Hilangnya sebuah Kepercayaan
Setiap pasang kekasih pasti punya destinasi dalam hubungannya, pernikahan adalah menjadi titik terakhir yang mereka tuju. Namun, ada kalanya mereka tidak bisa melanjutkan pada sebuah jenjang pernikahan. Terkadang harta, kasta menjadi penyebabnya, juga dengan kesetiaan dan ketidak saling percaya antara satu sama lain. Namun, acapkali perselingkuhan dan pengkhianatan menjadi alasan berakhirnya sebuah jalinan.
Senja menggaris di langit biru, indah sekali. Tapi tidak dengan hatiku, mendung yang kurasa kian menyelimuti. Hanya gelap dan kelabu yang kini mewarna, warna-warni hidupku telah pun memudar.
“Woy … kenapa melamun, Bu?” tanya Rita, teman satu kostku.
“Nggak, siapa yang melamun?” aku melirik pada tubuh gempal yang sedari tadi memperhatikan keresahanku.
“Lah, itu dari tadi bengong kaya anak ayam kehilangan induknya,” ucap Rita menggoda.
Semenjak kejadian dua bulan yang lalu, fikiranku semakin tak karuan, seakan masih belum percaya dengan apa yang telah aku dapatkan. Bertahun-tahun bertahan dalam ketidakpastian, meneduhkan setia pada seorang lelaki yang begitu aku percaya bahwa dia mampu menjadi penyembuh luka dan percaya bahwa dia sanggup menghapus segala derita di masa lalu. Tapi kenyataannya, kepercayaanku telah ia khianati. Dia sengaja menyiramkan air garam pada hati yang sebenarnya memang belum sepenuhnya kering.
Pernikahan yang tinggal satu langkah lagi kandas. Sebab ia tak setia pada janji yang akhirnya memaksaku untuk menyudahi semuanya, asa yang sempat terajut kini hanya menjadi cerita usang yang menyakitkan.
Adalah Rido, lelaki yang selama ini menjadi sandaran, tempat berbagi suka maupun duka. Hampir 3 tahun menjalani semuanya. Hitam, putih telah pun aku lalui dengannya, semua musnah sudah berganti perih yang mengiris kalbu. Sebuah mahligai impian yang dulu pernah ia tawarkan pun hancur sudah. Sakit!
“Rin, emang kalian ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba Rido memutuskan hubungan?” tanya Rita.
“Entahlah, Ta. Aku sendiri masih belum percaya dengan kenyataan yang kuhadapi sekarang,” aku menghela napas panjang.
“Bukankah kalian sudah menentukan tanggal dan bulan pernikahan kalian?”
Entah, pertanyaan Rita kian membuat nyeri sudut hati ini. Bak beribu anak panah yang menancap tepat di jantung. Aku tak kuasa untuk menahan air mata agar tak jatuh, sesakit ini, dan aku serapuh ini ternyata.
“Aku harus jawab apa, Ta? Sedangkan aku sendiri masih belum tahu di mana letak salahku,” kubenamkan wajah di atas bantal, menyembunyikan semua kesakitan.
Terkadang, pilihan hati kita pun belum tentu menjadi orang kepercayaan juga. Jika selama ini aku percaya bahwa Rido adalah lelaki yang baik, lelaki yang bisa dijadikan panutan hidup, tapi nyatanya hanya sebuah tipu muslihat semata. Dia lebih memilih untuk menyudahi semua demi apa yang disebut kenikmatan sesaat.
Selama ini, aku selalu mencoba untuk tidak berburuk sangka ketika Rido tidak menjemput atau mengantarku ke tempat kerja. Aku berusaha untuk mempercayainya, tapi ternyata kepercayaan yang selama ini kubangun telah ia khianati. Hilang sudah kepercayaan, bahkan untuk kembali membuka hati pun aku masih belum sanggup, takut!
Sebab, bukan hal yang mudah untuk kembali membangun dan mempertahankan, apalagi mempertahankan sebuah kepercayaan. Jika sedikit saja terhianati, maka akan lebih sulit lagi membangunnya. Sebab menurutku, kepercayaan itu ibarat sebuah gelas kaca. Jika sudah retak apalagi pecah, maka tidak akan kembali utuh meskipun berbagai cara agar pecahan-pecahan gelas itu kembali disatukan.
“Terima kasih, Rido. Karenamu, aku tahu bahwa yang menjadi pilihan dan pujaan hati, bukan pula yang dapat dipercaya. Terima kasih kau telah membuka mata hatiku untuk menyudahi semua kebodohan bertahan dalam ketidakpastian ini, pernikahan yang kau janjikan biarlah menjadi cerita usang yang tak patut lagi dikenang. Akan kusimpan semua berkas-berkas masa lalu kita serapi mungkin, dan aku janji aku takkan pernah lagi mengingatnya. Pengkhianatan telah pun menghancurkan semuanya!"
Taichung, 12 Oktober 2019



Cakep mb
BalasHapusHihi terima kasih, Mbak Lilis๐
HapusBaper aq bacanya mbk..
BalasHapusAja baper, Bu Guru๐
HapusMantabbb... ๐๐
BalasHapusTerima kasih, Mbak๐
Hapus