin menjadi bersinar dengan cahaya-cahaya dari orang-orang hebat yang ada di dalamnya. Dan harapanku adalah menjadi bagian dari mereka (orang-orang hebat) yang sangat menginspirasi. 

"Beribu terima kasih yang kuucap untuk para pemateri. Tuhan yang akan membalas semua. Ilmu yang kalian beri secara cuma-cuma itu akan memberi nyawa baru pada setiap karya yang tercipta."


Taichung, 4 November 2019


ODOP Batch 7
Konstantinopel
Kesan dan Pesan dari sang perantau

Komentar

  1. AWUWUWUWU semngatku terisi penuh rasanya

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah. Semangat menapaki gerbong baru Mommy Ry. Terima kasih sudah bertahan sampai akhir. Lope lope deh. 💗

    BalasHapus
  3. Mbak Riana. Sudah mewakili hati kami.

    BalasHapus
  4. Senangnya bisa bersama sama kalian di Konstantinopel.

    BalasHapus
  5. Selamat tinggal Konstantinopel dan Sampai jumpa lagi di keluarga besar ODOP pasca kelulusan 💙

    BalasHapus
  6. gabole nangis, gabole nangis, gabole nangis

    BalasHapus
  7. Keren banget Kakak.
    Aamiin....

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer