Sri Part 5




Dendam, amarah telah pun merasuk dalam akal warasnya. Andai waktu dapat diputar kembali, dia tidak akan membiarkan Baron menghisap madunya.



---------------------------------



Langit kembali berduka. Di pelataran, hujan masih setia dengan gemericik merdunya. Sri diam menatap setiap rintik hujan yang jatuh membasah bumi, memberi sejuk pada tanah kerontang. Ingin rasanya dia ikut bersama hujan, menari bersama hingga tak ada sesiapa yang tahu bahwa netranya pun tengah tercipta hujan. Masih diselimuti beribu tanya yang terus menjejak dalam benaknya, entah jalan mana yang harus ia pilih. Sedangkan untuk pulang ke kampung halaman almarhum bapaknya pun dia tidak mungkin, hanya berbekal berapa lembar saja uang 100 ribuan yang masih terlipat mengisi saku celana jeansnya

"Hujan ya, Neng? Ya, nggak bisa keluar beli makan." Suara itu membuyarkan lamunan Sri.

Sri membalikkan badannya, sejenak menatap Roni yang masih terbaring di atas kasur kemudian Sri menunduk. Tak sepatah kata yang terlontar dari bibirnya, hanya sesekali dia memberanikan diri mencuri pandang ke arah Roni. Pun dengan Roni yang sesekali menatap wajah ayu Sri.

Kemudian hening, hanya suara denting jarum jam yang terdengar. Tak ada suara yang terlontar dari bibir mereka. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, tak ada satupun diantara mereka yang mau melelehkan keadaan yang membeku bagai gundukan salju pada musimnya.

"Neng, kamu lapar?" tanya Roni membuka obrolan.

"Nggak, Mas."

"Kalau kamu lapar, makan biskuit dulu ya! Nanti kalau hujannya sudah reda, baru aku keluar beli makan." 

"Mas, aku boleh minta tolong?" ucap Sri lirih.

"Kenapa Neng? Kalau aku bisa, Insyaa Allah aku tolong. Bicaralah!" Roni bangkit dari kasur, kemudian dia menekan tombol ON berwarna merah pada dispenser. "Kamu mau minum teh atau kopi?" lanjutnya.

"Teh. Aku mau pulang ke kampung bapak, tapi uangku mungkin tidak cukup untuk ongkos kesana."

"Kamu beneran mau pulang kampung?" ucap Roni sambil menyeduh teh manis kemudian ia membuka biskut yang ia simpan di laci meja TV.

"Iya. Mungkin lebih baik jika aku di kampung menjaga dan merawat nenek," kembali bongkahan air beranak sungai di sudut netranya.

Hening. Itulah keadaan yang selalu menyelimuti mereka. Roni mendekat dan mensejajarkan tubuhnya dengan Sri. Namun Sri membalikkan badannya, kembali melihat hujan di luar kontrakan. Kemudian Roni pun membalikkan badannya, menatap wajah Sri. Wajahnya kian mendekat dengan wajah Sri, hanya tersisa berapa inci saja jarak di antara wajah mereka.

"Tidak perlu terlalu meratapi nasib, Neng. Tidak baik," ucap Roni menyeka air mata Sri dengan ibu jarinya. "Tersenyumlah, tunjukan bahwa kamu adalah perempuan yang kuat!" lanjutnya.

Tiba-tiba saja Sri menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. Nyaman. Ya, senyaman ketika dulu ia selalu bersandar di bahu almarhum bapaknya. Entah sadar atau di luar nalar, kemudian tangan Roni membelai lembut rambut ikal Sri yang panjang tergerai itu. Ya, Sri merasakan kehadiran sosok almarhum bapaknya melalui raga Roni. Kelembutan bicara, perhatiannya sama persis dengan almarhum bapaknya.

"Usiamu sekarang berapa, Neng?" tanya Roni.

"15 tahun."

"Benarkah?" Roni mengangkat lembut dagu Sri, ia menatap lekat-lekat wajah ayu di hadapannya.

"Iya."

Usia Sri memang masih 15 tahun, dan harusnya kembang itu masih berwujud kuncup, belum mekar apalagi putiknya yang telah gugur ke bumi. Tapi, nasib telah merubah segalanya. Sri dewasa sebelum saatnya. Ya, kembang itu layu sebelum mekar. Kerasnya hidup telah mengajarkan dia menjadi mandiri, sejak bapaknya masih hidup pun Sri sudah mandiri dan matang dalam berpikir. Itulah yang membedakan Sri dengan anak-anak sebayanya.

"Andai Riska masih hidup, mungkin ibuku tidak menjadi seperti sekarang." Ucap Roni lirih. Ada gurat duka tergambar jelas di wajahnya.

"Riska? Siapa dia?" tanya Sri penasaran.

"Riska meninggal satu tahun yang lalu, dia adalah adikku. Usianya sama denganmu sekarang."

"Innaa lillahi … kenapa?" tanya Sri lagi.

"Dia diperkosa ketika pulang les."

Deg. Seketika detak jantung Sri terhenti. Bayangan bagaimana Baron merenggut kesuciannya kembali menjejak dalam benaknya. Dendam, amarah telah pun merasuk dalam akal warasnya. Andai waktu dapat diputar kembali, dia tidak akan membiarkan Baron menghisap madunya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, malang pun tak dapat dia tolak. 


🍁🍁🍁🍁🍁


Riska adalah bocah periang, pintar, dia jago berbahasa Inggris. Ketika itu dia pulang les sendiri, sementara jarak dari tempat lesnya memang lumayan jauh. Hujan membuat jalanan pun susah untuk dilewati sepeda motor. Nahas, Riska menjadi korban pembegalan. Kemudian dia diperkosa sebelum akhirnya dibunuh dan mayatnya dibuang di semak-semak nan rimbun. Hampir dua hari orang tua Riska mencari, bahkan sudah pun membuat laporan di kantor kepolisian setempat. Dengan kesigapan dari kepolisian setempat yang bergabung dengan warga dan TNI, dalam hitungan jam setelah laporan tersebut mayat Riska pun berhasil di temukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Sementara 2 orang pelaku juga berhasil dibekuk dikediaman masing-masing yang sebenarnya memang sudah menjadi buronan. 

Dari semenjak kejadian itu, bu Asih yang tak lain adalah ibu kandung Riska dan Roni menjadi depresi karena kehilangan anak perempuannya, adik kandung Roni. Sebagaimana ikhlasnya orang tua jika anaknya meninggal dalam keadaan yang seperti itu pastilah sampai kapan pun tidak akan dapat dilupakan, meskipun memang ini sudah menjadi jalan takdir anaknya.


"Itu adalah bukti bahwa Tuhan memang tidak adil pada kaum perempuan!" ucap Sri lirih.

"Istighfar, Neng! Kamu nggak boleh terus-terusan murka pada Tuhan!" Roni kembali menatap wajah ayu yang ada di hadapannya.

"Kenapa? Jika memang Tuhan Maha Adil, lantas kenapa selalu menjadikan kami korban dari kebiadaban laki-laki?" untuk kesekian kalinya tangis Sri pecah.

Kemudian Roni pun hanya diam, mematung. Melihat keadaan Sri yang memang telah membuka kembali ingatannya tentang kejadian yang telah menimpa adik perempuan satu-satunya. Mungkin, inilah alasan terkuat kenapa dia ingin menolong dan melindungi Sri.



Taichung, 4 Oktober 2019

Komentar

  1. Balasan
    1. Masih😂😂 sampai pada akhirnya Sri kembali terjerumus dalam dunia pelacuran. 😂

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer