Maaf, Kumenolak Berpoligami






Mungkin, sebagian orang menganggap bahwa cinta hanyalah tentang ungkapan rasa sayang lalu akan berakhir kapan saja ketika rasa sayang telah memudar. Namun bagiku, anggapan itu terlalu picik. Bukankah Tuhan memberikan rasa cinta pada setiap hamba-Nya agar bisa saling mengasihi selama hidupnya, memberikan warna serta tanggung jawab yang harus diperjuangkan satu sama lain yang telah berkomitmen untuk saling setia dalam cinta. Menjaga ikrarnya dalam hubungan.

Ada pun yang beranggapan bahwa cinta itu gila. Sebenarnya yang gila itu cinta atau tuannya yang ia singgahi? 

“Dan, jika kita tahu endingnya akan seperti apa, jika kita tahu bahwa lara yang akan kita rasa, sanggupkah kita mengakhiri segalanya saat sedang indah-indahnya?” ucapku pada Mas Firman.

Mas Firman adalah teman seangkatan saat aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kami memang tidak pernah satu kelas, tapi aku sering satu rombongan dalam bersepeda ketika berangkat atau pulang sekolah dengannya, karena kebetulan rumah kami satu arah. Bermula ketika alumni seangkatanku akan mengadakan reuni akbar. Aku pun kembali bertemu dengannya dalam grup alumni yang dibuat oleh teman seangkatan. Awalnya memang biasa saja, meski saling berkirim pesan pun hanya sebatas bertanya kabar. Aku pun tak ada perasaan apa-apa, karena memang bagiku jatuh cinta bukan hal yang mudah. Aku sangat pemilih dalam urusan asmara, apalagi setelah aku gagal dalam berumah tangga. Seakan tak ingin lagi kubuka hati untuk makhluk yang disebut lelaki.

Namun, sepertinya Mas Firman kekeh pada perasaan dan niatnya. Sebenarnya, aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Yang mulanya hanya mengagumi, lama kelamaan tumbuh rasa sayang. Tapi aku sadar bahwa Mas Firman sudah berkeluarga. Sebuah dilema besar yang membuatku merundung, aku harus terjebak dalam cinta yang salah. Aku mencintai seorang imam dari seorang makmum. Aku berharap pada seorang suami dari wanita lain. “Tuhan … ampuni aku!"

“Dik, bukankah dalam agama kita pun diperbolehkan untuk berpoligami?” ucapnya meyakinkanku.

“Memang benar Mas, tapi aku tidak ingin menyakiti wanita lain. Aku tidak ingin menjadi benalu dalam kebahagiaan kalian.” Sanggahku menolak pernyataan mas Firman.

Sejenak hening, tak sepatah kata yang mas Firman ucap dari seberang telepon. Aku pun diam tak ingin berucap.

“Dan bukankah menikahi seorang janda yang punya anak itu termasuk pahala? Sebab meringankan beban seorang ibu yang sedang berjuang sendiri menafkahi anak-anaknya?” Mas Firman semakin meyakinkanku.

“Mas, bukankah memang sudah ada sosok yang lebih menjanjikan untuk kebahagiaanmu, bukankah  sudah ada tutur yang lebih lembut dan menjanjikan surga untukmu, dan bukankah sudah ada kesetiaan yang menantimu dengan senyum kebahagiaan. Lantas, untuk apa Mas mencoba untuk menjadi penghianat?” ucapku lirih.

Seketika, mas Firman diam. Tak sepatah kata yang ia lontarkan kembali untukku. Hening.

“Tuuuut ...” panggilan telepon pun terputus.

Aku tahu mas Firman kecewa. Tapi ini adalah keputusan terbaik yang aku ambil. Kekecewaan biar menjadi pelajaran hidup yang berharga. Sebab, menjadikan seseorang penghianat bagiku adalah sebuah kesalahan terbesar. Aku tidak boleh larut dalam manisnya dosa. Biarlah perasaan ini pun akan terhapus seiring berjalannya waktu. 



🍁🍁🍁🍁🍁



Sudah hampir satu pekan sejak kejadian itu, telepon genggamku senyap. Tak seperti biasanya yang Mas Firman selalu berkirim pesan meski sekedar bertanya kabar, atau sekedar mengingatkan aku untuk makan dan salat. Terasa ada yang hilang. Namun, aku pun harus menahan semua gejolak yang mendera rasa dan ragaku. 

Rindu. Ya, tepatnya seperti itu. Kini, rindu semakin membuncah menguasai hati dan pikiranku, sedang aku tak ingin menjadi penghancur kebahagiaan orang lain, aku tak ingin menjadi duri dalam daging. Aku tidak ingin melakukan dosa manis itu dan aku tidak mau terjerembab pada dosa yang hanya akan menghadirkan nista dalam liku hidupku. Kutatap bolak-balik benda pipih berwarna silver, namun hasilnya masih nihil. Tak ada satu pesan pun masuk dari kontak yang bernama Mas Firman.

Kuberanikan diri untuk terlebih dahulu memberi kabar, meski sebenarnya ini bukanlah sifatku. Aku paling tidak mau dan tidak suka untuk menghubungi seorang lelaki terlebih dahulu.

“Mas, apa kabar? Sudah sepekan tidak ada pesan atau panggilan masuk dari Mas. Mas marah padaku?” secarik pesan lewat aplikasi WhatsApp.

Lama sekali tak ada jawaban, pikiranku sudah tak karuan. Sudah hampir 5 jam aku menunggu balasan. Putus asa yang kini aku rasakan. Serasa ingin kulempar jauh-jauh androidku.

“Dreeed ….” Notif pesan masuk mengejutkanku.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku!" balasnya dingin.

Seakan tak percaya dengan balasan yang Mas Firman kirimkan. “Sedingin ini? Sejahat itukah aku?” aku mulai memaki sendiri.

“Aku minta maaf jika keputusanku melukai perasaanmu, Mas. Tapi bukan berarti Mas bisa seenaknya seperti itu ke aku. Salah jika seorang wanita menampik perasaan seorang lelaki yang telah pun beristri? Salahkah jika aku pun mendustai diri sendiri untuk tidak larut dalam perasaanku? Dan, terima kasih telah membuatku hampir sekarat sebab menahan rindu hingga sepekan.” tanpa sadar, ternyata aku pun mengutarakan perasaanku. Luruh air mata kala itu.

“Maaf Dik, mas gak ada maksud membuatmu terluka. Iya mas akui kalau mas salah. Tapi, apa salahnya jika kita mencoba untuk menyelami perasaan kita? Mas benar-benar telah jatuh dalam cintamu, Dik.” Balasnya.

Entah, apa yang harus aku ketik untuk kembali membalas pesan. Antusiasme seorang prajurit TNI telah meluluhlantakkan perasaanku. Senyumku mulai mengembang, seakan melambung di langit ketujuh. Dadaku kian gugup, detak jantungku semakin tak karuan. Bahkan, cinta pun semakin tak tahu diri.

“Tuhan, ampuni aku jika aku telah menyakiti perasaan saudari muslimahku, meskipun dia tidak mengetahuinya.” Gumamku dalam hati.



🍁🍁🍁🍁🍁



Seiring berjalannya waktu, kembali aku tersadar dengan apa yang telah kulakukan. Seakan semua telah menghilangkan akal warasku. Cemburu kian menjadi candu. Aku marah ketika Mas Firman tak menghubungiku, sebab dia pun sedang menghubungi istrinya di Jawa, sedang Mas Firman sedang bertugas di Atambua ketika itu.

Entah sudah berapa pekan, mas Firman pun jarang sekali menghubungi aku dengan alasan sibuk atau tanggung jawab pekerjaan yang membuatnya tidak bisa menghubungiku. Aku semakin muak dengan keadaan seperti ini. Seakan-akan aku hanya dijadikan persinggahan sesaatnya saja. Dia mencariku ketika dia merasa kekosongan, atau mungkin dia tengah jemu dengan istrinya.

Setelah lama tak ada komunikasi, aku pun kembali membuka obrolan lewat pesan. Memutuskan segala kesalahan, dan seharusnya dari dulu aku meninggalkannya. Menghilang.

“Aku sadar bahwa apa yang kita lakukan adalah kesalahan terbesar. Kita menyakiti perasaan orang lain meski dia tak tahu yang sebenarnya. Aku seakan tak ada harga dirinya sama sekali ketika aku merengek manja, memintamu untuk menghubungiku. Dan aku sadar, bukan aku yang Mas mau. Tapi nafsu semata yang Mas harapkan. Aku minta maaf! Ini saatnya kita mengakhiri perasaan terkutuk kita. Masih banyak tanggung jawab yang harus aku pikirkan, masih ada yang lebih penting dari hubungan kita yang hanya akan menyesatkan kita. Pun dengan Mas, masih ada seseorang yang lebih berhak dan seharusnya Mas membahagiakannya, bukan malah mengkhianatinya.” 

Tak terasa, mendung pun tergambar di wajahku  Dan aku semakin tak bisa menahan bongkahan hujan untuk tak turun membasahi pipiku. “Kali ini, biarkan aku sendiri! Mencipta bahagia semampuku meski tanpa seorang pendamping.”

Semoga tidak akan pernah ada lagi Mas Firman lainnya yang hanya akan datang menggores perih di sudut hatiku.


Taichung, 7 Oktober 2019

Komentar

  1. Sayangnya tak semua wanita memiliki rasa empati untuk tidak menyakiti wanita lainnya.

    Padahal setegar-tegarnya wanita tetap terluka bila cintanya dikhianati.

    Keren Mbak!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teh, banyak sekali wanita yang hanya menomor satukan ego tanpa memikirkan perasaan sesamanya

      Hapus
  2. Poligami memang diperbolehkan, tapi banyak sekali syarat-syaratnya klu gak bisa adil juga susah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin, dengan catatan jika si lelaki mampu dalam segala hal dan tanpa harus bermain petak umpet ya😊

      Hapus
  3. Akhirnya si wanita memantapkan diri..endingmya bagus untuk saya, hehehe. Semangat menulis ya kak...

    BalasHapus
  4. Masing-masing dengan prinsipnya, dan bebas untuk menerapkan. Menolak "berpoligami" bukan berarti menolak "poligami". Mantap mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener Mbak, setiap pemikiran berhak dengan pilihan masing2😊, terima kasih Mbak

      Hapus
  5. cinta itu kadang memang tak bisa dirasionalkan,tapi hati tetap bisa untuk diyakinkan

    BalasHapus
  6. Sebuah keputusan yang sulit,tapi aku senang membacanya ,,,..sesulit apapun keputusan tetap diambil,
    Smoga diberikan yang terbaik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, terima kasih Mbak sudah mampir😉

      Hapus
  7. Keyen.....
    Mampir ka ke blog ku

    BalasHapus
  8. Ikut terbawa ke ceritanya.. Keren kak.

    BalasHapus
  9. Seringnya tergoda oleh perasaan memang. Smoga kita para wanita bisa menjaga perasaan selalu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer