Sri Part 4



Sementara Sri laksana kerdil yang terkapar pasrah di kamar itu, terkungkung. Bahkan seakan terpenjara dalam pengapnya penyesalan dan kekecewaan. Gumpalan makian dan hujatan terus mendera batin serta akal warasnya.



-----------------------------------------



"Ron, tadi pagi-pagi sekali kamu bawa siapa? Pacar kamu?" tanya Rio, tetangga kontrakan Roni

"Bukan, Bro. Aku aja nggak kenal sama dia," jawabnya.

"Terus, ngapain kamu bawa pulang?" tanyanya lagi. Rio adalah tetangga Roni yang tahu betul sifat dan karakter Roni.

"Ya. Kasihan saja melihat seorang perempuan yang teraniaya."

"Maksud kamu?" tanya Rio semakin penasaran.

Sementara Sri, lamat-lamat mendengar obrolan mereka. Sri semakin mendekatkan telinganya ke arah jendela kamar, berharap dia bisa mendengar lebih jelas obrolan mereka. Masih dengan beribu tanya yang bergelayut di benaknya, ia terus menempelkan telinganya pada jendela. 

"Dia dijual sama bapak tirinya, tadi dia mencoba lari dan kabur dari motel. Aku kasihan sama dia, jadi ya aku bawa pulang saja."

"Gila kamu, Bro. Jangan-jangan itu akal-akalannya saja. Logikanya, kalau cewek udah tahu masuk motel ya berarti nggak benar itu."

"Kita nggak boleh suudzon sama orang, Bro!" ucap Roni sambil berlalu meninggalkan Rio.

Segera mungkin Sri membaringkan tubuhnya di atas kasur yang tidak begitu besar. Sebisa mungkin Sri berpura-pura bahwa dia sedang tertidur pulas dan tidak mendengar obrolan mereka. 

"Kreeekkk …!" dengan pelan Roni membuka pintu dan masuk. "Kamu belum bangun, Neng?" ucapnya.

Sri hanya diam, membenamkan wajah di atas bantal yang sudah lepek dan basah karena air matanya. Tak ada yang bisa Sri lakukan, ia masih dalam kebimbangan serta trauma yang begitu dalam mendera batinnya. Bahkan ia pun tak pernah mengira sebelumnya akan jadi seperti ini nasibnya setelah ia memilih untuk tinggal dengan ibu serta ayah tirinya. Andai dulu dia diam di rumah peninggalan almarhum bapaknya dan mau merawat neneknya di kampung, mungkin Sri masih baik-baik saja. Tidak akan menjadi yang terhina dan kotor.

Sri beranikan diri untuk bangun, kemudian duduk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Roni. Laki-laki yang saat ini ia anggap Malaikat penyelamat. 

"Mas sudah pulang?" tanyanya.

"Sudah dari tadi, Neng. Ini tadi aku beli nasi uduk untuk sarapan."

"Terima kasih, Mas. Tapi aku masih kenyang."

"Kenyang? Memangnya kamu makan apa?" tanya Roni. "Makanlah!" lanjutnya.

Kemudian Sri pun melahap habis satu bungkus nasi uduk. Tiba-tiba saja ada butir bening jatuh di sudut netranya.

"Kamu kenapa, Neng? Kok nangis?" tanya Roni.

"Aku mau pulang ke kampung, Mas."

"Memang kampungmu di mana?" 

"Kampungku di Brebes. Di sana ada rumah peninggalan almarhum bapak yang sekarang ditempati nenek."

"Bapakmu sudah lama meninggal, Neng? Terus ibumu apa tidak mencari?"

Ibu. Ya, seorang perempuan yang telah berkongsi nyawa dengannya yang seharusnya menjadi tempat untuk Sri berkeluh kesah, menyandarkan segalanya, serta tempatnya mengharap tumpah ruahnya welas asih. Namun, kenyataan tidak seperti apa yang Sri harapkan. Seorang ibu yang sudah tidak lagi peduli dengan anaknya, dengan masa depan anaknya. Ah … andai boleh menawar takdir, mungkin Sri akan menolak terlahir dari rahim Lastri, ibunya.

"Ibu? Mmm … aku tidak diinginkannya!" ucapnya lirih.

"Maksudmu?" 

"Ya. Ibu tidak pernah menginginkan kehadiranku, bahkan dia lebih rela ketika aku menjadi mangsa dari suaminya. Tak ada pembelaan sedikitpun untukku," seketika bongkahan air dari netranya tak mampu lagi ia bendung 

Sri menangis sejadinya, seketika hening. Roni pun hanya diam mematung. Seorang ibu yang katanya adalah surga untuk anak-anaknya, seorang ibu yang seharusnya menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya. Tapi, tidak dengan ibunya yang tanpa sedikit saja kekhawatiran kepadanya. Atau mungkin ibunya telah mengganggap Sri mati!

"Maaf Neng! Aku tidak bermaksud melukai hatimu dengan mempertanyakan ibumu."

"Nggak, Mas. Bukan masalah ibuku yang membuatku menangis."

"Lantas, apa yang membuatmu menangis dan berduka?" laki-laki itu semakin tajam menatap seonggok raga yang tengah tersedu.

"Tuhan tidak adil!" ucap Sri murka.

"Astaghfirullah … kamu nggak boleh berkata seperti itu, Neng!"

"Kenapa? Buktinya, Tuhan telah mengambil bapak, kemudian Tuhan membiarkan aku hancur."

"Istighfar, Neng! Tuhan Maha Adil Segala-Nya. Jika hari ini kamu sedang diuji, anggap saja ujianmu itu sebagai pendewasaan diri untukmu!"

"Kalau Tuhan Maha Adil, kenapa Tuhan membiarkan aku hancur dan menjadi kotor?" 

Sejenak Roni bungkam, hening. Tak ada suara yang keluar dari bibir mereka. Sri masih dengan kesedihannya. Sudah tak lagi ada bahagia yang Sri rasakan, baginya dunia ini hanya sebuah lorong gelap yang pekatnya terus menyelimuti raganya. Ketika ia tengah berduka kehilangan sosok seorang bapak, bukan kasih sayang yang ia dapat. Melainkan justru kehancuran masa depan yang harus ia telan.

"Kenapa Mas mau menolong aku yang hina ini? Atau jangan-jangan Mas bersekongkol dengan Baron?" 

"Aku tidak kenal dengan Baron," ucap Roni mencoba untuk menyeka air mata Sri.

"Sudahlah, Mas! Aku tidak pantas ada di sini. Izinkan aku pergi dari sini, terima kasih telah menolongku."

"Neng, kamu tahu kenapa aku mau menolongmu? Aku tidak ada maksud apa-apa juga tidak berharap apa-apa darimu."

"Lalu?" 

"Ya. Sudahlah tidak perlu dibicarakan!" Roni pun bangkit dan menjauh dari Sri.

"Tapi aku perlu tahu maksudmu, Mas!"

Roni hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Sri. Sementara Sri laksana kerdil yang terkapar pasrah di dalam kamar itu, terkungkung. Bahkan seakan terpenjara dalam pengapnya penyesalan dan kekecewaan. Gumpalan makian dan hujatan terus mendera batin serta akal warasnya. 

"Jika mati adalah sebuah pilihan, maka aku akan memilih mati. Ya, mati!" gerutu Sri.



Bersambung


Taichung, 1 Oktober 2019

Komentar

  1. Kita sedang sama2 di odop7, aq grup Tokyo

    BalasHapus
  2. Banyak sekali kisah pilu dr para pendonor negara 😭🙏, salam juga dr Lilis Tokyo

    BalasHapus
  3. Hatiku terpotek-potek baca ini. Jangan mati ya, Sri. Kamu sekuat batu karang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang buk e Kiya, masih panjang sekali lanjutan kisah Sri😆

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer