Lara Seorang Perempuan



"Ini, minumlah obat ini! Maka kandunganmu akan gugur, janin yang ada di rahimmu akan mati dengan segera. Dan satu lagi, jangan pernah kembali mencariku! Aku tidak butuh perempuan lacur sepertimu!" bisik mas Toni.



-------------------------------------



Terkadang, seorang perempuan sanggup berlama-lama memenjarakan dirinya dalam kesepian. Bukan sebab ia bodoh ketika ia bertahan dalam kesendirian, hanya saja karena ia tidak ingin membuka luka lama yang bisa dibilang masih belum kering sepenuhnya. 

Adalah aku, Rindu. Seorang single parent dengan satu anak. Perceraian dengan mas Ikmal, yang tak lain adalah ayah dari anakku seakan membuatku depresi. Aku tak lagi mau membuka hati untuk makhluk yang disebut lelaki. Bertahun aku bertahan dalam sunyi, memenjarakan diri dalam kerapuhan dan kehancuran masa depanku. Aku tak sanggup menghapus segala kenangan bersama mantan suamiku. Bahkan aku sanggup mengubur dalam-dalam masa depanku yang aku sendiri masih belum tahu akan seperti apa.

“Kamu mau sampai kapan seperti ini, Rin?” tanya Riska sahabat kecilku.

“Entahlah, Ris. Aku tidak mau lagi membuka hati untuk orang lain, rasanya masih belum percaya dengan kehancuran rumah tanggaku dengan Mas Ikmal.”

Riska adalah sahabat kecilku, aku tahu bagaimana dia, betapa pedulinya dia dengan segala masalahku, dia yang selalu ada ketika aku terpuruk. 

“Besok aku ada janji makan siang sama temannya Mas Irwan, kamu mau ikut tidak? Nanti aku kenalin sama temannya mas Irwan,” ucap Riska.

“Ah, tidaklah. Kamu jalan saja sama suamimu, besok aku mau beres-beres kamar saja.”

Semenjak aku bercerai dengan mantan suami, aku memutuskan untuk merantau ke kota, bekerja di sebuah pabrik garmen untuk menghidupi anak semata wayang dan ibuku. Aku menitipkan Eza, anakku pada ibu dan adik ketika itu.

Mungkin, jalan yang aku ambil ini memang salah. Aku menghindar dari sebuah kenyataan hidup yang harusnya aku jalani. Nyatanya, aku tidak setegar apa yang ibuku harap. Hingga bertahun aku larut dalam duka, bahkan aku sendiri tidak yakin adanya kuasa Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati.

Tidak munafik memang, kadang terbesit sebuah harap aku akan menemukan seorang lelaki yang bisa aku jadikan panutan untuk hidupku, anak juga ibu dan adikku. Sebab, setegar dan sekuat-kuatnya perempuan tetaplah makhluk yang lemah, masih butuh sandaran, sandaran yang bukan hanya sajadah yang sering kali aku tinggalkan, aku butuh bahu untukku bisa menyandarkan segala penat serta duka. Aku butuh seorang lelaki yang bisa aku jadikan tempat berkeluh kesah segala rasa.

Rupanya, Riska masih terus berniat mengenalkanku dengan teman dari suaminya itu. Aku pun sempat berpikir, apa salahnya kalau aku mencoba menerima tawaran Riska. Tepat hari dan tanggal yang Riska atur, aku pergi menemui mereka. Riska pun mengenalkan aku dengan Mas Toni teman dari suami Riska. Dari perkenalan itu, akhirnya aku bertukar nomor telepon dengan Mas Toni.


🍁🍁🍁🍁🍁


Empat bulan setelah perkenalan itu, aku semakin dekat dengan mas Toni. Nyaman, adalah kata yang selalu terucap dari bibirku. Mas Toni yang kata Riska adalah seorang duda beranak dua, yang kata Riska bahwa Mas Toni adalah sahabat rapat dari suaminya itu, membuatku semakin yakin untuk kembali membuka hati, menutup dan menghapus segala luka lama yang selama ini menyiksa batin dan atmaku.

Yakin dan nyaman, membuatku semakin mantap untuk memilih Mas Toni. Hatiku telah terpaut pada seorang duda beranak dua, dan itu yang aku tahu. Aku merasa menemukan sosok pengganti almarhum bapakku, aku merasa bahwa akulah perempuan yang begitu beruntung dan merasa bahwa aku begitu berharga untuknya. Bulan berganti bulan telah kami lalui, namun tidak ada niatan serius untuk Mas Toni meminangku, aku pun hanya diam menunggu kepastian darinya.

