Mengulas Cerpen
Memasuki kelas baru setelah pengumuman kelulusan oprec ODOP Batch 7, dengan tugas baru pula tentunya. Tugas pekan 1 adalah mengulas salah satu cerpen yang ada di ngodop.com. Dan aku memilih untuk mengulas cerpen yang berjudul 'Kerinduan Terakhir' Karya Pakdhe Winarto Sabdo yang telah dimuat oleh redaksi ngodop.com pada edisi 5 tanggal 1 Juli 2019. Adapun link cerpen tersebut adalah http://www.ngodop.com/art/26/Kerinduan-Terakhir.
Tema dan Amanat; Cerpen yang menurut saya sangat menarik. Bercerita tentang kehidupan seorang gadis desa yang lupa akan janji pada kekasihnya hanya karena kenikmatan duniawi sesaat. Demi kemewahan bahkan rela terjerembab pada lembah yang hina; keperawanan terjual pada anggota dewan dan entah mendapatkan hasil berapa karena mucikari yang menerima bayarannya, bahkan menjadi gundik dari seorang pejabat yang tajir. Kemewahan duniawi memang terkadang mampu menghipnotis manusia, tanpa berpikir akan seperti apa kedepannya, dan tanpa mengingat seberapa besar dosa kita ketika menggadaikan marwah kita hanya demi kenikmatan duniawi sesaat. Sedangkan Yatijo adalah lelaki yang setia terhadap janji pada kekasihnya yaitu Arimbi, jelas terbukti dari kesungguhannya memperbaiki dan membangun kembali rumah Arimbi yang telah roboh meski harus menjual semua sapi. Kesetiaannya hingga rambut memutih, jenggot serta kumis yang tak terurus, tubuh kurus kering, hingga warga sekitar memvonisnya gila. Dan kesetiaan yang terbayar dengan kematiannya.
Adapun tokoh dalam cerita ini adalah;
~Yatijo; Berwajah buruk dan kaki pincang tapi dia seorang lelaki yang setia dan baik.
~Arimbi; Seorang gadis yatim-piatu yang berparas cantik dengan rambut panjang sepantat.
~Narni; Seorang sahabat yang jahat, ini dapat dilihat dari; karena dia yang membawa Arimbi ke kota kemudian membuatnya agar masuk dalam dunia hitam.
~Nenek; Yang telah merawat Arimbi setelah orangtuanya meninggal.
~Dua asisten Arimbi
~Ayah serta Ibunya yang telah meninggal dunia
~Dua asisten Arimbi
~Ayah serta Ibunya yang telah meninggal dunia
POV (point of view); Cerita ini menggunakan sudut pandang orang kedua dan orang ketiga. Namun begitu tidak sedikit saja mengurangi ketertarikan terhadap isi dari cerpen ini. Ini terbukti ketika saya membaca dan seolah-olah saya adalah Arimbi.
Alur; Maju, mudur.
Gaya bahasa; Gaya bahasa dalam cerpen ini sangat lugas, sangat mudah dipahami setiap yang membacanya.
Ejaan Bahasa Indonesia; Secara umum, penulis sudah menggunakan ejaan bahasa Indonesia dengan baik. Namun ada sedikit typo yang harus diperhatikan.
Latar;
~Latar Suasana;
*Kesedihan Yatijo ketika dokar membawa pergi Arimbi, kekasihnya hingga akhirnya Yatijo dinyatakan gila karena kesetiaannya terhadap Arimbi. Kesedihan serta ketakutan ketika Arimbi dinyatakan bahwa dirinya terkena HIV AIDS. Kesedihan ketika Yatijo menghembuskan napas terakhir dalam dekapan seorang wanita yang dia cintai, kerinduan yang telah terbayar dengan kematian.
*Kebahagiaan ketika Arimbi menjadi seorang yang kaya raya.
Latar suasana yang sangat detai, dari; Kebahagiaan hingga kesedihan, penyesalah serta ketakutan.
~Latar Tempat; Pasar kecamatan, kota kabupaten, Surabaya, sawah, tengah ladang, kebun, hutan, desa, komplek lokalisasi, tikungan.
~Latar Waktu; Nanti, sepuluh tahun, bakda Asar, Maghrib.
Klimaks dari cerpen ini adalah; Sebuah penyesalan seorang Arimbi yang telah melupakan janji pada kekasihnya, juga melupakan makam Ayah serta Ibunya, juga Nenek. Hingga kemudian dia pun memberanikan diri untuk pulang ke kampung menemui Yatijo, kekasihnya. Dan berharap pernikahan akan terjadi diantara mereka setelah apa yang Arimbi dapatkan sebagai balasan atas segala nafsu duniawinya, namun justru kematian Yatijo dalam dekapannya yang harus ia terima sebagai balasannya.
Secara pribadi, saya cukup menikmati cerpen ini. Dengan ending yang mengejutkan. Dan cerpen ini sangat memberi gambaran bagaimana seorang kaum Hawa harus lebih bisa berhati-hati dalam menjaga diri agar tidak terbuai pada tipu muslihatnya dunia yang hanya akan memperdaya dengan kesengsaraan serta dosa yang sebenar-benarnya. Terima kasih untuk Pakdhe Winarto Sabdo yang telah menulis cerpen ini yang menurut saya banyak sekali pesan moral di dalamnya.
Taichung, 16 November 2019
Tugas Pekan 1 Kelas Fiksi
ODOP Batch 7
One Day One Post
Tugas Pekan 1 Kelas Fiksi
ODOP Batch 7
One Day One Post



Aihh minta link cerpennya dong ka Ri π
BalasHapusLink di atas gambar, Mbak Jiπ
HapusTatanan untk mengkaji cerpennya enak dibaca.. soalnya tipikal saya klo kena cerpen udh agak males baca π π
BalasHapusWaahaahah ketauan kan jarang suka bacaπ
HapusAku baru tau kalau Winarto Sabdo itu penulis cerpen ..hehe kelihatan jarang baca ya mbak..pantesan waktu follow teman2 penulis, pak Winarto Sabdo ini selalu muncul (disarankan follow) di FB dan IG..aku suka review-nya per point', lengkap mba..ditambah penerbit dan tahun cetaknya dong mba..biar bisa kucari di perpus..hehe
BalasHapusIni udah tak kasih tanggal terbitnya juga Mbak, tapi terbit di redaksi ngodopnya
HapusLengkap selengkap lengkapnya, tugas pertama telah ditaklukkan, semoga lancar hingga tugas akhir ya mak Ri πΉπΉ
BalasHapusAamiin Ayook Konstantinopel taklukkan tantanganπ
HapusKeren nih Mak ulasannya, aku malah belum ngerjakan ini ππ
BalasHapus