Warto, si Jaka Poleng
Sumber gambar: Google
Hari masih agak gelap, alarm alamiah pun belum terdengar dari teriakan ayam jantan yang saling sahut menyahut. Sepertinya ayam jantan semalam tak memejamkan mata, sehingga masih belum berkokok. Namun hiruk pikuk di rumah dinas Bupati sudah terdengar, menandakan aktivitas telah pun dimulai.
Mbok Ijah sudah terlihat sibuk di dapur, menyalakan tungku dengan meniup teropong yang terbuat dari bambu untuk menggodog air. Sementara dari pintu belakang pendopo, tergopoh seorang pemuda gagah berlarian tersangkut sarungnya.
"Mbok … buka pintu!" pintanya.
Mbok Ijah pun dengan segera meninggalkan tungku, ia bergegas membukakan pintu pawon. "Eh … wes teka, Nang?" ucap Mbok Ijah.
"Sudah, Mbok."
Mbok Ijah kembali meniup teropong bambunya, api masih belum menyala juga. Hingga kemudian Mbok Ijah pun mengambil ilir untuk mengipas tungku.
"Sini Mbok, biar aku saja yang niup!" ucap Warto yang kemudian pasang muka di depan tungku untuk meniup teropong agar api menyala.
Dengan kekuatan dalamnya, Warto pun berhasil menyalakan api. "Sampun Mbok."
"Suwun Nang," ucap mbok Ijah dengan wajah sumringah.
Api telah pun menyala, mbok Ijah kemudian mengambil sapu lidi dan serokan sampah yang terbuat dari jerigen bekas. Mbok Ijah mulai menyapu halaman belakang pendopo. Setelah dedaunan kering terkumpul, kemudian mbok Ijah pun membakarnya.
Ya. Pemuda gagah yang menjadi pakatik (pencari rumput untuk makanan kuda) juga begitu dipercaya untuk merawat si Gambir, kuda kesayangan R.Adipati Aria Singasari Panatayuda yakni Bupati Brebes. Bupati Brebes merasa puas dengan kinerja Warto, bukan hanya karena kinerjanya tapi Warto juga seorang pemuda yang saleh, rajin beribadah, bahkan mungkin dia rajin menabung dan tidak sombong (Oke, ini seperti karakter sang penulis).
Seperti pagi sebelumnya, selepas salat Subuh Warto selalu membersihkan kandang. Kemudian sejenak duduk di amben yang terbuat dari bambu yang terletak tidak jauh dari pawon untuk menikmati teh poci dan kue alu-alu yang telah Mbok Ijah sediakan. Setelah semua habis terlahap, Warto kembali ke kandang untuk mengambil peralatan mencari rumput.
"Mbok, aku berangkat ngarit dulu ya." Ucap Warto sambil menggendong keranjang untuk tempat rumput, dan tak lupa golok tanpa selongsong kesayangannya itu.
Di sebelah timur, terlihat gunung Slamet yang berdiri dengan perkasanya masih malu-malu membiru, dengan kelabu kabut yang menyelimutinya. Sementara cahaya kuning telur asin dari pancaran matahari masih sembunyi di balik punggung gunung. Pepohonan yang berdiri kokoh, rerumputan serta dedaunan masih dengan gigilnya, mengembun.
"Tes … tes … tes…" menetes air yang semalam sampai sepertiganya masih berwujud asap-asap purba mengembara dari gunung menetes dari daun atas hingga dedaunan yang paling bawah, kemudian tergelincir jatuh membenam ke tanah sesuai sunah-Nya.
Warto masih menyusuri persawahan di desa Wanasari dengan langkah gagahnya dengan siulan yang tidak begitu merdu, sesekali ia tergelincir karena tanah persawahan yang memang masih basah mengembun. Hijau rerumputan menjadi santapan Warto kali ini.
"Wah, hari ini sepertinya si Gambir akan makan besar. Rumputnya segar-segar kaya anak perawan yang baru berusia 17 tahun." Ucapnya dengan sumringah.
Tanpa pikir panjang, Warto pun segera menurunkan keranjang yang sedari tadi ia gendong. Ia membabat habis rerumputan segar itu, hingga penuh sudah isi dalam keranjangnya. Angin sepoy kian membuat rasa kantuknya. Warto segera membereskan semuanya, dia edarkan pandangannya di sekitar persawahan. Tepat di sebuah pohon besar nan rindang, netranya terhenti.
"Nah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Neduh dulu," ucapnya dengan sesekali masih bersiul.
Warto duduk selonjor di bawah pohon besar nan rindang, dikeluarkannya kendi dan ia langsung meneguk habis isi dalam kendi. Dahaga yang sedari tadi mengganggu konsentrasinya dalam membabat rumput telah pun hilang. Sepoy angin membuat matanya ingin terpejam. Lelahnya berganti dengan kantuk, sayup mata pelan-pelan membuatnya terpejam. Namun baru sebentar saja Warto memejamkan mata, ia tersentak ketika kakinya tertabrak oleh sesuatu. Spontan dia pun bangkit dari selonjoran sambil mengucek-ucek matanya, ia melihat ula poleng (ular belang; red) bermahkota emas di kepalanya dengan tubuh yang lumayan besar ukurannya.
Warto kembali mengucek matanya, memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi. Setelah dia yakin dengan apa yang dilihat, dia pun mengendap-endap mengikuti ular yang terseok-seok di tanah. Warto terus mengekor dari belakang ular bermahkota emas di kepalanya tersebut. Tepat di semak nan rimbun, ular pun menghentikan seokannya. Warto berhenti mengendap, memperhatikan dengan seksama. Sesekali ia mengusap janggut panjangnya dan memanggut-manggutkan kepalanya.
Ular itu pun menghilang di semak nan rimbun, namun ada kilau yang membuat Warto berdecak , dua sisik ular tertinggal sangat jelas terlihat. Entah sengaja ditinggalkan atau memang ketinggalan. Seketika Warto terbelalak, matanya melotot dengan bola matanya yang hampir loncat keluar. Tanpa pikir panjang, Warto pun segera mengambil dua sisik ular tersebut kemudian ia masukkan ke dalam saku celana komprang berwarna hitam.
Warto bergegas membereskan peralatannya, digendongnya kembali keranjang yang telah terisi penuh oleh rumput. Warto bersiul penuh girang, langkah yang penuh semangat sekali. Sepoy angin lereng gunung pun masih terasa.
Gundul … gundul pacul … cul … gembelengan
Nyunggi … nyunggi wakul ...kul … gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi salatar
Wakul ngglimpang segane dadi salatar
Masih dengan siulannya, dengan suara yang memang pas-pasan dia pun mendendangkan lagu kesukaannya. Namun ada yang aneh ketika sesekali Warto berpapasan dan menyapa warga yang berpapasan dengannya, mereka justru lari terbirit-birit. Bahkan ada yang sampai terjatuh-jatuh, dan Warto hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Sampailah Warto di belakang pendopo, ia membuka pintu belakang kemudian menuju kandang kuda yang letaknya tidak begitu jaih dari pawon. Memberi makan si Gambir sambil sesekali mendendangkan siulannya.
"Mbir … Mbir … ayo mangan sing wareg Mbir!" Warto mengelus kepala si Gambir dengan penuh kasih sayang.
"Mbir, setiap hari aku cuma ngelus koe. Lah kapan aku ngelus-elus rambut kembang desa sing umahe nang pojokkan Alun-alun kae?" lanjutnya.
Mendengar suara Warto dari kandang, R. Adipati Aria Singasari Panatayuda pun segera menghampiri. "To … Warto …" panggilnya.
"Nggih, Raden. Kulo teng mriki."
"Di mana kamu, To? Kamu sengaja mengajakku main petak umpet?" ucap Randen dengan senyum khasnya.
Kemudian Warto menepuk punggung Raden-nya dengan lembut.
"Saya di belakang panjenengan, Raden."
"Tapi aku tidak bisa melihatmu, To." Ucap Raden penuh keheranan.
Mendengar kegaduhan di kandang kuda, mbok Ijah pun berlari menghampiri Raden yang sedang berdiri sendiri.
"Ada apa, Raden? Tadi saya mendengar Raden sedang berbicara dengan siapa?" tanya mbok Ijah dengan kain lap yang menyampir di bahunya.
"Mbok … Mbok Ijah … iki aku sudah pulang, Mbok." Ucap Warto.
Namun mbok Ijah justru lari kebirit-birit mendengar suara yang tidak ada wujud kasat mata.
"Mbok, jangan lari! Ini aku Warto. Mbok…!" lanjutnya terus memanggil si mbok.
"Baiklah, Warto. Ceritakan yang sebenarnya, kenapa kamu bisa seperti ini? Ada suara tapi wujudmu tak nampak," Raden kembali membuka suara.
"A … anu … tadi saya melihat ula poleng bermahkota emas di kepalanya, dan karena saya penasaran maka saya pun mengikuti ular itu hingga tepat di semak nan rimbun. Ular itu meninggalkan dua sisiknya. Tanpa pikir panjang, dengan segera saya mengambil sisik itu."
"Lalu, di mana kamu simpan sisik itu, To?" tanya Raden penasaran.
"Saya simpan di saku celana."
"Baiklah, To. Sini beri padaku sisik itu, biar aku yang menyimpannya."
Kemudian Warto mengeluarkan dua sisik ular dari saku celananya dan menaruhnya di pojokan kandang kuda yang kebetulan ada sebuah meja kecil, Warto kini nyata berwujud.
"Nang, akhirnya kamu menampakkan wujudmu." Ucap mbok Ijah yang kemudian langsung lari mendekat ke arah Warto.
Sementara Raden Bupati melangkahkan kaki hendak meraih sisik itu, namun dengan sigapnya Warto melarang Raden untuk mengambil sisik.
"Ngapunten, Raden. Ini milik saya, ular itu telah meninggalkannya untuk saya dan ini sudah menjadi sebuah amanat dari Tuhan untuk saya. Jadi, maaf saya tidak bisa memberikan ini pada Raden."
"To, kamu mau jadi carik atau jadi lurah? Tinggal bilang sama aku. Aku akan menaikkan pangkat dan akan mencarikan kembang desa untuk menjadi istrimu, bila perlu aku akan mencarikan dua atau tiga." Ucap Raden sembari membatin "Aku yo mung siji bojoku, To."
"Ampun, Raden! Maafkan saya! Saya tidak bisa memberikan sisik ini kepada siapapun, tidak mengapa saya terus menjoblo."
Sepertinya, Raden telah kehabisan akal untuk mendapatkan sisik tersebut. Kemudian Raden marah dan murka pada Warto.
"Dasar pakatik tidak tahu diuntung kamu, To." Raden menghardik Warto, hingga nafasnya tersengal. Keringatpun bercucuran membasah di keningnya.
Dan sekali lagi Warto masih kekeuh dengan keputusannya untuk tidak memberikan sisik itu kepada siapapun. Dengan segera, Warto meremas-remas sisik itu kemudian menelannya.
Dari sejak itulah, Warto sudah benar-benar raib dan tak dapat dilihat dengan kasat mata. Ada suara tapi tidak ada wujud nyata. Kebahagiaan mbok Ijah dan Raden serta abdi-abdi lainnya pun kembali sirna. Warto hanya sesaat saja kembali berwujud dan akhirnya raib.
Sesal tak dapat ditolak, Raden menyesal telah murka dengan Warto.
"To, nek koe ngilang terus sopo sing arep ngaretke si Gambir? Sopo sing arep ngadusi si Gambir?" luluh air mata Bupati Brebes itu. Menyesali semuanya.
"Nang, koe aja ngilang Nang! Si mbok nek ora bisa daden geni priwe, Nang?" ucap mbok Ijah dengan isak tangisnya.
"Raden, meskipun saya sudah tidak terlihat. Namun izinkan saya untuk terus mengabdi pada Raden. Mbok, percayalah aku akan terus membantumu meniup teropong agar api di tungku bisa menyala."
"Aku izinkan kamu, To. Tapi kenapa kamu harus menghilang seperti ini?" ucap Raden.
"Maafkan saya, Raden! Saya janji akan terus mengabdi pada Raden."
"Baiklah, To. Kamu jaga rakyatku dengan baik, jangan biarkan rakyatku menderita!"
"Siap Raden."
"Mungkin ada baiknya juga kamu melarangku mengambil hakmu, To. Jika aku yang menghilang maka akan jadi seperti apa rakyat Brebesku, To." Lagi dan lagi Raden terus meratapi keadaan.
Dari kejadian itu, Raden pun memberi nama Jaka Poleng untuk Warto. Karena kebetulan Warto memang masih jomblo. Dan Raden pun menyediakan satu tempat pemandian khusus untuk Jaka Poleng.
Hingga detik ini cerita ular Jaka Poleng masih menjadi buah bibir warga di Brebes. Melegenda menjadi sebuah sejarah rakyat. Bahkan ada yang beranggapan bahwa Jaka Poleng masih hidup hingga sekarang dan ada yang melihat penampakannya, gagah perkasa dengan bertubuh ular dan berkepala manusia. Mitos dari pesisir Kali Pemali, bahwa sebelum banjir datang Ular Jaka Poleng akan membendung hulu sungai agar sapi yang digembalakan di hutan yang terletak di wanasari itu bisa tergiring selamat, dan warga yang bekerja di persawahan seberang kali akan kembali pulang ke rumah masing-masing dengan selamat.
Sebuah legenda yang kemudian menjadi suatu alasan orang tua untuk melarang anak-anaknya menyentuh ketika mereka melihat sisik ular. Mungkin karena takut bernasib sama dengan Warto yang raib. Konon cerita, sosok ular belang bermahkota emas di kepala adalah salah satu abdi Hyang Anantabaga Dewa dari bangsa siluman ular yang diutus turun ke bumi. Kocap carita; siapapun yang dengan kasat mata menyaksikan pergantian kulit ular tersebut maka menjadi sebuah pertanda baik dan akan mendapatkan berkah dari sisik yang bertuah. Menurut dunia pemitosan; sisik itu merupakan jembatan yang menghubungkan dua dunia yaitu dunia gaib dan dunia nyata. Barangsiapa yang memiliki sisik itu maka akan bisa hidup di dua dunia.
Kisah ular Jaka Poleng menjadi cerita turun temurun hingga detik ini, menjadi buah bibir yang tidak pernah ada usainya meskipun tidak ada sebuah bukti nyata seperti seonggok batu yang berasal dari sebuah kutukan karena seorang anak durhaka terhadap ibunya dari cerita 'Malin Kundang'. Tapi, warga setempat menganggap dan percaya adanya ular Jaka Poleng. Dari cerita rakyat di Brebes ini, banyak sekali pelajaran hidup yang cantum. Bahwa; amanah itu memang benar-benar harus dijaga. Seperti apa yang Warto katakan ketika R. Adipati Aria Singasari Pinatayuda yang sangat bernafsu serta ambisinya akan mengambil sisik darinya. Ya, amanat itu sangat berharga dan tak ternilai harganya. Lain halnya dengan segala ambisi yang hanya tertutup oleh nafsu yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan keburukan untuk diri sendiri juga untuk orang banyak.
Taichung, 3 Oktober 2019
Tantangan Pekan 4
ODOP Batch7
Improvisasi Cerita Rakyat
Legenda Rakyat Brebes
Jaka Poleng



Oh, poleng itu belang toh, tak pikir poleng itu jelek ππ
BalasHapusπ
HapusAaah baru tauuuu aku soal Jaka Poleng
BalasHapusπ
HapusKisah aslinya gimana Kak? Penasaran ih, musti googliing ini.
BalasHapusDalam kisah aslinya, Ki Jaka Poleng sudah punya istri namanya Nini Rejaπ
Hapus