Di Balik Wayang
Episode 5 (Akhir)
Oleh: Riana
13 Desember 2012
"Ladies and Gentlemen, we shotly will be landing at Taipei Taoyuan Airport in Taipei. The local time now is 5 minute 6 p.m. The time in Taiwan 1 hours ahead of Jakarta. Please fasten your seatbelt again, your seat back in to outbreak position and lock your table securely. Place your phone back and video monitor in place also keeps your window safes open during this time. Passenger who are using laptop and other entertainment devices, please switch them off now, we would like to remind you that carrying narcotics and drug in Taiwan is the violation of the law, thank you!" Sebuah aba-aba bahwa pesawat akan segera mendarat. Ya, aku memang tidak sekolah tinggi, hanya sampai di bangku sekolah menengah tapi nilai bahasa Inggris ku dulu selalu di angka 9 atau 10.
Setelah 5 jam burung besi melayang-layang di angkasa, akhirnya mendarat juga tepat di Taipei Taoyuan Airport. Kemudian aku bersama rombongan menuju ke terminal kargo untuk mengambil barang bawaan. Sebelum akhirnya kembali mengikuti prosedur serta pembimbingan kedatangan. Setelah selesai, aku pun menunggu agency untuk menjemput dan mengantarkan ke rumah majikan.
***
Pihak agency telah mengantarkan ke rumah majikan. Ya, aku bekerja menjaga nenek yang sudah tidak bisa apa-apa. Dengan selang di sana-sini tubuhnya, juga dengan dibantu oksigen sebagai alat pernapasannya.
Ada rindu yang menjejak di sudut hati, rindu pada Mamak dan Bapak juga kedua adikku. Ingin rasanya mengirim kabar bahwa aku sudah sampai di rumah majikan, tapi harus dengan cara apa? Untuk memberi tahu pada majikan saja aku tidak ada keberanian.
Dua bulan sudah berada di sini tanpa memberi kabar pada mereka di rumah, dan pastinya mereka pun begitu mengkhawatirkan aku. Namun apa daya, dengan minimnya bahasa membuatku jarang sekali berkomunikasi, belum lagi dengan majikan yang agak cerewet. Hanya sesekali berbicara ketika bertanya tentang pekerjaan.
***
Hari ini adalah jadwalku membawa nenek ke rumah sakit, berharap sekali bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia. Nasib baik telah berpihak padaku. Tuhan telah mempertemukan aku dengan orang Indonesia yang satu profesi yaitu menjaga lansia di sini.
"Maaf, Mbak. Boleh aku minta tolong? Aku baru datang dua bulan dan belum pernah telepon ke rumah."
"Iya. Kenapa, Mbak? Mau telepon ke rumah ya? Mana nomornya?" jawabnya lembut.
"Ini, Mbak." Aku menyerahkan secarik kertas bertuliskan nomor handphone Pak Karto.
"Halo … Assalamualaikum, Pak Karto. Ini Marni, Pak. Aku sudah kerja, tolong sampaikan sama Mamak dan Bapak."
"Iya, Nduk. Ini nomor Bapakmu tolong dicatat!" jawab Pak Karto dari seberang telepon.
Aku mengeluarkan kertas dan pulpen untuk mencatat nomor Bapak. Bersyukur sekali masih dipertemukan dengan orang baik.
"Terima kasih, Mbak." Aku menyerahkan kembali gawai milik Mbak itu.
***
Tiga bulan sudah aku bekerja, ada niat untuk mengutarakan pada majikan. Sebab yang aku tahu bahwa tiga bulan adalah masa training bekerja di sini.
"Maaf Nyonya, apakah saya boleh membeli telepon genggam? Bukankah masa training saya tiga bulan kerja baru diperbolehkan memegang telepon genggam?" ucapku.
"Maaf, Ani. Kamu memang sudah tiga bulan di sini dan kami masih belum mengizinkan kamu memegang handphone," jawabnya tegas tanpa mengalihkan pandangan ke arahku dari koran paginya.
Kecewa. Ya, itu yang aku rasa. Namun apapun itu, aku tidak sanggup melawan semua yang menjadi aturan. Mungkin, inilah yang dinamakan ujian hidup. Jika dulu selalu bersabar ketika hujan membanjiri rumah, juga ketika menahan lapar sebab tidak ada seorangpun yang membutuhkan tenaga kami hingga tidak sepeserpun uang yang menjadi rezeki kami. Kali ini, aku harus bersabar dengan keadaan serta kerinduan dan kekhawatiran pada mereka di rumah.
Hanya dengan tulisan aku bisa mencurahkan segalanya. Hitam di atas putih telah akrab dengan air mataku, hari-hari hanya menunggu waktu. Pagi hingga ke malam, pun sebaliknya. Rindu kian bertahta menguasai rongga otak, hingga hujan terus tercipta dari netra ini. Perih.
"Ani, sini sebentar!" suara Nyonya mengagetkan lamunanku.
"Iya, Nyonya." Aku pun bergegas menghampirinya.
"Ani selamat ulang tahun, ini hadiah untuk kamu. Tidak mahal memang, tapi ini yang sangat kamu butuhkan." Nyonya menyodorkan sebuah kotak.
Entah, aku saja tidak ingat kapan hari ulang tahunku. Dua hari yang lalu aku bilang bahwa ingin membeli gawai tapi Nyonya tidak mengizinkan. Rupanya dia telah menyiapkan segalanya sebagai hadiah ulang tahun. Ternyata benar apa yang selalu Bapak bilang "Sabar itu bayarannya sangat mahal. Jika kita mampu bersabar, maka apa yang kita inginkan pasti akan tercapai." Dan hari ini telah aku dapatkan apa yang aku butuhkan.
"Terima kasih, Nyonya." Aku menundukkan kepala tanda hormat.
Kemudian aku bergegas menelepon nomor Bapak. Aku ingin bercerita banyak tentang rindu yang tak bersyarat dan tak terbatas ini. Tentang malam gelap tanpa bintang ketika hati dihujami rindu. Bagaimana aku berteduh dari derasnya hujan yang membasah di pelataran hati dan juga bertahan dari segala ketakutan akan petir yang menggelegar memecah sunyi.
"Assalamualaikum, Mamak apa kabar?" ucapku menahan tangis.
"Baik Nduk. Kamu gimana, Nduk? Betah kerjanya?" jawab Mamak lirih.
Entah, tiba-tiba saja aku merasa ada yang janggal. Sebenarnya ada apa dengan Mamak?
"Mamak kenapa? Suara Mamak serak, apakah Mamak sakit?" tanyaku memastikan.
"Tidak, Nduk. Mamak tidak sakit."
"Bapak mana, Mak?"
"Bapak … mmm … bapak sudah meninggal dua minggu yang lalu, Nduk." Tangis Mamak pecah.
" Tidak, Mak. Tidak mungkin. Bapak…."
Seketika kaki ini tak mampu berpijak, aku terduduk lemas mendengar kabar Bapak sudah meninggal. Tidak mungkin Bapak pergi secepat ini, tidak mungkin! Tangisku pecah.
Tidak mungkin Tuhan sekejam itu, membiarkan Bapak pergi meninggalkan aku yang tengah berjuang demi melepaskannya dari jerat kemiskinan. Kenapa harus secepat ini, Tuhan?
Layang-layang. Ya, andai aku bisa menjadi layang-layang, aku akan terbang sekarang juga untuk bersimpuh di pembaringan terakhir Bapak.
Bagaimana mungkin aku bisa melanjutkan perjuangan ini tanpa Bapak? Bapak yang selama ini menjadi tempat untuk mencari kekuatan, Bapak yang selama ini selalu mengajarkan sabar dan ikhlas meski dalam nestapa. Dan apakah aku harus sabar serta ikhlas melepas Bapak? Sementara aku belum menepati janji untuk membangun kembali rumah bambu itu menjadi rumah yang mewah, tapi kenapa justru rumah keabadian yang harus Bapak tempati?
Tuhan. Kenapa harus Kau jadikan akhir episode yang begitu menyedihkan? Kenapa tidak Kau buat seindah mungkin, agar wayang-wayangMu sanggup tertawa puas dan bahagia dengan kemenangan yang dilakonkan di dunia ini, kenapa Tuhan?
Mungkin, sebenarnya episode ini belum benar-benar berakhir. Tapi, jika lakon wayang yang selama ini menjadi inspirasiku telah pergi, maka izinkan aku untuk mengakhiri episode ini. Aku hilang kekuatan dari lakon yang selama ini menjadi kekuatanku untuk terus melanjutkan pagelaran. Dalang telah mematikan lakon yang menjadi pujaanku. Ya, pagelaran wayang telah berakhir dengan matinya satu lakon.
Tamat!
Taichung, 1 November 2019
Tantangan Pekan 8
Episode 5 (Akhir)
Konstantinopel
ODOP Batch7



Nahan nàpas bacanya hiks
BalasHapusAir mataku auto berderai. Ingat ibu, kisah yang endingnya serupa tapi tak sama. 😭😭😭
BalasHapus