Resah Seorang Perempuan
Resah Seorang Perempuan
Oleh: Riana
"Apa sudah mantap dengan keputusanmu itu, Din?" tanya Ibu.
"Iya. Dini sudah mantap, Bu."
"Apa tidak sebaiknya kamu pikirkan dulu matang-matang tentang keputusan itu. Perceraian sebenarnya bukan jalan yang terbaik. Kamu juga harus pikirkan masa depan anak-anak, gak boleh egois hanya memikirkan perasaan dan emosi. Jadi pikirkan lagi dengan kepala dingin dan lapang hati!" ucap Ibu kemudian.
Entah … aku sendiri masih dilema. Batin terus berdebat dengan akal waras. Setiap pertengkaran selalunya raga ini yang menjadi korban atas keringanan tangan seorang lelaki yang kusebut suami kala itu. 10 tahun pernikahan, selama itu juga batin dan raga ini selalu saja dideranya. Gumpalan-gumpalan hinaan selalu disuguhkan dan memenuhi gendang runguku.
"Aku juga sebenarnya gak mau perceraian terjadi, Bu. Tapi, rasanya sudah tidak sanggup lagi jika Mas Irsan terus-terusan menyiksa raga dan batin ini."
"Aku lelah, Tuhan!" gumamku dalam hati.
"Jika masih bisa diperbaiki, kenapa tidak diperbaiki saja demi anak-anak kalian. Din?" ucap Ibu lirih.
"Entahlah, Bu. Maafkan aku!"
Ini bukan soal hati, juga bukan tentang kebahagiaan atau masa depan anak-anak. Soal masa depan dan kebahagiaan anak-anak, mungkin aku mampu jika harus berdiri sendiri walaupun hanya dengan satu kaki saja tanpa pegangan yang seharusnya menjadi tiang kekuatan seorang istri yaitu suami. Tapi ini soal harga diri. Ya, harga diri seorang istri yang selalu diinjak layaknya keset yang hanya pantas teronggok di pojokan dapur. Setiap pengabdian tidak pernah sekalipun dihargai.
***
Bermula ketika aku memergoki Mas Irsan sedang mesra-mesraan di telepon, entah siapa yang sedang ia telepon. Tapi, sungguh nyeri sudut hati, panas rasanya gendang rungu ini. Hampir 15 menit pasang telinga mendengar setiap kata yang terucap dari bibirnya.
"Sayang? Siapa yang dia maksud, Ya Allah?" luruh air mata ketika telingaku disuguhkan sebutan itu. Dan lebih menyayat disebutkan pada orang di seberang telepon sana yang aku sendiri pun tidak tahu siapa.
"Muuuaaahh … sampai jumpa Sayang!" kalimat terakhir yang diucap sebelum dia menutup telepon.
Hancurluluh perasaanku. Sesak dada seakan langit runtuh menindih paksa tubuh ini. Aku bergegas masuk ke dalam kamar, menyembunyikan segala lara di balik bantal. Tak lama Mas Irsan pun masuk, duduk di bibir ranjang. Kemudian ia baringkan tubuhnya membelakangi. Sudah hampir 5 pekan dia tidak menyentuh, bertanya saja seakan sudah enggan. Aku hanya dibiarkan teronggok dalam kehampaan, batin ini meronta. Menangis dalam pilu.
"Mas, apa kamu tidak merindukan aku?" tanyaku menyentuh pipinya.
Tak sepatah kata yang dia ucap. Diam dan kemudian terus menjauh dari seonggok raga yang tengah kehausan merindu kasih sayangnya juga haus akan sentuhan yang dulu selalu ia berikan kala malam dalam peraduan. Dulu dia selalu melucuti pakaianku sebelum mata terpejam, napas pun selalu beradu dalam surga yang penuh kenikmatan. Hingga kemudian dua raga terkapar lemah tak berdaya, hanya sisa napas yang masih tersengal menjadi saksi bahwa lava telah pun meletus dari birahi dua anak cucu Adam.
"Sudah lama juga kita tidak melakukan itu, Mas. Apa malam ini kamu tidak menginginkan aku?" tanyaku lagi. Bahkan aku tidak peduli ketika dia sengaja menjauhkan posisinya. Biarlah harga diri ini terinjak, bukankah sebuah surga ketika seorang istri menawarkan diri untuk disetubuhi kepada suaminya?
"Aku cape. Ngantuk!" jawabnya kasar.
"Ya Tuhan … salah apa aku ini?" batinku menjerit, meronta dengan sikap dinginnya.
Malam berlalu, mentari telah menyapu malam yang gelapnya selalu menghadirkan gejolak hasrat dalam diri, dan kemudian hitamnya telah berhasil membuat batin ini merintih. Ya, malam selalu saja menyiksa raga ini.Ketika hasrat kian memuncak, bahkan aku hanya bisa larut dalam khayalan. Kini tak lagi ada ketakutan sebab malam telah berganti pagi. Pagi adalah waktu yang menggembirakan untuk aku, bisa berkumpul teman di tempat kerjaan. Bersenda gurau hingga kesedihan pun lenyap, tak lagi ada air mata jika sudah berada di tengah-tengah sahabat yang selalu memberi dukungan.
"Din, jadi kamu sudah benar-benar matang dengan keputusanmu itu?" tanya Risna, sahabatku.
"Iya, Ris." Jawabku lirih.
"Kamu sudah yakin, Din? Apa sudah siap dengan status janda yang akan kau sandang setelah bercerai?" timpal Dita.
"Siap gak siap, aku harus siap. Harus bisa menerima semua resikonya nanti."
"Iya. Aku tahu sahabat yang satu ini emang super keren, pasti kuat dalam segala hal. Tapi apa kamu gak kasihan sama anak-anak? Mereka pada akhirnya yang menjadi korban atas ego kalian, Din." Kembali Risna bersuara.
"Ini bukan soal ego, Ris. Tapi kadang kita sebagai seorang perempuan juga harus bisa memilih mana yang menjadi hak hati kita. Percuma bertahan sendiri, jika sebelah kita memilih untuk berlalu meninggalkan semua." Mataku berkaca-kaca. Ada mendung yang sedari tadi aku sembunyikan di hadapan sahabatku, aku tidak ingin terlihat cengeng di depan mereka.
"Apapun yang menjadi keputusanmu, kami sebagai sahabat hanya bisa mendoakan semoga itu jalan yang terbaik untuk kalian, Din." Kemudian Dita mendekat, menarik tubuhku dalam pelukannya.
Entah … bagaimana rasanya bercanda dengan suami. Berkumpul dengan anak-anak dan suami di ruang TV, atau sekedar menikmati secangkir kopi di teras kala senja menyapa, juga cemilan yang selalu aku buat. Atau ketika hujan membasahi pelataran rumah, bersamanya menghidu petrichor dan menghitung setiap rintik hujan yang turun. Iya-dulu, ketika hati Mas Irsan belum tersesat pada perempuan lain. Kehadiran perempuan bernama Laras, teman satu kantor Mas Irsan itu seakan menjadi petaka dalam biduk rumah, menyapulenyapkan setiap kenangan-kenangan indah kami hingga pertengkaran demi pertengkaran selalu menjadi bumbu yang paling pahit dan telah menghilangkan segala rasa.
"Kenapa harus Kau uji aku dengan kehancuran ini, Tuhan?" batinku menjerit.
Lalu, aku memutuskan pulang ke rumah orang tua dengan membawa anak-anak. Mungkin jalan yang aku pilih memang salah, tapi aku juga punya hak atas keputusan untuk hati ini. Hingga perpisahan menjadi pilihan terakhir dalam hubungan, menjadi jawaban atas segala keresahan yang selama ini terus menyiksa.
"Aku mau mengurus perceraian kita, besok aku akan ke kantor Pengadilan Agama. Anak-anak biar ikut dan menjadi hakku!" tulisku dalam sebuah pesan.
"Oke!" balasnya singkat.
Rupanya benar, sedikitpun tak ada penyesalan di hatinya. Atau mungkin kepergianku dan anak-anak justru sebuah kebahagiaan untuknya.
"Laki-laki macam apa kamu, Mas? Jahat sekali kamu memperlakukan aku dan anak-anak?" aku bergumam dalam hati. Perih!
***
Perceraian adalah sebuah jawaban terakhir yang rupanya sudah lama menjadi keinginan mas Irsan. 10 tahun pengabdian hanya menjadi kisah pahit dan mungkin sudah seharusnya aku membumihanguskan semua bayangan kisah silam agar lara tak selalu menjejak sudut hati ini. Agar degup-degup jantung kembali menjadi normal, tak lagi ada sesak yang menyiksa rongga pernapasanku.
Perceraian telah menyapulenyapkan segalanya: tawa anak-anak, pertemuan anak-anak dengan ayahnya. Karena selang berapa bulan sejak perceraian itu memang Mas Irsan melangsungkan pernikahan dengan seorang perempuan yang jelas-jelas telah menikamku dengan sebilah belati tepat di jantung. Hingga kemudian tak lagi ada waktu Mas Irsan untuk menengok anak-anak.
Di satu sisi telah bangkit seorang perempuan yang kini berubah menjadi monster, kuat bahkan lebih kuat dari baja. Tapi di sisi lain, ada duka yang setiap saat memaksa netra terus mencipta hujan ketika melihat dan mendengar anak-anak menangis sebab merindukan sosok ayahnya.
Perceraian kini benar-benar telah menghancurkan tawa anak-anak, arogansi telah bersorak riang atas segala duka yang tercipta. Tapi, apakah salah jika aku pun mempertahankan hak hati ini untuk tidak terus-terusan didera lara?
"Ya Tuhan, ampuni hamba!"
Taichung, 25 Oktober 2019



Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.