Nenek Lin

Nenek Lin
Oleh: Riana



Desember 2012 adalah kali pertama kuinjakkan kaki di bumi Formosa ini, aku tiba di depan rumah mewah yang sangat besar, 4 lantai dengan taman kecil dan kolam renang di belakang rumah itu. Aku diantar oleh Laosh Warti yang tak lain adalah penerjemah dari Agency di sini. Aku dipersilahkan masuk oleh Nyonya Ahua (majikanku)  anak menantu perempuan dari Nenek Lin yang akan kujaga dan rawat selama aku disini. Kami pun berkenalan satu sama lain. Kemudian ia mengajakku ke kamar Nenek Lin untuk memperkenalkan pada Nenek Lin, juga untuk menaruh barang bawaan. Nyonya Ahua memberikan kertas rincian kerja padaku, kertas itu diketik menggunakan bahasa Inggris, sehingga memudahkan aku untuk memahami pekerjaan. Tapi yang lebih utama adalah menemani nenek Lin, serta menyiapkan segala keperluannya. Menemaninya ke rumah sakit juga.

Nenek Lin ketika itu berumur 76 tahun, dia masih bisa berjalan, hanya sedikit ada masalah dengan pendengaran dan mengharuskan aku meninggikan suara setiap kali berbicara dengannya. Nenek Lin mulai mengajakku berkeliling rumah, dari lantai bawah tanah yang kata Nenek Lin disitu adalah tempat untuk olahraga, karena aku pun melihat alat olahraga terpampang rapi di ruangan itu. Kemudian Nenek Lin mengajakku untuk ke luar rumah, melihat taman kecil di belakang rumah. Beberapa mobil pun terparkir rapi di bagasi. Halaman yang sangat luas seperti lapangan. Setelah muter-muter ke taman, kami pun naik ke lantai 2 yaitu kamar anak-anak Nenek Lin.

“Anna, ini kamar Nyonya Any. Anak perempuanku yang sekarang ikut suaminya ke China, dia pulang kesini hanya 1 kali dalam 1 tahun yaitu pas Imlek.” Ucapnya sambil memegang foto dengan figura yang begitu indah.

Ada gurat sedih yang tergambar di raut wajahnya, sepertinya Nenek Lin begitu merindukan Nyonya Any, satu-satunya anak perempuan Nenek Lin. Kemudian Nenek Lin membawaku ke lantai 4, di ruangan itu adalah tempat khusus untuk sembahyangan keluarga bermarga Lin itu. Aku hanya melongo terkagum-kagum, rumah sebesar ini dengan gaya dan skala arsitek yang unik dan berkesan mahal, tapi harus aku tempati berdua saja dengan Nenek Lin.

Ini adalah hari pertamaku kerja, Nenek Lin mengajariku banyak hal, memasak kesukaan dia. Mengajariku bagaimana membersihkan ruangan tamu yang didekorasi mewah dan klasik. Aku memang baru pertama bertemu dengannya, tapi ada kehangatan serta keakraban diantara kami. Dia begitu sabar mengajariku, layaknya orang tua mengajari anaknya sendiri. Sesekali dia pun tersenyum ketika aku salah mengerjakan sesuatu. 


******

Malam pun menjelma, gelap menutup seluruh warna biru di langit dan menggantinya dengan warna hitam pekat, Nenek Lin menyuruhku istirahat lebih awal. Aku pun bergegas untuk tidur, kututup semua jendela dan pintu di lantai 1, kemudian berpamitan untuk tidur.

"Amma, saya tidur dulu. Selamat malam," ucapku menyunggingkan senyum.

Dia pun balas menyunggingkan senyumnya untukku. “Malam, Anna. Cepat kamu pergi tidur!”

Malam semakin larut, namun mata ini belum juga terpejam. Sebenarnya ada rasa rindu untuk berkumpul dengan anak-anakku di rumah. Kubuka selimut, kulihat raut wajah Nenek Lin, wajah yang sangat cantik dalam tidurnya. Rinai hujan pun menari-nari di tengah gelapnya malam, suara gemuruh angin membuatku semakin tak bisa memejamkan mata, berkecamuk rindu yang kian membuatku melara.


******

Malam pun berlalu, berganti dengan pagi yang cerah, secerah harapanku ketika masuk ke rumah ini. Kubuka jendela, tak lupa pagi ini aku mengucapkan selamat pagi pada Nenek Lin, serta menyiapkan sarapan pagi untuknya. 

