Sri Part 7
Sri Part 7
Oleh: Riana
"Dia siapa, Ron? Sudah satu minggu dia di sini. Apa kalian ini kumpul kebo?" bentak Pak RT.
Kemudian berapa orang warga telah menyeret Roni keluar dari kontrakan. Sementara Pak RT mendekat ke arah Sri yang hanya diam mematung di pojokan kamar. Wajah Sri semakin pucat, keringat dingin mulai mengucur deras membasah tubuhnya.
"A … a … anu … dia adik saya, Pak." Ucap Roni terbata-bata.
"Adik? Adik dari mana lu?" ucap seorang warga.
"Dia datang dari kampung, Pak."
"Bohong lu! Udah telanjangin saja kita seret mereka ke rumah Pak Kyai!" kemudian ucap seorang warga yang penuh amarah.
"Kamu ngapain di sini, Dik?" tanya Pak RT pada Sri.
"Sa … saya …"
"Sudahlah gak usah pada ngeles kalian. Sudah jelas-jelas kalian ini pasangan kumpul kebo. Kita bawa saja ke rumah Pak Kyai, Pak RT!"
Warga kian seperti kesetanan, menghujat dan menghina mereka dengan menuduh mereka telah berzina. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Selama satu pekan Sri tinggal di kontrakan Roni, mereka tidak pernah melakukan hal itu. Hanya karena ingat kejadian adiknya, Roni terus ingin melindungi Sri.
"Sudah … sudah … kita tidak boleh menghakimi mereka, kita beri kesempatan untuk Roni menjelaskan semua. Jika benar perempuan ini adiknya, ya biarkan saja. Tapi kalau memang mereka adalah pasangan kumpul kebo, maka kita bawa mereka ke Pak Kyai dan nikahkan saja!" ucap Pak RT kemudian.
"Hah … nikah?" Roni mendelik.
Setelah melakukan pemeriksaan, Roni pun tidak bisa menunjukan bukti bahwa mereka benar-benar kakak beradik. Sri hanya mematung, tubuhnya gemetar. Kemudian atas persetujuan warga dan Pak RT, mereka pun dibawa ke rumah Pak Kyai.
"Assalamualaikum … Pak Kyai!" ucap Pak RT.
"Wa'alaikumsalam … ada apa ini Pak Rt, kok rame-rame?" tanya Pak Kyai.
"Jadi begini Pak Kyai, saya mendapat laporan dari warga bahwa di kontrakan Bu Mirna ada pasangan yang kumpul kebo. Kemudian saya membawa warga untuk mengecek kebenarannya, dan ternyata memang benar."
"Astaghfirullah, apa kalian sudah yakin bahwa mereka adalah pasangan kumpul kebo?" Pak Kyai melihat ke arah Sri dan Roni.
"Betul Pak Kyai, sudah kita nikahkan saja mereka!" warga kembali riuh.
Entah, apa yang harus Roni katakan lagi untuk menjelaskan semua. Rasanya sudah percuma. Sesekali Roni melirik Sri yang sedari tadi hanya diam, sementara tubuhnya semakin gemetar. Ada duka yang dapat ditangkap dari nanar mata Sri, seorang perempuan yang sebenarnya telah memikat hatinya. Tapi bagaimana mungkin ia menikah karena terjebak dan difitnah kumpul kebo? Bagaimana nanti dengan orang tuanya?
"Jadi bagaimana Pak Kyai?" tanya Pak RT.
"Begini Pak RT: kita tidak bisa menikahkan orang apabila tidak ada wali dari pihak perempuannya. Jadi apa tidak sebaiknya kita tanya pada mereka?" jawab Pak Kyai.
"Baik Pak. Saya akan menikahi pacar saya ini. Tapi dia sudah tidak punya orang tua," ucap Roni dengan lantang.
Tak ada pilihan lain, selain menikahi Sri. Jika ini adalah pilihan paling tepat, semoga akan menjadi awal terbaik untuknya juga Sri. Mungkin dengan menikahi Sri juga dia tidak akan pernah merasakan kesakitan ketika Sri harus pulang ke kampung almarhum bapaknya.
"Jadi, kamu sudah siap?" tanya Pak Kyai.
"Iya. Saya sudah siap!"
Sementara Sri masih mematung. Tak sepatah kata yang ia ucap, bibirnya kelu seakan sudah tidak mampu berkata-kata. Siap atau tidak, Sri pun harus menerima takdir. Ya, takdir yang telah mempermainkan diri juga hidupnya. Haruskah Sri merasa tertekan dengan keputusan yang Roni ambil ataukah harus ia bersorak riang gembira karena ada seorang lelaki yang sudi memungutnya setelah apa yang telah berlaku dalam hidupnya. Sri, kembang yang telah layu dan hina itu pada akhirnya akan menikah. Bukan karena sebuah perasaan cinta tapi karena tertangkap warga dan difitnah telah kumpul kebo.
Roni terus memperhatikan Sri, wanita yang akan menjadi istrinya itu. Sementara warga dan Pak Kyai serta Pak RT masih berbincang dengan kejadian yang telah menimpa mereka.
"Apakah kamu sudah siap?" tanya Pak Kyai pada Roni yang kemudian menjabat tangan Roni.
"Siap!" jawab Roni.
"Baiklah, ikuti apa yang saya ucap!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Sri binti Warto (almarhum) dengan mas kawin uang 100 ribu dibayar tunai." Pak Kyai membimbing Roni untuk mengucapkan ijab kabul
"Saya terima nikah dan kawinnya Sri binti Warto (almarhum) dengan mas kawin uang 100 ribu dibayar tunai!" ucap Roni kemudian.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah …!" warga dan Pak RT bersorak kemudian.
Taichung, 26 Oktober 2019



Siapakah walinya Sri?
BalasHapusPenjelasannya nanti di part berikutnya, Mbak😂😂
HapusLanjut
BalasHapus