Kisah Emak Zaman Old
Oleh: Riana
Waktu begitu cepat berlalu, nge-ODOP juga udah masuk pekan ke 7. Itu artinya tinggal satu pekan lagi. Nah, bicara tentang nge-ODOP, aku sebenarnya sudah kehabisan ide juga kata-kata buat bikin tulisan. Cerpen berjudul Sri pun mandeg di part 6. Hi hi hi … entah apa yang merasukiku?
Ya sudahlah, aku mau cerita kejadian kemarin saja. Jadi, berapa hari yang lalu Mamak telepon: "Na, magic com di rumah rusak semua (kebetulan di rumah kami memang ada dua magic com, kecil dan besar). Mamak kerepotan ini, mesin cuci juga rusak. Wulan lagi rewel terus." kata Mamak.
Iya. Karena memang Down Syndrome anakku lagi kurang sehat, baru keluar dari rumah sakit. HB Trombosit turun, terus kata Dokter juga ada penyumbatan di lubang paru-parunya. Makanya rewel terus, mintanya digendong terus. Malam gak tidur, nangis terus. Biasalah namanya juga anak berkebutuhan khusus.
"Iya, Mak. Nanti aku belikan magic com sama mesin cuci yang baru," jawabku.
Kemudian aku kepoh sama teman Facebook yang bakulan perabot sama barang-barang elektronik. Dan aku langsung terpikat serta tertarik dengan yang temanku tawarkan, satu set: magic com, panci ukuran kecil, panci ukuran sedang, teflon, teko perebus air, sendok dan garpu. Warnanya juga bikin mata meleleh. Silver.
Tidak menunggu lama, aku pun segera bertanya pada Mbak Bakulnya. Selang satu jam aku melakukan transaksi pembayaran dan besok paginya langsung di proses untuk pengiriman. Kemudian segera menelepon Mamak memberi tahu kalau sudah aku belikan magic com.
Selang dua hari, paketan pun sampai. Bapakku kirim pesan yang isinya gini: NATELPON.
Mungkin bagi orang lain itu pesan yang aneh. Hi hi hi ….
Tapi aku sudah terbiasa berkirim pesan dengan Bapak, dan isinya ya memang seperti itu, tanpa spasi. Maklum sudah tua, beda sama emak-emak zaman NOW yang biasa dengan gadgetnya. Mamak saja boro-boro bisa berkirim pesan, kadang kalau aku telepon ke rumah siang hari anak-anak sekolah ya pasti dibiarkan saja. Wong ndak bisa mencet-mencetnya. Maklum juga Mamak emang emak-emak zaman old.
Aku pun menelpon nomor Bapak. "Sudah sampai, Mak?" tanyaku.
"Kamu ini disuruh beli magic com kok malah belinya macam-macam. Duit dari mana bayarnya? Kemarin buat biaya rumah sakit Wulan saja sudah berapa? Belum lagi buat cek up sampai 4X." Dan bla bla bla, Mamak mendongeng.
Aku cuma diam, mendengarkan Mamak memberi petuah dan wejangan. Karena bagiku, omelan dan segala ucapan orang tua adalah sebuah doa. Apatah ucapan dari seorang perempuan yang telah berkongsi nyawa denganku.
Jadi sebenarnya, harga satu set itu Rp. 1.075.000,. Tapi, aku berbohong. Ha ha ha...
.
Aku bilang ke Mamak itu harganya Rp. 850.000,. Berbohong demi kebaikan, sekali-kali juga gak papa. Menurutku sih!
Sudah ya, akhirnya aku pun berkilah membela diri. "Mak, aku beli itu gak sampai 1 juta, kok. Kebetulan aku masih ada tabungan."
Tapi, yang namanya orang tua itu harga segitu memang terlalu mahal. Jadi sampai aku tutup telepon pun katanya masih ramai. Ha ha ha ….
Nah, kemarin pagi Bapak telepon lagi nanya cara pakainya. Bla … bla … bla … aku pun menjelaskan semua.
Aku penasaran sebetulnya Mamak bisa gak pakainya, jadi semalam aku telepon. "Mak, sudah bisa pakai magic comnya?"
"Sayang kalau mau dipakai, barangnya bagus. Warnanya juga cantik," jawabnya santai, kaya pas di pantai.
"Loh, katanya kerepotan? Minta dibelikan magic com sama mesin cuci, tapi kok gak dipakai? Terus mau buat pajangan?" tanyaku.
"Iya. Mau mamak simpan saja." Jawabnya lebih santai lagi.
"Eh, dasar Emak-emak!" aku bergumam sendiri.
Jadi intinya, menyenangkan orang tua itu termasuk ibadah. Aku sering membaca dan mendengar kalimat "Mulia-kan orang tuamu layaknya Raja, maka rezekimu pun akan seperti Raja."
Dan memang benar adanya: satu kali kita membuat orang tua tersenyum bahagia, maka seribu kata yang terpintal dalam doa dari mereka untuk kita. Rezeki kita pun terus mengalir bak air sungai yang alirannya tidak berpenghujung. Bagiku, kebahagiaan mereka (anak dan orang tua) adalah nikmat bahagia pula untukku.
Semoga kita semua termasuk anak yang berbakti pada orang tua. Memuliakan orang tua sebagaimana kita memuliakan Allah Ta'ala.
Taichung, 24 Oktober 2019



Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.