Pagi ini adalah jadwal pertamaku ikut Nenek Lin ke rumah sakit untuk cuci darah. Nenek Lin memang terlihat masih sehat, tapi dia harus ke rumah sakit tiga kali dalam seminggu untuk cuci darah. Sampai di rumah sakit ia pun langsung masuk ke ruangan untuk cuci darah. Betapa ngerinya ketika aku melihat Nenek Lin cuci darah, aku bisa merasakan betapa sakitnya. Tapi anehnya, seperti tak ada sedikit saja kesakit yang tergurat di wajah ayunya. Mungkin karena ia pun sudah terbiasa dengan hal itu. Selesainya Nenek Lin cuci darah, kami pun pergi ke food court di rumah sakit itu. Dia mengajakku makan siang.

“Anna, ini daging babi. Kamu tidak boleh makan, jadi kamu makan sama telur dadar saja ya sama sayuran!” ucap Nenek Lin menunjuk daging babi.

“Baik, terima kasih.” Aku pun mengangguk dan mengambil 1 biji telur dadar yang sudah dikasih kecap asin dan sedikit sayur kol yang hanya direbus lalu dikasih minyak wijen dan sedikit garam.

Nenek Lin pun membayar semua makanan, dia memberiku uang 100 NTD untuk membeli minum.

“Anna, kamu beli minum sendiri. Kamu tidak usah sungkan, beli apa yang kamu mau!” disodorkannya uang 100 NTD padaku.

“Iya Amma, terima kasih.” Ucapku sambil meraih uang itu.


******


Seiring waktu berjalan, kami pun semakin akrab. Kami sering berbagi cerita tentang kehidupan kami masing-masing. Walaupun kadang ia masih suka melarangku untuk bermain handphone, tapi terkadang juga ia tidak melarangku untuk beribadah. Tapi Nenek Lin sangat perhatian, ia selalu menyuruhku jangan sampai telat makan. Kalau telat makan ia langsung marah-marah. Itulah bentuk perhatiannya padaku. Hingga aku pun sudah menganggapnya seperti nenekku sendiri, begitupun dengannya. Menyayangiku layaknya cucu sendiri. Sebab, Nenek Lin selama ini kesepian dan merasa sendiri setelah kepergian suaminya. Anak-anak, menantu dan cucu-cucunya punya kesibukan sendiri. Bahkan cucu Nenek Lin ada 5 orang yang melanjutkan studinya ke Amerika. Hanya hari-hari tertentu, atau hari sembahyangan besar, seperti hari raya Imlek, mereka pasti berkumpul di meja makan untuk makan besar.

Tak terasa aku pun sudah hampir 3 bulan merawat Nenek Lin. Pagi-pagi aku dikejutkan suaranya yang memekik memanggilku. Aku bergegas lari, karena waktu itu aku sedang membuatkan jus apel untuk sarapan Nenek Lin.

“Anna, cepat kemari!” suaranya seperti menahan kesakitan.

“Iya, Amma.” Aku pun bergegas lari untuk menghampirinya.

Namun sayang, ketika aku sampai di kamar, Nenek Lin sudah tak sadarkan diri. Dengan kepanikan yang begitu hebat, aku pun langsung menelpon anak menantu Nenek Lin. Kutekan nomor di telepon rumah nenek Lin, kemudian kutekan tombol untuk memanggil. 2 Kali tak ada jawaban, mungkin mereka belum bangun, pikirku. Dan ketiga kalinya aku mencoba menelpon Nyonya Ahua. “Alhamdulillah!” gumamku dalam hati.

“Hallo Nyonya,” sapaku pada nyonyaku di seberang telepon.

“Hallo Anna, ada apa?” jawab Nyonyaku.

“Nyonya, maaf! Nenek Lin jatuh dari tempat tidur. Dia sekarang tak sadarkan diri.”

“Hah, kenapa dengan nenek. Anna? Kamu tunggu sebentar, saya segera telepon mobil Ambulance!” suaranya memekik penuh panik.

Ada rasa takut yang begitu besar. Aku takut kalau-kalau majikanku marah. Selang beberapa menit mobil Ambulance pun tiba. Dan bergegas merujuk Nenek Lin ke rumah sakit. Selama perjalanan aku pun tak henti-hentinya berdoa semoga tak ada hal buruk menimpa Nenek Lin. Kami sampai di bagian depan rumah sakit, tim medis segera membawa Nenek Lin ke ranjang pasien. Aku melihat Nyonya Ahua dan suaminya berada di bagian administrasi untuk mendaftar. Tak lama Nenek Lin pun berbaur dengan pasien lainnya, mengantri di bangsal IGD menunggu prosedur untuk menjalani pemeriksaan. Hampir 3 jam menunggu hasil setelah melakukan berbagai pemeriksaan, dokter pun datang lalu memberitahu bahwa Nenek Lin harus dirawat di ruang ICU. Aku melihat ada gurat kecemasan di wajah majikanku, kemudian mereka pun menyetujui ucapan dokter demi kesembuhan ibunya. Tuan pun kembali ke bagian administrasi untuk mengisi dokumen.