Tepat satu tahun perkenalan kami, Mas Toni mengutarakan niatnya, dari situ pertahananku runtuh hanya karena janji manis dari mulutnya, aku pasrah dan hanya pasrah. Dan kami melakukan dosa manis, dosa besar yang seharusnya tidak kami lakukan. Tapi, Mas Toni pun semakin meyakinkan aku bahwa ia akan menikahiku secepat mungkin. Hingga pada akhirnya kami pun sering mengulangi perbuatan hina itu, dan aku positif hamil anak Mas Toni.

“Mas, aku hamil!” ucapku pada Mas Toni.

“Apa, kamu hamil? Tidak, tidak mungkin dan pasti itu bukan anakku. Kamu gugurkan saja atau aku akan meninggalkanmu,” Mas Toni berlalu meninggalkanku dalam kehampaan.

Langit seakan runtuh menindih paksa atmaku, gelap yang kurasa. Aku tidak percaya bahwa laki-laki yang kuanggap baik tega berkata seperti itu. Aku bagaikan sampah di matanya. Dia membuangku begitu saja setelah ia tinggalkan nista di hidupku. Sakit!

Hampir dua bulan Mas Toni pergi meninggalkan sebilah nista, menyempurnakan segala penderitaanku. 4 bulan usia kandunganku dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hampir putus asa namun aku kembali berpikir tentang masa depan anakku. Tak ada yang bisa menolongku ketika itu, bahkan Riska pun mulai menjauhiku, Riska yang dulu dengan yakinnya mengenalkan aku pada Mas Toni ternyata dia pun tidak tahu menahu seluk beluk yang sebenarnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Aku mencari dan terus mencari keberadaan Mas Toni, hingga suatu hari aku menemukan alamat kantornya. Tuhan berpihak padaku, aku bertemu dengan ayah dari janin yang tengah aku kandung. 

“Kamu! Ngapain kamu ke sini? Sudah aku bilang gugurkan kandunganmu! Apa kamu masih belum paham dengan bahasaku?” bentak Mas Toni.

“Tidak! Aku tidak akan pernah menggugurkan janin ini. Aku butuh kamu, Mas. Anak kita butuh kamu,” rengekku.

Bahkan, aku tak lagi pedulikan harga diriku. Aku memohon, mengemis di tengah keramaian. Banyak pasang mata yang melihat tingkahku, dan aku tidak peduli itu. Aku hanya butuh laki-laki di depanku untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.

“Sudah aku bilang, aku tidak akan pernah menerima anak itu. Aku yakin kalau kamu tidak hanya tidur denganku, sekarang kamu tinggalkan tempat ini atau aku akan nekad?” bisik Mas Toni.

Aku pulang tanpa hasil yang aku inginkan, tidak ada jalan lain selain aku pun harus pulang ke rumah. Dengan harapan tidak akan ada orang yang tahu tentang perutku, tentang aibku. Aku beranikan diri untuk pulang ke rumah. Aku memohon, mohon ampun pada ibuku. 

Perutku semakin membesar, dan aku hanya diam di rumah tanpa ada pemasukan, tanpa ada kegiatan apa-apa, sementara hidup harus terus berjalan. Laraku kian mendera batinku, kian menyiksa atmaku. Pada siapa aku mengadu? Pada siapa aku berkeluh kesah, aku pun tak tahu. Bahkan, ibuku tidak tahu kalau aku tengah mengandung ketika itu.

Aku kembali menemui Mas Toni, lagi dan lagi hanya hinaan yang aku dapat, bahkan dia sudah membelikan aku obat penggugur kandungan.

“Ini, minumlah obat ini!  Maka kandunganmu akan gugur, janin yang ada di rahimmu akan mati dengan segera. Dan satu lagi, jangan pernah kembali mencariku! Aku tidak butuh perempuan lacur sepertimu!” bisik Mas Toni.

Tak ada yang bisa kuperbuat ketika itu, hanya tetes air mata yang kian deras menghujani sudut netraku.

“Aku tidak butuh obat ini, berikan saja obat ini pada yang lebih membutuhkan. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menggugurkan janin ini. Paham?”

Aku mencari kontak teman-temanku, dan aku bersyukur masih ada Rina, teman PT kerjaku dulu. Aku mendapat tawaran untuk bekerja pada kakaknya, menjaga toko kelontong. Hingga pada akhirnya aku berpamitan pada ibu untuk bekerja.

