Sri Part 6
Sri Part 6
Oleh: Riana
Desir aliran darah mereka kian memanas, satu pekan kebersamaan mereka rupanya telah menumbuhkan benih-benih rasa dan asa di antara mereka.
------------------------------
Sri menatap langit-langit kamar petak itu, tatapan kosong serta rintihan pilu hatinya. Satu pekan sudah ia berdiam diri di dalam kamar, masih dengan segala resah yang terus menjejak paksa pikiran serta batinnya.
"Kamu yakin mau pulang ke kampung almarhum bapakmu, Neng?" tanya Roni.
"Iya, Mas. Mungkin lebih baik jika aku pulang ke kampung saja. Toh, ada tanggung jawab yang harus aku lakukan. Merawat nenek!"
"Jadi kapan kamu mau pulang?"
"Kalau bisa secepatnya, Mas. Lagian juga kalau kelamaan di sini takut menimbulkan fitnah."
"Baiklah. Aku akan mengantarmu besok pagi selepas pulang kerja," ucap Roni lirih.
Ada gurat duka yang tergambar di raut wajah laki-laki itu, seakan tak rela jika Sri meninggalkannya. Satu pekan kebersamaan mereka telah pun menumbuhkan benih rasa di hatinya untuk perempuan yang telah ia selamatkan. Sementara Sri, masih dalam rasa trauma yang teramat. Sebilah nista yang ia terima dari dua laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya harus ia telan pahit-pahit. Bahkan, mungkin hingga napas terakhir pun Sri tak mungkin bisa melupakan dan menghapusnya.
Semburat jingga telah pun menggaris indah di atas sana, pancarannya masuk melalui celah-celah di jendela. Siang sudah usai, sore menjelang dan itu artinya malam akan menjelma. Dua raga itu hanya teronggok diam dalam kehampaan, tak ada satu dari mereka yang membuka suara. Lama sekali mereka larut dalam kebisuan, hanya denting jarum jam yang mengusik kehampaan diantara mereka.
"Mas berangkat kerja jam berapa?" tanya Sri membuka obrolan.
"Mmm … aku nanti malam off. Jatah libur bulanan," jawab Roni datar.
"Oh …."
Suasana kembali hening. Sri kemudian bangkit dan mengambil teko untuk merebus air. Mengisinya dengan air dari galon dan merebusnya. Dua cangkir telah ia siapkan, kemudian menuang 2 bungkus kopi. Asal mengepul dari dalam cangkir, aroma kental kopi hitam menggelitik ujung hidung hingga sampai ke urat syaraf otak. Menenangkan.
"Apa kamu benar-benar sudah memikirkan semuanya, Neng?" pertanyaan Roni tak membuat Sri surut mengaduk kopi yang aromanya seakan menjadi candu.
"Untuk hal apa, Mas?" Sri menyodorkan secangkir kopi untuk Roni. "Ini kopinya, minumlah!" lanjutnya.
"Terima kasih!" ucap Roni.
"Tadi kamu bilang mau pulang ke kampung, terus di kampung nanti kamu mau kerja atau mau melanjutkan sekolah?" lanjut Roni.
"Sekolah? Rasanya tidak mungkin aku melanjutkan sekolah, Mas."
"Kenapa tidak? Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, Neng. Tinggal bagaimana kamunya saja, mau lanjut atau tidak?" kata Roni sambil menyeruput kopi yang asapnya masih mengepul itu.
"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah, nenek juga sudah tidak bekerja."
Lalu mereka kembali terdiam lama, mereka kembali menikmati teguk demi teguk kopi yang menenangkan. Kemudian Roni menggeser arah duduknya dan menghadap ke arah Sri dengan pandangan yang semakin tajam. Hingga membuat Sri gemetar, ada yang mengalir di pembuluh nadinya. Sri seakan sekarat dengan tatapan itu, lebih sekarat ketika ia telah ditelanjangi oleh kedua laki-laki yang menghancurkannya. Namun sekarat yang ini jelas berbeda, Sri merasakan degup jantungnya tak seperti biasanya.
Angin dari luar pun mendesah pelan seakan memainkan merdu dentingan gitarnya. Suasana semakin mencekam membuat Sri kian tak berdaya. Mereka kini berhadapan, hanya satu inci saja menjadi jarak di antara mereka dan mata mereka saling menatap dalam satu sama lain. Tak berapa lama tangan Roni merangkul pundak Sri dengan erat. Sementara Sri hanya diam dengan hati yang berkecamuk.
"Aku suka sama kamu, Neng!" bisik Roni menyapu bulu kuduk Sri meremang.
Tak ada jawaban yang terlontar dari bibir Sri, degup jantungnya semakin tak beraturan.
Desir alirah darah mereka kian memanas, satu pekan kebersamaan mereka rupanya telah menumbuhkan benih-benih rasa dan asa di antara mereka. Hampir saja bibir Roni memagut bibir mungil Sri. Namun tiba-tiba Sri mendorong Roni hingga tubuhnya terpental ke arah dinding. Kemudian Sri menjauh mundur dari Roni. Sri terus mundur hingga tubuhnya pun teronggok di pojok kamar.
Kembali hening. Mereka membeku dalam dimensi waktu dalam diam. Mungkin lima belas atau dua puluh menit berikutnya Roni menghela napas panjangnya, lalu perlahan pandangannya beralih memfokuskan ke arah Sri.
"Maafkan aku, Neng!" ucap Roni kemudian.
Tanpa bersuara Sri mengangguk pelan. Kini, detik ini ingatan Sri tentang kejadian beberapa hari yang lalu telah pun tergambar jelas di pelupuk matanya. Bagaimana Baron memperlakukan dia, juga bagaimana dia hancur untuk kedua kalinya ketika dia dibawa ke motel dan dijual. Sri merasa betapa tak ada harga diri lagi, Sri merasa tak pantas untuk bahagia mencintai dan dicintai. Tangisnya kemudian pecah, dia sembunyikan wajahnya di balik lutut yang ia tekuk.
Roni bangkit dan mendekat ke arah Sri, dengan lembut lelaki itu mendekap erat tubuh Sri. Membiarkan Sri larut dalam dekapannya.
"Maafkan aku, Neng. Aku nggak bermaksud…"
"Nggak papa, Mas. Maafkan aku jika tadi aku mendorong tubuhmu dengan kasar!" Sri memotong ucapan Roni.
Sri menarik tubuhnya dari dekapan Roni, menatap lekat-lekat ke arah lelaki yang hampir saja membuatnya larut dalam dosa.
"Tidak seharusnya kita melakukan itu semua, Mas. Aku tidak pantas mendapat kebahagiaan, aku kotor, aku hina!" ucap Sri memaki dirinya sendiri.
"Kamu nggak boleh bicara seperti itu, Neng!" ucap Roni menenangkan Sri, kemudian menarik tubuh Sri kembali dalam dekapannya.
Sesekali Roni mengusap rambut ikal Sri yang terjurai itu. Aroma tubuh lelaki itu telah menenangkan keresahan yang mendera benak dan batin Sri.
"Roni, keluar lo!" tiba-tiba suara gedoran pintu membuyarkan lamunan mereka. Suasana mendadak menjadi menyeramkan.
Dengan segera Sri pun menarik tubuhnya dari dekapan Roni dan menjauh. Mencoba mengintip ke arah luar lewat lubang jendela.
"Hah … Pak RT dan warga?" ucap Roni. Tergambar sebuah kecemasan di raut wajah Roni. Mendadak mukanya memerah.
Wajah Sri menjadi pucat pasi, ia menggigitkan bibir bawahnya sendiri. Perasaan takut tiba-tiba menyelimuti benak Sri. Sementara Roni dengan pelan menenangkan dirinya sendiri, kembali menghela napas panjangnya.
Bersambung….
Taichung, 18 Oktober 2019



Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.