******


Sudah 1 bulan 17 hari Nenek Lin terbaring lemah di ruang ICU, ia masih belum terbangun juga dari tidur panjangnya. Setiap hari Nyonya Ahua mengajakku melihat Nenek Lin, hampir setiap hari pula air mata ini menetes melihat keadaan Nenek Lin. Dengan selang di sekujur tubuh, serta jarum infus di sana sini. Sesekali Nyonya Ahua melirikku, ia tahu kalau aku selalu meneteskan air mata setiap menjenguk ibu mertuanya.

“Anna, kamu tidak usah sedih. Jangan menangis! Nenek tidak apa-apa. Ia hanya sedang beristirahat,” ucapnya memberiku kekuatan.

Aku hanya tertunduk, diam seribu bahasa. “Iya Nyonya.”

Jam besuk di ruang ICU telah pun habis. Kemudian Nyonya Ahua mengajakku ke rumah Nenek Lin di Sanxia, karena selama Nenek Lin dirawat, aku pun tinggal di rumah Nyonya Ahua. Aku berkeliling di taman, mengedarkan pandangan ke setiap sudut taman, duduk sejenak di pinggir kolam ikan. Ada rasa rindu yang tak bisa kuungkap. Aku merasa kehilangan sosok Nenek Lin yang selama ini begitu baik dan sabar.

Amma, aku berharap semua akan baik-baik saja. Lekaslah bangun dari tidur panjangmu! Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Banyak air mata yang telah tertumpah selama 1 bulan 17 hari. Ada banyak kejadian yang aku alami selama kau tertidur. Bangunlah!”

Lamunanku terhenti ketika suara Nyonya Ahua memanggil, aku pun bergegas menemuinya yang sudah menunggu di bagasi rumah Nenek Lin.

“Iya Nyonya. Apa benar barusan Anda memanggil saya?”

Nyonya Ahua pun membuka pintu mobilnya. “Iya Anna, barusan tuan telepon. Kita disuruh kembali ke rumah sakit sekarang juga.”

Sepertinya ada sesuatu hal terjadi pada Nenek Lin. “Nenek kenapa, Nyonya?”

“Belum tau pasti, tapi tuan menyuruh kita untuk segera ke rumah sakit.” Ucapnya penuh kepanikan.

Dan kami pun segera meninggalkan rumah Nenek Lin. Nyonya Ahua melaju mobilnya dengan kencang.

“Semoga tak terjadi sesuatu yang buruk pada Nenek Lin.”


*****


“Anna, dokter bilang bahwa nenek hari ini sudah sadar. Sudah boleh pindah ruangan biasa, tapi tidak di rumah sakit ini.” Ucap anak menantu Nenek Lin.

“Terus nenek mau dipindah kemana, Nyonya?” tanyaku.

“Nenek Lin akan kami pindahkan ke Country Hospital di Rennai, rd. Dekat dengan rumah kami,” jawab Nyonya Ahua sambil membereskan barang-barang Nenek Lin.

Bekerja merawat orang tua, terlebih jompo yang sudah tak bisa apa-apa. Bahkan selang disana-sini, untuk makan pun harus menggunakan selang sonde. Hampir 3 tahun aku menjaga Nenek Lin, membantunya sedot dahak dengan mesin sedot dahak, membantunya lap badan, 2 jam sekali harus bantu dia balik badan. Belum lagi yang harus mengurus kotoran dia, harus bantu dia buang air kencing karena memang untuk kencing pun harus dibantu dengan selang kencing. Dan itu bukan hal yang mudah karena sebelumnya aku pun tak pernah sekolah kebidanan atau keperawatan. 
Namun, seiring berjalannya waktu aku terbiasa dengan semua pekerjaanku.


******


11 November 2014, aku tidak pernah menyangka bahwa senyumnya kala itu adalah senyuman terakhir yang ia hadiahkan di malam hari jadiku. Aku melihat senyum yang sangat ramah, penuh makna seakan ada kedamaian yang ia rasakan ketika kupeluk tubuhnya hingga ia terlelap tidur, tidur untuk selamanya.

Amma, malam ini adalah malam ulang tahun saya. Beri saya satu senyuman yang indah sebagai hadiah!” ucapku kala itu sambil memeluk erat tubuh rentanya.

Aku tahu, dia tak mampu lagi untuk mengucap kata-kata, sebab di tenggorokannya pun terpasang selang untuk sedot dahak. Namun ada senyum indah yang ia pamerkan di depanku, senyuman itu seakan sebuah kebahagiaan untuknya. Tak terasa buliran bening pun membasah di pipiku.

Pukul 01.00 dini hari waktu Taiwan adalah rutinitasku, dimana aku harus bangun untuk membantunya balik badan serta membantunya menyedot dahak menggunakan mesin sedot dahak. Saat itu, semua masih baik-baik saja, meskipun aku merasa ada keanehan di kamar yang kami tempati, hawa dingin seakan mengusik dan memaksa bulu kudukku untuk bangun, ada aroma yang sedikit mistis, menurutku.
Namun, aku melihat Nenek Lin seakan tidak ada keganjalan sama sekali.
Kutatap wajah Nenek Lin pun tidak ada yang aneh meskipun ada sedikit lelah yang tergurat di wajah putihnya.

“Aaaah … ini hanya perasaanku saja, semua akan baik-baik saja kok. Dan besok pagi pun Nenek Lin akan kembali menyunggingkan senyumnya padaku.” Gumamku dalam hati.

Dan aku pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, seperti biasa aku kerjakan salat sunah Tahajud. Tepat pukul 02.30 waktu Taiwan, saat aku tengah membaca Al-Qur'an, tiba-tiba mesin nafas Nenek Lin berbunyi sangat kencang. 
Ada perasaan panik dan takut, aku pun bangun, bergegas lari dengan mukenah yang masih kupakai untuk memanggil perawat.

"Suster, tolong lihat Amma sebentar!" ucapku pada perawat.

Kemudian dua orang perawat pun berlari menghampiri Nenek Lin. Mereka terlihat panik, seakan ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada Nenek Lin.

“Anna, cepat kamu telepon majikanmu,” kata salah satu dari perawat itu.

“Baik Suster.” Jawabku.

Dan aku segera menelpon anak laki-laki Nenek Lin. Selang berapa menit mereka  pun tiba di kamar 305, karena kebetulan rumah mereka tidak begitu jauh dari rumah sakit dimana selama hampir 3 tahun aku merawat dan menjaga Nenek Lin. Seketika menantu Nenek Lin menghampiriku dan membisikan sesuatu kepadaku.

“Anna, kamu tidak usah takut, tak perlu khawatir! Jika nanti kamu pulang, kami akan memberimu uang untuk beli tiket pesawat dan untuk biaya sekolah anakmu," ucap perempuan berambut ikal itu yang tak lain adalah anak menantu Nenek Lin.

Entah, harus berkata apa. Aku hanya bisa menikmati rasa asin sebab tetesan air dari mataku yang sesekali masuk dalam sudut bibirku.
Kupeluk erat tubuh perempuan yang kupanggil  Nyonya, pun sesekali dia menyeka butir bening yang menetes dari sudut mataku.

Banyak hal yang aku tahu dari Nenek Lin, seperti apa yang pernah ia katakan sebelum ia terbaring tak berdaya seperti itu.
Bahwasanya, harta bukanlah jaminan kebahagiaan untuk seorang perempuan, seorang istri dan seorang ibu. Semua butuh uang, tapi uang tidak bisa membeli semuanya, termasuk kebahagiaan.
Bahagia berkumpul dengan keluarga, bisa bercanda tawa, meski hanya sekedar menikmati secangkir kopi di teras rumah kala senja mulai memerah. Meski hanya menikmati kue dan secangkir teh ketika rinai hujan menari dengan indahnya di pelataran rumah, menikmati wangi aroma tanah yang basah karena tersiram hujan.

Nenek Lin sudah tenang dalam tidur panjangnya, sudah hampir 5 tahun ia pergi meninggalkan dunia ini. Tak lagi ada kesakitan yang mendera tubuhnya yang harus tercucuk jarum infus dan selang.

Amma, terima kasih untuk segala yang pernah kau ajarkan padaku. Kita pernah bersama, di Villa 4 lantai yang hanya kita tempati berdua, kita pun pernah menangis bersama. Ketika kau lihat aku menangis sebab merindukan anak-anakku, kau pun ikut menangis. Aku merindukanmu, sungguh aku merindukan kebersamaan kita dulu.”


Taichung, 13 Oktober 2019

Komentar

  1. Beliau neneknyg baik 😊
    Btw, rumah 4 lantai apa ga cepeknitu bersih2nya yaa, bayangin aja aq wes capek 🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dikerjain tiap hari ya capek setengah hidup, Mak😂 Alhamdulillah seminggu dua kali beres2 tapi itu juga ada yang bantu, majikanku bayar orang buat bantu aku beres2

      Hapus
  2. Bisa banget ya mb riana... Keren...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer