Sebait Rindu untuk Bapak
Ada rindu masa itu. Iya, ketika aku tinggal di gubug bambu itu. Menunggu bapak yang tengah mengayuh sepeda tuanya, mencari nafkah demi keluarga. Bahkan, sebelum ayam jantan berkokok pun bapak sudah melangkah keluar rumah demi sesuap nasi, berharap siang nanti bapak pulang dengan membawa uang untuk membeli beras dan lauk-pauknya, meski hanya cukup untuk membeli 1 kilo beras, tempe, kecap dan kerupuk saja.
"Mak, aku lapar!" ucapku pada Mamak yang tengah duduk di depan pintu bersamaku menunggu bapak pulang.
"Sabar ya, Nak! Sebentar lagi pasti bapak pulang bawa uang," jawab Mamak menahan bongkahan air agar tidak menganak sungai.
"Mak, bapak lama sekali. Aku lapar," ucap adikku yang sedari tadi memegang perut menanah laparnya.
Hari sudah terik, matahari pun terasa sudah tepat di atas kepala manusia. Namun, sosok bapak yang kami nanti belum juga menampakkan batang hidungnya. Kelaparan masih menjadi selimut paling tebal yang kian menyiksa. Perih gendang rungu mamak ketika mendengar anak-anak menangis, sesak dadanya kala itu. Tapi, dengan kesabaran serta kelembutannya mamak masih terus menyunggingkan senyum yang meneduhkan di depan anak-anaknya.
Berapa menit kemudian, aku melihat sekelebat bayang bapak yang tengah mengayuh sepeda tuanya. Aku bergegas keluar dari rumah dan memastikan bahwa bapak sudah pulang dan bawa uang atau makanan. Dengan senyum riang, aku mendekat ke arah bapak yang tengah kelelahan dengan nafasnya yang terasa berat. Lelah yang aku lihat jelas tergambar di raut wajahnya, aku melihat kaki tuanya gemetar, seakan tak lagi mampu menopang tubuh rentanya.
"Hore ... Bapak pulang ..." aku mendorong sepeda tua bapak dari belakang.
"Bapak bawa apa?" tanya adikku kemudian.
Dengan senyumnya, bapak menurunkan sesuatu yang dibungkus dengan kantong bekas beras bulog. "Kraca (keong; red)," ucap bapak.
"Bapak hari ini ndak dapat uang," lanjutnya.
Kemudian mamak mengambil bungkusan itu dan segera membawanya ke pawon untuk diolah menjadi makanan. Tak lupa mamak pun sudah menyediakan satu gelas teh tawar hangat untuk bapak.
Ada sedih yang jelas kulihat dari nanar mata bapak. Tapi, sebisa mungkin bapak terus memamerkan senyum di depan anak-anaknya.
"Hari ini, kita nunggu mbah ngasih nasi lagi baru kita bisa makan nasi. Dan semoga hari ini mbah ada sisa nasi untuk makan," ucap mamak yang tengah sibuk dengan ilir, mengipas-ngipas tungku agar api menyala.
"Aamiin," ucapku.
"Ban sepeda bapak tadi gembos di tengah jalan, makanya bapak pulangnya agak siang. Tadi nyari-nyari tukang tambal ban tapi ndak nemu," tukas bapak.
"Terus Bapak menuntun sepedanya jauh ndak?" tanyaku.
"Ya, ndak jauh."
"Lah, apa Bapak ndak istirahat dulu?" tanyaku lagi.
"Kalau bapak istirahat ya nanti malah pulangnya sore," ucap bapak.
"Pak, Ri, Komar, sini! Ini kracanya sudah matang. Ayo makan dulu!" teriak mamak dari pawon.
Sesederhana itu kehidupanku dulu, seperti apa yang selalu bapakku bilang bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana apa yang kita makan dan kita pakai, namun rasa syukurlah sebenarnya yang membuat kita merasa hidup bahagia.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pak, apa kabar di negeri seberang sana? Satu harapku semoga Bapak selalu dalam nikmat sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Pak, serangkaian hidup. Setiap kejadian yang menimpa hidup kita, hingga detik ini masih jelas terekam dalam ingatanku. Bagaimana Bapak berjuang demi kami; bergelut dengan waktu, bercucur keringat, kesakitan tak pernah Bapak rasa, bahkan tidak sekali saja Bapak mengeluh. Hingga ketika Bapak menangis pun, bibirmu selalu berkata bahwa Bapak baik-baik saja. Meski aku tahu sebenarnya hati Bapak teriris oleh tajamnya pisau kehidupan. Demi apapun, aku tidak mungkin sanggup menghitung setiap butir keringat Bapak yang membasah di tubuh rentamu ketika mencari nafkah demi mencukupi dan menghidupiku. Semesta menjadi saksi bahwa tumpah ruah welas asih Bapak takkan pernah usai hingga napas terakhir.
Jika dulu Bapak selalu bermimpi, berharap mendapat rezeki banyak. Untuk membelikanku mainan, kemudian Bapak menyusun mainan-mainan itu dengan rapi agar anaknya bahagia, tapi sebenarnya aku tidak butuhkan itu, Pak. Bahagiaku ketika melihat dan mendengar Bapak sehat.
Pak, maafkan anakmu yang hingga detik ini masih belum bisa menjadi anak yang berbakti, yang hingga detik ini pun masih saja menyusahkanmu untuk mendidik cucu-cucumu.
Pak, izinkan anak perempuanmu ini mengutarakan semua lewat tulisan. Meski aku tahu bahwa tidak mungkin Bapak akan membacanya, setidaknya kelak cucumu yang akan membacakannya untuk Bapak.
Terima kasih atas jiwa raga yang Bapak korbankan untukku. Atas do'a dan wejanganmu, hingga aku sanggup melewati setiap fasenya kehidupan meski aku tengah jatuh terjermbab dalam keadaan nol terkecil, dan hingga detik ini aku masih ingat tujuan awalku merantau jauh meninggalkan keluarga. Semua karena nasihat-nasihatmu, Pak.
Pak, biarkan anakmu sekarat sebab merindu. Hingga temu pada akhirnya menyudahi semuanya, kerinduan yang setiap saat mengusik akal warasku, juga derita yang setiap detik membuat netraku beranak sungai.
Terima kasih untuk segala restumu, Pak. Sebab restumu yang selalu menguatkan langkah kaki ini hingga kelak sukses menjadi milikku.
Dari aku, anak perempuanmu di negeri rantau!
Taichung, 6 Oktober 2019



Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.