Hangatmu Masih Kurasa
Hari ini, masih sama dengan hari-hari kemarin, masih dengan terik yang sama. Ketika matahari dengan bangganya bersinar, memberi hangat pada bumi, ketika itu orang-orang pun lebih memilih diam di dalam rumah. Sedang aku, aku harus tetap keluar rumah demi sesuap nasi. Bergelut dengan terik mentari yang dengan bahagianya membakar kulitku.
“Ibu tidak istirahat saja? Panas sekali Bu di luar,” ucap seorang gadis yang tak lain adalah anakku.
“Panas seperti ini sudah biasa buat ibu, Nak. Ibu harus tetap berangkat menjajakan kue-kue kering ini.”
“Iya, tapi Ibu bisa nanti sore saja jualan kelilingnya,” ucapnya lagi.
Seberat apa pun beban, seperih apa pun derita, tapi ini adalah jalan hidup yang telah Tuhan gariskan. Tidak ada alasan untukku diam di rumah, bermalas-malasan juga bukan sifatku.
“Ya sudah, ibu berangkat dulu. Kamu kalau mau tidur siang jangan lupa kunci pintunya.”
Kukayuh sepeda tuaku, berkeliling dari gang ke gang di perkampungan. Demi seribu dua ribu agar bisa membeli beras untuk makan besok. Memang semenjak suami meninggal, akulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Membesarkan kedua putriku yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah dasar.
Terkadang, ketika lelah mengusik aku hanya bisa meneteskan air mata. Kerinduan pada seorang suami, pada almarhum membuat ragaku semakin sekarat. Dulu, dia pernah berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku dan anak-anak, seperti matahari yang tak pernah meninggalkan bumi, meski bumi tidak pernah melihat keberadaan matahari.
“Bapak, bukankah dulu sudah berjanji dengan ibu untuk selalu ada disamping ibu? Menemani ibu hingga matahari terbenam, hingga senja pun menyapa usia kita dan kita bersama menimang cucu dari kedua putri kita,” aku menghela napas panjang.
Entah sudah berapa lama kukayuh sepeda tuaku, satu bungkus kue pun belum terjual. Nikmat yang teramat nikmat, namun aku tidak boleh menyerah dengan keadaan meski terik kian membakar kulitku.
“Yu Ati, sini!” suara lantang Bu Lurah menghentikanku.
“Iya, Bu. Monggo Bu!” aku berhenti dan menghampirinya untuk menawarkan kue kering jualanku.
“Yu, kenapa sampean tidak menikah lagi saja biar ada yang nafkahin sampean sama anak-anak,” pertanyaan yang mungkin menurutnya adalah kalimat yang sepele tapi sangat membuat panas gendang runguku.
“Mana ada yang mau sama saya, Bu. Anak saya saja sudah pada perawan,” ku sunggingkan senyum getir.
“Loh, sampean ini masih muda, masih cantik juga. Pasti banyak yang mau sama sampean,” goda Bu Lurah.
“Saya sudah tidak berpikir tentang hal itu, Bu. Yang saya pikirkan hanya masa depan Tari dan Irma.”
Menikah lagi? Sepertinya hal yang entah akan terjadi atau tidak, sebab hingga detik ini pun bayangan almarhum mas Wandi masih saja bergelayut di kelopak mata. Seakan dia pun tidak rela jika aku harus membuka hati untuk lelaki lain, apalagi jika aku menghianati kesetiaan yang selama ini kupertahankan.
“Yu, itu adiknya pak RT kan duda sedang mencari istri. Barangkali saja jodoh sama sampean,” celetuk Pak Lurah yang tiba-tiba saja keluar.
“Lah, iya ya Pak. Itu adiknya pak RT juga orang baik, duda belum ada anak, sudah mapan juga,” sambung Bu Lurah.
“Sudah ... sudah ...! Saya tidak mau menghianati kesetiaan saya pada almarhum mas Wandi,” kusodorkan kue-kue kering yang Bu Lurah beli.
“Yu, tidak baik begitu. Bagaimanapun hidup itu harus terus berjalan, bukan diam di titik yang selama ini membuat kita tak berdaya,” ucap Bu Lurah.
“Bu, saya ini bukannya tidak bisa mencari pengganti almarhum, tapi saya ingin bertemu dengan almarhum kelak di Jannah-Nya Allah Ta'ala.”
Aku pun berpamitan pada Bu Lurah, kembali kukayuh sepeda berkeliling di perkampungan. Matahari semakin bergeser ke barat, sementara senja dengan indahnya menggaris di langit biru. Hari berganti petang dan malam pun akan kembali menyapa. Ada rindu ketika malam menyapa, rindu pada masa silam yang selalu menghidupkanku dengan kebahagiaan, memeluk serta memberiku kehangatan laksana matahari yang tak pernah bosan memberi hangat pada bumi.
“Jasad kita memang sudah terpisah oleh alam, tapi hati kita akan tetap menyatu hingga kelak kita pun akan dipertemukan kembali. Aku pun yakin, bahwa kau selalu tersenyum melihat tumbuh kembang dua putri kita yang semakin dewasa. Damailah di Surga-Nya,” tak terasa mataku menganak sungai.
Kepingan masa lalu masih saja terbungkus rapi dalam ingatan. Kebahagiaan yang dulu pernah dirasa bersama tak mungkin terhapus oleh apapun, meski raga tak lagi berdampingan, meski alam telah pun berbeda. Namun, cinta sejati tetaplah menjadi milik orang yang bertahan dalam sebuah kesetiaan. Hangat kasihnya masih saja kurasa kala malam terus menawarkan hawa dinginnya. Ya, aku masih saja merasakan hadirnya meski hanya lewat mimpi.
Taichung, 5 Oktober 2019



Kesetiaan mudah diucapkan namun bagi segelintir orang sulit dipraktikkan.
BalasHapusKeren ceritanya Mbak!