Ini Takdirku, bukan Karma!



"Eh, Bu … anaknya si itu kok begini-begitu ya?" kata Ibu Ina.

"Iya. Kasihan ya anaknya yang jadi korban," sambung Ibu Ani.

"Eh, itu kan ibu sama bapaknya begini-begitu, makanya anaknya juga begitu. Karma mungkin ya?" lanjut Ibu Anu.

"Iya. Nggak seperti anaknya si B, baru mau masuk usia 1 tahun saja udah bisa ini-itu. Lah anaknya dia mau 2 tahun belum bisa apa-apa," celetuk Bu Nia.

Rasanya, gendang runguku sudah terlalu kenyang dengan nyinyiran mereka. Ya, mereka yang hanya bisa mencerna sesuatu dengan mulut tanpa bisa mencernanya dengan akal waras dan mata hati yang sebenarnya. Selama ini aku selalu diam ketika mereka memperbincangkan perkembangan anakku yang memang terlambat, bahkan tak sedikit dari mulut mereka menghina stigma idiot anakku. 

"Kenapa harus selalu mencemooh jalan hidup orang lain? Kenapa tidak bercermin diri sendiri saja? Sudah benarkah hidup mereka? Sudahkah mereka hidup sesuai kodrat mereka masing-masing?" ah … rasanya sama piciknya jika aku pun ikut menghakimi mereka dengan balas menghinakan mereka.

Anakku yang terlahir Down Syndrome dengan penyakit bawaan yang mengikutinya; Leukimia, Retina Blasmato, Respiratory Tract Infection, Gastrointestinal Infection. Itu yang aku baca dan aku dengar dari Dr. Aries Suparmiati, SP. A satu tahun yang lalu ketika anakku terbaring lemah di ruang ICU sebuah rumah sakit swasta di daerah Brebes. Luruh air mataku, seakan langit runtuh menindih paksa raga ini kala itu. Bahkan kakiku serasa tak mampu lagi menopang raga, bahu pun seakan tak lagi ada kekuatan untuk memikul beban. 

"Tuhan … sebegitu sayangkah Engkau pada hamba yang lemah ini? Sehingga Engkau mempercayai hamba dengan ujian ini."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ngapain juga mikirin omongan orang? Hidup ini ada masanya, biarkan saja mereka berbicara semau mereka!" ucap seorang perempuan yang telah berkongsi nyawa denganku selama 9 bulan yang tak lain adalah ibuku.

Tiada sesiapa yang tahu bagaimana aku berjuang melawan perihnya hidup, selain kedua orang tua dan Tuhan. Terkadang, aku berpikir bahwa hidup ini memang tidak adil. Nyatanya Tuhan selalu memberiku ujian yang bertubi, tanpa aku sadar begitu banyak nikmat Tuhan yang telah aku dustakan.

Masih asa yang sama dengan hari kemarin, secarik harap yang selalu kupintal ketika aku menengadahkan tangan; semoga ada keajaiban untuk anakku. Ya, aku selalu percaya bahwa do'a yang terucap dari seorang ibu adalah do'a yang paling mustajab untuk anak-anaknya. 

Terkadang, aku merasa kehilangan diriku sendiri begitu lama. Aku merasa tidak lagi mengenali diri sendiri. Apatah lagi ketika amarah membuncah menguasaiku, seakan hilang akal warasku. Ya, bahkan hampir saja aku membunuh paksa ragaku sendiri, dan itu sudah berapa kali aku lakukan. Tapi, rupanya Tuhan masih menghendakiku untuk terus melanjutkan hidup dan merawat serta menjaga titipan-Nya yang telah IA amanahkan untukku dan keluargaku. Setiap aku mencoba melancarkan aksi biadabku untuk bunuh diri, selalunya bapakku mengetahui sebelum semuanya terjadi dan bapak menceramahiku panjang kali lebar. Hingga pada akhirnya aku kembali tersadar bahwa apa yang kuperbuat bukanlah suatu jalan penyelesaian, namun hanya akan menyesatkan. 

Kuhela napas panjang ber'istighfar dan berucap Alhamdulillah ketika gendang runguku mendengar dan netra ini membaca setiap nyinyiran yang mereka lontarkan untukku dan Down Syndrome anakku.

Tidak ada yang bisa menolong kesusahanku, mereka hanya bisa menertawai kesusahanku dan berucap rasain atau syukurin. Ya, begitulah manusia menanggapi takdir orang lain. Dan aku bisa apa, selain diam pasrah dengan segala hinaan mereka.

Jika aku ditanya; Apakah aku iri ketika melihat keadaan anak-anak lainnya yang normal dan sehat dibanding keadaan anakku? 
Dan jawabannya; Sama sekali tidak! Aku tidak pernah iri, sebab apapun yang menjadi takdirku adalah ketetapan atas kehendak-Nya. Tugasku hanya mensyukuri semua nikmat yang telah Allah Ta'ala beri, meski sebuah kesakitan atau kesengsaraan. 

Biarkan mereka hanya menertawai takdirku, Tuhan pun selalu memberi ruang untukku selalu bersabar. Biarkan mereka menilai tentang keadaan anakku, tapi aku yakin bahwa Tuhan akan selalu menguatkan hati ini untuk terus menerima sindiran atau hinaan yang mereka tunjukan pada anakku.

Jadi, hidup ini sebenarnya sangat sederhana. Sesederhana apa yang kita makan, kita pakai dan apa yang kita ucap. Tapi rasa syukur yang mampu merubah keadaan. Rasa syukur yang akan menjadikan hidup kita terus dalam kebahagiaan.

Satu pesanku; Jangan pernah menghina keadaan atau kesusahan orang lain! Sebab, apapun itu sudah menjadi rencana-Nya. Sekalipun kita harus terjerembab pada nista. Sebisa mungkin kita menghindar agar tidak sampai terjerembab pada lembah nista itu. Bukan dia, atau mereka yang mampu merubah hidup kita. Tapi, diri sendiri yang mampu merubahnya. Jangan pernah meratap dengan kesengsaraan, tidak ada gunanya. Acuhkan mulut-mulut sumbang mereka! 

"Hidupku milikku, dosaku milikku, nerakaku biar menjadi nerakaku, dan neraka mereka biarlah menjadi milik mereka! Hidup apa kata hati, bukan apa kata mereka!" 


Taichung, 11 Oktober 2019

Komentar

  1. ibu-ibu hebat dan luar biasa yang mengalamin dan mampu menjalanin ini

    BalasHapus
  2. Lidah yang tak bertulang itu memang selalu kata kejam...
    semoga kita tak tertular...

    BalasHapus
  3. Semangat, say .... TUHAN telah menyiapkan ijazah kelulusan yang tidak dimiliki sembarang orang.
    Fokus ditujuan, tetap tersenyumlah utk orang2 yg bermulut rendah.
    Insyaallah ... Bola yg sudah di bawah pasti akan memantul ke atas.

    Tulisan2 Riana selalu menohok, very very reality ... aku suka.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer