Dongeng Mamak

Dongeng Mamak
Oleh: Riana




    Tidak ada pilihan lain ketika kemiskinan menjeratku dan keluarga, selain menyetujui perjodohanku dengan orang yang sebelumnya belum pernah aku kenal. Kemiskinan telah membuat keluargaku terhina, dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan kemewahan selain aku harus menjadi istri ketiga dari Juragan Ratno. Orang terkaya di kampung sebelah. 

    Juragan Ratno adalah seorang juragan bawang ternama, dia juga memiliki beberapa warung sate. Bahkan kedua istrinya pun sudah dibikinkan rumah tingkat beserta isinya, juga mobil yang bertengger di garasi rumah mereka. Mereka pun dipercaya mengolah warung sate, kata orang-orang kampung. 

    Rasanya, aku ingin lari dari jerat ini, tapi jika aku memaksakan diri lari dari rumah itu sama artinya aku membunuh orang tuaku. Mamaku berhutang pada Juragan Ratno ketika bapak akan operasi mata kataraknya. Tidak ada jalan lain untuk melunasi hutang-hutang Mamak selain aku harus menjadi istri ketiganya.

    "Kamu itu apa ndak kasihan sama mamak dan bapakmu, Nduk?" ucap Mamak.

    "Lagian juga Juragan Ratno itu baik orangnya, Nduk. Ramah dan suka menolong orang-orang miskin kaya kita ini," kata bapak terus merayuku agar aku mau menerima pinangan Juragan Ratno.

    Setiap desakan-desakan mereka adalah beban terberatku, aku harus terdiam dan tertunduk untuk menyembunyikan kecewaku di depan mereka. Sebab, aku tidak mau mengecewakan mereka. Tapi aku juga tidak mau memaksakan diri untuk menerima perjodohan. 

    "Jadi gimana, Nduk? Besok pihak dari Juragan Ratno akan datang meminangmu," lanjut bapak.

    "Apa ndak bisa diundur, Pak? Aku ndak mau buru-buru nikah," ucapku sambil menyodorkan gelas teh manis untuk bapak dan mamak.

    "Kamu ini kenapa, Nduk? Coba sekali-kali ndak usah ngeyel, lagian di kampung ini yang seumuran denganmu juga sudah pada punya anak dua. Terus kamu mau nunggu apa lagi?" sambung Mamak.

    Entah, rasanya aku ingin sekali menolak perjodohan ini. Tapi tidak mungkin. Dengan berurai air mata, aku pun meninggalkan mamak dan bapak. Kulangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan lagi ucapan-ucapan mereka.

    Aku diam, merapatkan diri dengan sudut ranjang yang hanya terbuat dari bambu serta kasur yang sudah lepek. Mencerna segalanya, bahwasanya aku memang ingin menikah dan menjadi seorang ibu dari anak-anak untuk suamiku. Tapi bukan pernikahan seperti ini yang aku mau, menikah hanya karena demi melunasi hutang. Itu sama artinya dengan mereka menjual anak gadisnya, bukan? Apalagi jika harus menjadi istri ketiga, apa yang akan mereka gunjingkan tentangku nanti? Ya Tuhan!

              πŸπŸπŸπŸπŸ

    Aku hanya berdiam diri, mengurung di dalam kamar. Sementara mereka sibuk mengurus segala sesuatunya di dapur. Mamak mengundang saudara-mara untuk datang membantunya. Sedangkan bapak tengah sibuk berbincang dengan sesepuh di kampung kami.

    "Ratmi, keluarlah!" pekik Mamak dari dapur. Suara Mamak jelas terdengar karena jarak kamar dan dapur yang hanya disekat dengan pagar bambu. 

    "Loh, piye to? Wong mau nikah sama juragan yang kaya raya kok malah cemberut?" goda MboK Yem, tetangga sebelah rumah.

    "Calon pengantin kok mukanya ditekuk?" lanjut Budhe Tri.

   Aku hanya diam dengan ucapan-ucapan mereka, tidak sedikitpun senyum yang kupamerkan di depan mereka. 

    Persiapan sudah pun selesai, sudah tertata rapi di dapur. Senja tergaris indah di langit yang biru, matahari semakin tenggelam. Adzan Maghrib berkumandang di surau dekat rumah, aku bergegas ambil wudhu kemudian kugelar sajadah berwarna coklat tua. Aku bersimpuh, berbisik pada bumi berharap langit mendengar semua rintih serta resahku. Mengharap ridho dari Sang Pemilik Raga, jika memang ini takdirku menjadi istri ketiga, maka aku pun harus belajar ikhlas. Jika ini adalah suatu cara sebagai baktiku pada orang tua, maka aku pun harus benar-benar rela menerima perjodohan ini.

    "Ya Robb, Sesungguhnya hanya Engkau yang berkehendak atas semua ini. Siapalah diri ini, yang nyawa saja memang MilikMU, semua pun akan kembali kepadaMu. Maka, izinkan aku memintal doa, mengharap sebuah jawab atas segala resahku ini." Pintaku pada Sang Pemilik Raga.

    "Ratmi, ndang keluar! Rombongan Juragan Ratno sudah datang," ucap Mamak dari luar kamarku.

    Aku segera menanggalkan mukenah, kemudian memakai kebaya berwarna biru telor asin pemberian Juragan Ratno yang memang sengaja ia siapkan untuk aku pakai malam ini. Kemudian masuk saudara sepupu dari bapak untuk membantuku memoles muka.

    Selesai sudah, make-up dan hijab pun sudah rampung. Aku bercermin, memandang lekat-lekat bayanganku sendiri. "Aku ikhlas jika ini adalah bentuk baktiku sebagai seorang anak untuk kedua orang tuaku," gumamku dalam hati.

   "Masya Allah cantik sekali anak mamak ini," puji Mamak yang tiba-tiba masuk ke kamarku. 

    "Ayo kita keluar, Nduk! Juragan Ratno dan rombongan sudah menunggumu," kemudian Mamak menuntunku keluar dari kamar, menemui rombongan mereka.

   Setiap pasang mata memandangku dengan takjub, entah karena kebaya yang memang elegan atau karna wajah ayuku yang semakin menawan dengan polesan make-up, karena selama ini memang aku tidak pernah memoles muka dengan apapun bentuk make-up. Hanya air wudhu yang menjadi air kecantikanku selama ini. Mungkin, inilah satu alasan Juragan Ratno berantusias sekali ingin memperistri seorang anak dari keluarga yang miskin sepertiku.

   "Dik, aku kesini mendampingi suamiku untuk meminangmu menjadi istri ketiga Mas Ratno dan menjadikanmu sebagai adikku juga adik dari Dik Rina yang hari ini memang tidak hadir dikarenakan perut Dik Rina yang sudah membesar!" ucap Mbak Rahayu, istri pertama Juragan Ratno. 

    Dengan santun dan lemah lembut Mbak Rahayu mengutarakan niatnya, meminang seorang gadis untuk menjadi istri ketiga dari suaminya. Dan itu seharusnya tidak pernah dia ucapkan kepada siapapun perempuan. Beribu tanya bergelayut dalam benak, ada sekelebat bayang hitam yang tiba-tiba mengusik netraku. Tak sepatah kata yang kuucap, hanya anggukan kepala saja sebagai tanda setuju.

    Acara pinangan telah pun berjalan lancar, para tetangga banyak yang menyaksikan. Bahkan ketika istri pertama dari Juragan Ratno melingkarkan cincin di jari manisku, banyak mulut mereka yang nyinyir. Entahlah, aku pun tidak mau ambil pusing tentang semuanya. Aku hanya ingin membahagiakan orang tua, membuktikan pengabdianku sebagai seorang anak dengan menuruti kemauan mereka. Sebab, jika seorang perempuan menikah dengan orang yang kaya raya maka hidupnya akan terjamin segalanya, itu kata Mamak dan Bapaku.

    "Tiga minggu lagi kita akan melangsungkan pernikahan di rumah mewahku, dan kau akan segera aku boyong ke rumahku. Kamu paham, Ratmi?" bisik Juragan Ratno dengan mengedipkan mata.

    Sebenarnya, aku jijik melihat tua bangka itu kegatalan di hadapanku. Aku hanya diam menunduk, tanpa berkata apa-apa. Mereka pun pulang. Hanya aku, mamak dan bapak yang tersisa. Aku bergegas masuk kembali ke kamar, sebisa mungkin menyembunyikan kekesalanku.

      
            πŸπŸπŸπŸπŸ


    Tiga minggu telah berlalu, hari pernikahan pun sudah di depan mata. Berkecamuk batin ini, seakan tidak mempercayai semuanya. Tapi inilah jalan yang harus aku tempuh, entah bahagia atau hanya nestapa yang akan aku dapat nanti. Aku hanya pasrah pada takdir dan keadaan. Mereka sudah pun sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan. Ya, aku akan bersanding dengan orang yang seharusnya menjadi kakekku. Tapi, demi tawa bahagia untuk mamak dan bapak, aku pun rela. 

    Mobil Avanza hitam telah pun terparkir di depan rumah, seorang lelaki dan seorang perempuan kemudian turun dari mobil. Tanpa harus mengetuk pintu, Mamak sudah menyambut mereka dan mempersilahkan masuk. 

    "Eh, Bu Indri sudah sampai?" tanya Mamak pada perempuan itu. Ya, perempuan itu adalah tukang rias pengantin yang telah dikirim oleh Juragan Ratno untuk meriasku. 

    Mamak kemudian membawa masuk Bu Indri ke kamarku, aku hanya tersenyum pada perempuan itu. 

    "Ayu tenan kamu, Nduk? Pantes saja Juragan Ratno kedanan sama kamu. Umurmu berapa, Nduk?" tanya Bu Indri sambil mengeluarkan perlengkapan alat riasnya.

    Aku hanya tersenyum, tanpa sepatah kata yang terucap dari bibir. Diam adalah caraku menahan segala emosi. Hingga selesai make-up pun aku hanya diam, sesekali tersenyum ketika ditanya ini-itu meskipun itu adalah senyum getir.

    Selesai sudah Bu Indri memoles mukaku, kemudian dia menyuruhku mengenakan kebaya putih tulang dengan manik-manik yang membuat penampilanku kian memukau.

    Supir membawaku dan Bu Indri ke rumah Juragan Ratno, sedangkan Mamak dan Bapak sudah diantar terlebih dahulu. Banyak pasang mata yang memperhatikan ketika aku turun dari mobil dan berjalan menuju kursi pelaminan. Di sana, Juragan Ratno sudah duduk bersama kedua istrinya, mereka mengenakan kebaya berwarna putih yang serupa dengan dengan kebaya yang aku pakai.

    Mamak menghampiriku, menuntunku untuk duduk ke kursi pengantin. Sejauh itu, aku hanya diam dan diam. Gemetar seluruh tubuh ketika seorang membuka acara.

    "Bagaimana, sudah bisa dilaksanakan?" tanya Bapak Penghulu.

    "Sudah!" ucap Juragan Ratno dengan lantang dan tegas.

    Acara ijab telah dilaksanakan, tidak ada kendala apapun. Bahkan kedua istri Juragan Ratno terlihat tersenyum. Entah itu senyum bahagia atau senyum kehancuran, yang jelas aku bukan seorang perampas! 

    "Nduk, mamak sama bapak pulang dulu. Mulai saat ini kamu sudah harus tinggal di sini dengan suamimu!" ucap Mamak memelukku erat.

   "Jadi istri yang baik, Nduk. Yang nurut sama suami. Karena surga seorang istri ada pada ridho suamimu!" lanjut Bapak memelukku dengan erat.

    Tak sepatah kata yang terlontar dari bibirku, aku hanya diam. Luruh air mata terus menganak sungai di sudut netra. Ada ketakutan serta kecemasan yang tiba-tiba menyerang pikiranku.


     πŸπŸπŸπŸπŸ


    Pernikahanku dengan Juragan Ratno telah berjalan dua bulan, mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Hingga aku pun terbuai dalam keadaan ini, tanpa sedikit saja aku menaruh curiga atas segala sikap mereka dan cara mereka dalam memperlakukanku. 

    Jalan tiga bulan aku menjadi istri ketiga dari Juragan Ratno, dia hanya menomor satukan keberadaanku. Aku tidak pernah diperbolehkan mengerjakan apa-apa, karena dia bilang aku adalah Ratu di rumah ini. Hampir tiap malam Juragan Ratno selalu menghabiskan malamnya denganku, tak lagi dia peduli kedua istrinya. Hingga pada akhirnya istri keduanya datang ke rumah dan memaki-maki aku. 

    "Dasar perempuan tidak tahu diuntung, harusnya kamu itu ngaca! Orang miskin seperti kamu itu tidak pantas tinggal di rumah mewah ini. Dasar pelacur!" katanya.

    Aku hanya diam tanpa sepatah kata pun untuk menjawab semuanya. Hanya tetes air mata yang menjadi saksi betapa sakitnya hati ini. Aku disebut pelacur, sedangkan aku tidak pernah melacurkan diri dengan siapapun. Perempuan itu semakin menjadi ketika Juragan Ratno lebih membelaku, dia mendorongku hingga aku jatuh terjerembab ke lantai. Darah keluar dari sela-sela pahaku, aku pikir aku sedang datang bulan dan rupanya aku keguguran. Aku menangis sejadinya kala itu.

    Dari kejadian itu, aku lebih suka mengurung diri di kamar. Sudah hampir dua minggu aku tak berkunjung menjenguk Mamak dan Bapak. Juragan Ratno pun berubah 180° dari biasanya, dia semakian acuh, semakin kasar. Dia mendekat dan baik jika dia menginginkan berhubungan intim denganku saja, selebihnya hanya ucapan kasar serta hinaan-hinaan yang ia lontarkan. 

    "Aku muak, Mak! Aku ingin pulang ke rumah Mamak!" gumamku dalam hati.

    "Kata Mamak, aku akan bahagia jika menikah dengan orang yang kaya raya. Nyatanya aku hanya laksana hewan peliharaannya saja, Mak!" 

    
     πŸπŸπŸπŸπŸ


    Sudah beberapa bulan aku hanya dibiarkan saja, tidak ada sentuhan, tidak ada nafkah lahir batin lagi untukku. Kedua istri Juragan Ratno mengurungku di dalam gudang. Ya, aku hanya diperlakukan layaknya hewan peliharaan saja. Mamak dan Bapak tidak pernah tahu keadaanku yang sesungguhnya. 

    "Ratmi, besok aku akan mengurus perceraianmu dengan Mas Ratno. Dan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari sekian banyaknya harta Mas Ratno, kamu paham itu?" ucap Mbak Rina sambil meludah di mukaku.

    "Aku mau pulang ke rumah orang tuaku, aku mohon biarkan aku keluar dari sini!" pintaku memelas.

    "Hah, kami membiarkanmu keluar dari sini? Hahaha … jangan pernah mimpi kamu! Kamu memang pantas kami perlakukan seperti ini," lanjut Mbak Rahayu menyiramku dengan air.

    Siksaan demi siksaan, hinaan demi hinaan terus aku dapatkan dari mereka. Hingga suatu ketika Juragan Ratno menyambukku dengan sabuk yang ia kenakan. Entah apa yang telah merasuki pikirannya, dia benar-benar telah jijik melihatku.

    "Ampun, Juragan. Aku mohon lepaskan aku, biarkan aku pulang ke rumah Mamak!" rengekku.

   Namun, tidak ada ampun. Seakan pikiran dan mata hatinya telah dirasuki oleh iblis. Aku lunglai tak berdaya. Dua hari sudah aku tidak mendapatkan jatah makan, Bibi yang biasa mengantar makanan pun diancam oleh kedua istri Juragan Ratno. Hingga kemudian Bibi sembunyi-sembunyi membuka pintu gudang dan menyuruhku kabur dari rumah mereka. Tuhan berpihak kepadaku, aku berhasil kabur dan kembali ke rumah orang tuaku.

    Dongeng Mamak tentang kebahagiaan seorang perempuan yang menikah dengan orang kaya raya telah pun usai, menyisakan luka dan nista yang menggerogoti atma. Ya, dongeng itu hanya sebuah ilusi dan tidak akan pernah menjadi nyata. 

   "Mak, maafkan atas kegagalan ini!"


Taichung, 15 Oktober 2019
   

Komentar

Postingan Populer