Tiga minggu sebelum lahiran, aku keluar rumah meninggalkan anak dan ibuku. Yang mereka tahu, aku keluar rumah untuk bekerja, bukan untuk sembunyi melahirkan anakku. Nasib buruk kembali menimpa, Rina yang aku anggap baik, rupanya dia membuka aibku hingga sampai kepada teman-teman yang dulu satu PT. Mereka menertawai nasibku, dan aku bisa apa, selain pasrah dengan segala hinaan mereka. kecewa, iya aku memang kecewa pada Rina tapi aku tidak peduli dengan mereka semua, aku hanya berpikir bagaimana mendapatkan biaya untuk melahirkan nanti, sementara uang pun sudah tidak punya. Karut-marut pikiranku, beban di otak seakan memaksa untuk mengakhiri hidupku.

Beribu pertanyaan terus bergelayut dalam benakku, bagaimana nanti jika anakku terlahir?
Sementara ayahnya tidak mau bertanggung jawab sama sekali, kesendirian dalam hamil besar bukanlah hal yang mudah, apalagi keluargaku tidak ada yang mengetahui kebenarannya. Tidak ada pilihan lain selain aku menerima tawaran dari saudara Rina untuk menyerahkan anakku setelah lahir nanti, untuk mereka rawat dengan catatan sama-sama merawat. 

8 Agustus 2016, lahir bayi laki-laki dari rahimku, serasa mimpi tapi ini adalah nyata. Seorang bayi mungil telah menyempurnakan kodratku sebagai perempuan. Garuda, ya aku menamainya Garuda.

Mungkin, aku bukanlah seorang ibu yang baik dan tidak bertanggung jawab atas segala dosa yang pernah aku lakukan. Dan aku tahu, tidak seharusnya aku memilih jalan ini. Menyerahkan darah dagingku sendiri pada orang lain, tapi aku tidak punya pilihan lain. “Maafkan mama, Nak!”

Batinku menjerit, meronta sebab merindu Garuda, anakku. Simungil yang telah menjadi milik orang lain. Aku laksana pohon merindukan hujan, kekeringan hingga ke akar-akarnya, menjalar menjulur keluar dari tanah, kerontang dan kehausan. Itulah gambaran yang aku rasakan saat ini.

Aku menyerahkan dan meninggalkan Garuda dari ia umur 4 bulan. Dan hingga akhirnya aku pun kembali bekerja ke negeri Formosa ini. Satu yang selalu membuat batinku meronta, bagaimana nanti jika aku tidak bisa menemui Garuda selepasku pulang dari sini?
Sementara, sekarang pun banyak sekali alasan yang orang tua asuh Garuda berikan ketika aku ingin menatap wajah polos Garuda meski lewat layar HandPhone, ketika aku ingin mendengar suara manja Garuda meski hanya lewat telewicara saja. Dan bagaimana nanti aku harus menjelaskan keberadaan Garuda pada keluargaku?

“Tuhan, ampuni aku!”



Taichung, 2 Oktober 2019

Komentar

  1. Kerennn mbak,, semangattt 😘

    BalasHapus
  2. Liku-liku cerita dalam.kehidupan, terangkai indah dalam wujud tulisan. Aku kagum padamu mbak, semuanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Lilis. Aku juga kagum pada njenengan😊

      Hapus
  3. Mbak e apa ini true story seseorang ngena sekali πŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜₯πŸ˜₯

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini true story sahabatku yang minta di rekam jejaknya oleh saya, Mbak.😊

      Hapus
  4. Ya Allah jangan gini kek :(

    BalasHapus
  5. Sedih mbak.. kudu nangis, tapi apik bangeeettt... ❤❤❤

    BalasHapus
  6. Banyak kisah di negeri orang yang bisa jadi inspirasi dalam menulis ya mb

    BalasHapus
  7. Makkk...ceritanya selalu menguras air mata. 😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku aja nulisnya nyanding tisu satu bungkus gedeπŸ˜†

      Hapus
  8. Mbaa 😭😭😭 Feel nya kena banget.

    BalasHapus
  9. Gambaran kehidupan wanita yang mengenaskan . Sedih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan kenapa harus selalu wanita yang menderita? Dosa pun padahal sama2 ya😒

      Hapus
  10. Keren mba..based on true story ya? Dari dengar cerita menjadi tulisan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak😊 ini true story sahabatku yang minta direkam jejaknya menjadi sebuah karya

      Hapus
  11. Seperti biasa.. alur critanya maiin...

    Yg baca jd cekit2 😌😌

    BalasHapus
  12. Dalam banget isinya...
    Ngena banget. Cuman kata 'Mas' huruf 'm'-nya seharusnya besar yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di kalimat yang mana ya? Huruf kapital bukannya digunakan pada panggilan dalam dialog, atau aku yang kurang paham ya? πŸ˜‚

      Hapus
  13. Mbak, kenapa engkau selalu membuatku terpotek-potek. 😭😭😭

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer