Konstantinopel is My New Spirit
Oleh: Riana


Hitam kian tebal menyelimuti malam, gelapnya semakin pekat. Hening tak ada riuh, hanya sesekali suara kendaraan masih berlalu-lalang yang terdengar dari bawah apartemen tempatku tinggal. Harusnya, aku sudah lelap dalam peraduan atau bahkan sedang berada di alam mimpi. Sejenak merehatkan badan serta pikiran juga hati setelah hampir seharian sibuk dengan aktivitas yang menjadi tanggung jawab pekerjaanku.

Tapi, entah … mata tak dapat terpejam. Batin bergejolak, terus mengajak akal warasku untuk berdebat. 3 November 2019 menjadi hari terakhir nge-ODOP, itu artinya hari ini adalah  hari terakhir memutar otak dalam setiap mengerjakan tantangan. 

Jika dulu selalu kebingungan untuk mencari ide menulis. Besok mau bikin tulisan apa, mau nulis fiksi atau non-fiksi? Ah, ke depan sudah tidak lagi ada pertanyaan yang selalunya dijawab sendiri.

Berada di tengah-tengah orang-orang hebat: Mbak Jihan, Mbak Dewi, Bu Guru Rahayu, Bu Guru Lilis Odiah, Mak Lilis Indrawati, Mak Prajna, Mbak Re, Mak Panda, Mbak Lasmi, juga Mbak Sari, Mbak Karis dan Mas Syai yang paling ngguanteng dewek yang hobi ngukur aspal. Juga dengan para Mak Pijeh yang keren: Mbak Dian, Bu Kiya, Mbak Nai juga Mbak Saki. Membuatku merasa bahwa dunia ini jauh lebih indah dan bermakna, banyak sekali pelajaran serta ilmu yang aku dapat dari mereka. Bahwa hidup memang harus banyak belajar dari sekeliling kita. 

Di pekan-pekan terakhir kemarin, seperti biasa masih saling berebut untuk bisa setor di urutan pertama. Dan aku yakin pasti akan merindukan momen itu dengan mereka. Momen yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. Jangankan untuk berebut nomor urutan dalam setoran tulisan, bisa bergurau dalam satu wadah yang seperti ini saja sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak. 

Tantangan demi tantangan telah aku selesaikan. Hanya tersisa satu hari ini saja, menunggu kelulusan. Semoga semangat untuk menulis tidak akan pernah kendor, semoga semakin giat untuk menghasilkan sebuah karya. Jika selama ini hanya itu, itu dan itu lagi yang ditulis, semoga kedepannya lebih banyak menulis bukan hanya tentang itu, tapi tentang anu atau ini. 

"Wah, Mbak Ri sudah bikin endingnya nih, aku kok baru dua episode?" kata Bu Guru Rahayu.

"Iya, soalnya aku mau mikir buat bikin biografi dan satu harinya buat ngirim cerpen tentang kalian." Jadi, aku memang sudah punya rencana mau bikin cerpen tentang penghuni Konstantinopel.

"Ada tamu dari Jogja. Ngajak dinner, ini baru nyampe rumah, mata sudah ngantuk tapi masih punya hutang setoran. Di Denpasar sudah  hampir jam 11 malam," tulis Mbak Lilis Indrawati.

"Semangat!" balas Bu Guru Rahayu.

"Sama Mom, ini juga baru mau mulai nulis lagi." Lanjut Mbak Re.

"Ayo, semangat tinggal satu langkah lagi!" Lanjut Mbak Karis.

Ya, itulah keseruan kami selama tinggal dalam satu wadah yaitu Konstantinopel. Saling menyemangati satu sama lain, mengingatkan juga. 

"Mohon maaf kalau aku gak sampe dan left mohon diingatkan, ya!" Rupanya Mbak Dewi ada kendala.

Ada nyeri seketika, jika ada salah satu dari kami tidak bisa menyelesaikan tantangan. Menurutku, kebersamaan dalam satu wadah ini ibarat sedang berada di dalam karantina ketika mengikuti pelatihan atau bahkan seperti halnya ikut sebuah lomba nyanyi untuk menjadi seorang Diva. Menulis pun sama dengan orang menyanyi, setiap orang punya keahlian yang berbeda. Menulis atau menyanyi sesuai genre yang dikuasai, namun bukan berarti harus berhenti dan mengandalkan satu keahlian kita. Jika seorang penyanyi ahli dalam menyanyikan lagu dangdut, tidak ada salahnya juga membawakan lagu Jazz atau Keroncong. Pun dengan seorang penulis, menjadi seorang yang sudah ahli menulis fiksi, tidak ada salahnya juga belajar dan menulis non-fiksi

Menjadi bagian dari mereka (ODOP) terutama dalam Konstantinopel, membuatku tidak lagi meratap ketika lelah mulai mengusik raga, membaca chat mereka selalu mencipta tawa. Satu yang akan selalu aku rindukan adalah ketika diantara mereka berperang stiker dengan lakonnya adalah Momy Joyko (Mbak Jihan), Mbak Re, Mak Prajna dan Mas Syai.

Memang benar, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan itu memang sudah menjadi hukum alam yang real. Namun, aku berharap pisah tak kan pernah menjadi penghalang untuk terus saling menyemangati, berkumpul kembali dalam grup besar ODOP. Ya, semoga saja! 


Taichung, 3 November 2019

Konstantinopel
Keluarga Baru
ODOP Batch 7

Komentar

  1. momiiii bikinnnn meweeeeekkkkk huaaaaaaaaa hiks2 boleh ga ga usah dibubarin

    BalasHapus
  2. Aamiin allohumma aamiin. Terima kasih sudss berjuang sampai akhir, Mommy seterong. Aku pasti akan merindukan kehebohan kalian. 😭

    BalasHapus
  3. Aku sedih,in syaa allah tali silaturahim keluarga besar konstantinopel takkan terputus mak, keluarga sak lawase 🌹🌹

    BalasHapus
  4. Wahh pengen pelukan sama kaliannn semuaaa,, 😘😘

    Kecuali Mas Syai 🤣

    BalasHapus
  5. Mba Riana juwarakkk kalau merangkai kata. Lope you mba

    BalasHapus
  6. Semoga kekeluargaannya selalu terjaga .... Salam hangan dari PJ mata-mata ...

    BalasHapus
  7. Hmmmm..... Gak terasa ya.... Masya Allah.... Sangat beruntung kita dipertemukan

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer