Untuk yang Telah Menyia-nyia
Untuk yang Telah Menyia-nyia!
Oleh: Riana
Semoga apa yang kau beri, tidak pula akan kau rasa dikemudian hari
Apa yang kau tanam, tidak pula kau akan memanennya
Yakinlah! Sebab karma tak seindah drama yang selama ini kau mainkan!
Aku pernah mengemis, memohon tapi bukan untuk merampas hatimu dari siapa pun
Melainkan sebab bocah kecil yang tak berdosa itu
Kau tahu?
Ketika bocah kecil itu sakit, tercucus jarum di tubuh mungilnya, seakan mati separuh raga, seakan melayang separuh nyawa ini
Kau tahu?
Ketika bocah kecil itu menangis, merintih sebab kesakitan yang menderanya. Seakan berhenti sejenak detak jantung ini.
Kau tidak tahu itu, bukan?
Bahkan kau tidak ingin tahu, kan?
Namun, aku tahu bahwa sedikitnya kau pun merasakan derita dari bocah kecil yang kau bilang dia adalah anak kita. Ya, dulu yang kau bilang akan mengambil langkah untuk anak kita, dan hingga detik ini pun tak ada kasih sayang yang kau curahkan untuk bocah kecil itu, bocah kecil yang terlahir Down Syndrome.
Kenapa aku selalu meluapkan segala amarah lewat tulisan-tulisanku?
Bukan sebab karena aku mencari simpati, tidak!
Bisa saja aku meluapkan segalanya dengan tindakan yang nyata, dan kau pun akan merasakan kehancuran seperti apa yang aku alami
Tapi, itu bukan sifatku!
Kau bilang, aku perempuan tidak waras?
Kau bilang, aku telah mendzolimi?
Kau bilang bahwa aku tak jauh beda dengan perempuan itu?
Perempuan yang kau bilang setan?
Iya, perempuan setan yang hingga detik ini kau pun masih erat dalam dekapannya.
Bertahun, aku masih bertahan dalam kesabaran. Bersabar menunggu mata hatimu terbuka, meski hanya sedikit saja.
Tapi nyatanya?
Tidak! Tidak sama sekali! Tidak ada sedikit celah, bahkan kemunafikan telah menutup rapat hati dan pikiranmu
Arogansi telah menguasai akal warasmu itu.
Ketika aku mencoba, membuka percakapan, bercerita bagaimana keadaan anak kita
Bukan maksudku untuk mencari belas kasihan, sebab aku tidak butuh sebilah iba itu!
Hanya saja, aku pikir tidak ada salahnya ketika aku bercerita tentang derita, tentang bahagianya bocah kecil itu pada sosok yang memang dan seharusnya ia panggil dengan sebutan Bapak
Tapi ... lagi dan lagi, kau hanya bersikap dingin, seakan tidak sedikit saja ingatan tentang derita bocah kecil itu!
Apa aku harus menjadi setan yang sesungguhnya?
Seperti apa yang kau bilang?
Toh, kau pun sudah menggapku demikian, bukan?
Kau pernah bilang bahwa tidak akan ada yang mempercayai semua ucapan orang miskin seperti aku ini
Tapi aku percaya bahwasanya Allah Maha Adil Segala-galaNYA!
Untukmu; Lelaki yang terhormat!
Mati mata hatimu, semoga tidak mati pula rezekimu
Atau, apa perlu aku berkata semoga mati pula rezekimu?
Ah...!
Rasanya, aku adalah perempuan yang paling jahat di dunia ini ketika aku berkata demikian!
Untukmu; Bapak yang berseragam!
Semoga arogansimu tidak pula akan menjadi senjata yang akan menghancurkanmu
Semoga kehancuran tidak akan pernah bertandang dalam kisah hidupmu
Iya. Aku selalu berdoa demikian
Bagaimanapun, perempuan yang kau bilang iblis ini masih punya hati dan akal waras untuk berpikir
Setidaknya, perempuan yang kau bilang pembangkang ini tidak pernah lari dari tanggung jawab, atau bersembunyi di balik topeng kemunafikan!
Taichung, 14 Oktober 2019



Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.