Di Balik Wayang

Di Balik Wayang
Oleh: Riana

    www.kaskus.co.id

     Tutup kelir dunia pewayangan. 
     Dalang sudah selesai memainkan wayangnya. Senyap tanpa alunan gamelan juga tanpa tiupan seruling yang memberi makna pada kehidupan dunia. Lalu, penonton pun tergesa-gesa menarik sarungnya, membenahi tikar yang mereka bentangkan di bawah panggung. Kemudian mereka buru-buru meninggalkan panggung. 

     Walaupun banyaknya kehadiran penonton, tapi tujuan mereka tidaklah sama. Ada yang mendengarkan, ada yang menghayati dan meratapi cerita lakon tersebut. Ada pula yang hadir lalu hanyut terkesima dengan alunan gamelan jawa yang mendayu, suara tiupan seruling yang seakan memaksa mata segera terpejam. Ada diantara mereka yang sampai tamat menyaksikan serta mendengarkan dan ada yang setengah permainan sudah pun terbuai dengan kesunyian alunan musik yang berubah menjadi dengkuran.
   
    "Jangan pernah jatuh di lubang yang sama! Riwayat cerita hanya keindahan semu sesaat. Tiada yang abadi di dunia ini, semua hanya mimpi yang memperdaya. Jika air mata yang mengalir mampu menyejukkan hatimu, maka menangislah! Menangislah ketika kau berbisik pada bumi! Harus selalu ingat bahwa miskin dan kaya bukan sebuah ukuran serta jaminan ke surga!" suara lelaki paruh baya yang terus mengiang di gendang runguku.

    Adalah aku, Marni. Seorang gadis desa yang tinggal jauh dari keramaian kota. Hanya berteman lumpur sawah. Setiap hari kuhabiskan hanya bermain dengan alam, ikut bersama Mamak yang menjadi buruh kuli persawahan orang-orang kaya di perkampungan. Hidup di desa yang serba manual, masih belum ada barang-barang canggih.  Apalagi Bapak mempunyai peternakan bebek, yang mengharuskan aku untuk mencari pakan bebek setiap pagi.

    Ketika anak-anak orang kaya sudah siap dengan seragam sekolahnya, dengan kaki yang bersepatu dan tas sekolah yang mereka gendong, sementara aku bergegas membawa ember yang dikalungkan di leher, ke sawah untuk mencari pakan bebek: keong dan kepiting sawah. Kaki berpijak di lumpur sedalam lutut. Dan mata harus kuedarkan dengan teliti, melirik kanan kiri untuk memburu keong sawah yang secara kasat mata memang serupa dengan lumpur tanah sehingga sulit untuk membedakannya. Terkadang juga harus ikut Bapak ngangon bebek-bebek itu ke sungai.

   Matahari sudah menampakkan sinarnya, itu artinya aku harus pulang kemudian ikut Mamak untuk mbutik bawang merah di lapak. Tidak ada hal yang menyenangkan selain ketika harus ikut dengan mereka menaiki mobil bak terbuka. Bukan mobil mewah tapi itu pun sudah mencipta tawa bahagia di raut wajah para pembutik bawang merah

    Jika anak seusiaku bersorak riang dengan teman-temannya ketika jam istirahat pelajaran atau ketika mereka bersepeda berangkat dan pulang dari sekolah. Jika tawa mereka adalah atas segala fasilitas dan kemewahan dari orang tua mereka, maka aku bersorak riang atas hasil keringat sendiri. Tidak mewah memang, tapi begitu berarti dan berharga sekali untukku karena bisa membantu meringankan beban kedua orang tua.

    "Kamu apa ndak malu, cah ayu? Harusnya kamu sekolah!" ucap juragan bawang yang mempekerjakan kami.

    "Untuk apa malu? Toh, ini adalah pekerjaan halal, bukan?" jawabku menunduk.

    "Iya. Memang betul, tapi anak seusiamu harusnya masih sekolah biar jadi orang pintar dan sukses."

    Andai aku bisa menawar takdir, cuma satu mimpi yang ingin aku raih yaitu menjadi seorang Dokter sukses dan menyediakan pengobatan gratis untuk orang-orang yang tidak mampu. Tapi kemiskinan telah pun mengubur paksa semua mimpi, aku hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. Mimpi hanya menjadi kisah usang yang tidak akan pernah aku raih.
Tapi apakah aku menyesal terlahir dari keluarga miskin? 
Jawabannya: Tidak!
Aku tidak pernah malu apalagi menyesali nasib. Sebab, bagaimana keadaan kita, Tuhan telah pun menakarnya. Dan semua atas kehendak-Nya.

           *****

     Beranjak dewasa aku telah terbiasa dengan kemiskinan dan hidup yang serba pas-pasan. Panas perihnya hidup telah mengajarkan bagaimana bertahan meski dalam kesengsaraan. Bagiku, kemiskinan bukan sebuah beban berat dalam kehidupan. Bahkan ketika aku dan keluarga harus menahan lapar karena tak ada orang yang membutuhkan tenaga kami sehingga tidak sepeserpun uang yang kami dapat sebagai rezeki. Iya, dulu ketika tanah persawahan di perkampungan menjadi kering kerontang. Kemarau panjang telah pun merenggut kehidupan para petani. Hujan tak kunjung datang hingga memaksa petani menangis, seakan tak lagi ada kehidupan yang lebih baik lagi untuk mereka. Berhektar ladang padi gagal untuk dipanen. 

    Kemudian kemiskinan telah memaksaku untuk berpikir lebih tua dari usia yang sebenarnya, dan memutuskan untuk menjadi seorang tenaga kerja wanita. Mencoba untuk memulai hidup baru, berharap lembaran yang lusuh itu akan terganti dengan lembaran yang baru nan indah. Menjejakkan kaki di negeri rantau demi masa depan.

    "Apakah sudah mantap dengan keputusanmu untuk menjadi seorang tenaga kerja wanita, Nduk?" tanya Bapak lirih.

Dengan berurai air mata, aku pun mengangguk. Bibir ini kelu tak dapat berucap. Hanya isak tangis yang menjadi saksi segala keresahan, asa dan rasa.

   "Bapakmu iki bukan tidak mengizinkan kamu pergi, tapi kamu lihat sendiri bapak wis sepuh. Alangkah baiknya jika kamu di rumah saja, menantikan jodoh datang meminangmu!" 

    "Mamak takut terjadi apa-apa sama kamu, Nduk. Banyak cerita dari orang-orang di kampung sebelah yang menjadi TKW di Arab Saudi: ada yang disiksa, ada juga yang tidak mendapat bayaran. Ngeri." Berurai air mata Mamak.

    Sementara aku hanya tertunduk diam, mencerna segalanya. Ada setumpuk asa untuk membahagiakan mereka sebelum ajal menjemput mereka, tapi satu yang menjadi ketakutan adalah jika aku melangkahkan kaki jauh meninggalkan rumah kemudian mereka sakit. Siapa yang akan merawat dan mengurus mereka? Sedang aku anak perempuan satu-satunya. Kedua adik semuanya lelaki.
Tapi aku juga tidak mungkin berdiam diri pada titik yang sudah tidak lagi memberi kehidupan yang layak. Aku harus berputar, layaknya roda sepeda tua Bapak yang setiap paginya selalu ia kayuh demi mencukupi anak istri.

    "Maafkan aku! Hanya doa restu kalian yang bisa membuat langkah kakiku jauh lebih baik lagi dari hari ini." 

    "Tapi Nduk, apa seharusnya kamu pikirkan lagi keputusanmu itu?" semburat duka tergambar jelas di wajah Mamak. 

   "Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu. Bapak doakan semoga langkah kakimu tak sia-sia dan mampu melepaskan kami dari jerat kemiskinan. Berangkatlah, Nduk. Gapai semua mimpimu!" ucap Bapak dengan mata yang berkaca-kaca.


  "Aku janji akan menjadi sesuatu yang bisa mencipta senyum bahagia di wajah kalian. Yakinlah!" aku memeluk mereka dengan penuh haru.

    Setidaknya jika aku tidak bisa menjadi seorang Dokter, maka harus bisa menjadikan adikku sebagai seorang Dokter. Itulah janji dan asa yang masih menjadi sebuah teka-teki dalam hidup.

    Sejatinya, hidup memang ibarat sebuah pergelaran wayang sesaat yang setiap gerakkan saja selalu diatur dan diawasi. Tapi, hidup pun harus terus berputar. Terus melangkah hingga kelak Sang Dalang (Allah Ta'ala) benar-benar akan menutup dunia pewayangan. Bukan begitu soal kehidupan di dunia? 


Taichung, 22 Oktober 2019

Tantangan Pekan 7
ODOP Batch 7
Konstantinopel

Komentar

  1. Berbicara tentang kehidupan itu tak pernah ada habisnya ya Mbak. Mantull, Mbak!

    Sedikit saran, Mbak dalam penulisannya. Kata telah pun baiknya diganti telah saja atau pun saja, menurutku sih.
    Semangaat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi terima kasih Teteh😉 aku edit lagi aja

      Hapus
  2. Diksinya keren ya, sarat makna, mengolah kata, menggabung arti dari sebuah kontes wayang sbg gbr langkah kehidupan tampak nyata.

    Hanya penggunaan kata ku, aku yg perlu diperhatikan.

    😘😘😘

    gendhukgandhes, odop7, tokyo

    BalasHapus
  3. Bagus mbak tulisannya. Salam kenal dari London

    BalasHapus
  4. Masyaallah keeeren banget. Huhuhu. Jadi minder kalau gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih. Jangan minder untuk terus berkarya, Kak😉 Aku saja masih banyak kekurangan

      Hapus
  5. Terharu ... :')
    Salam kenal dari Valletta :)

    BalasHapus
  6. 😍 dalem bgt, Kak Riana...
    Entah knp aq merasa ini pengalaman pribadi🙏😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan😆 hanya menggambarkan apa yang ada di kampungku. Aku tidak pernah ngangon bebek. Kalau menjadi TKW sih iya😂

      Hapus
  7. Keren, Mbak..
    Salam kenal dari grup Valetta 💐

    BalasHapus
  8. Keren, Mbak..
    Salam kenal dari grup Valetta 💐

    BalasHapus
  9. Masterrrrrrrr momi dedek berguru boleeee��������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah dedek ini, ayook kita belajar bareng😂

      Hapus
  10. Tulisan ini kemarin viral di grup besar. Sapporo pun ikut ramai karena tulisan ini, betapa tidak 10+ itu nilai yang ... apa ya aku menyebutnya? amazing!

    Kemudian ada narasi yang mengatakan kalau ini referensi untuk membuat cerpen tantangan pekan ke-7. wow, Amazing (2)!

    Aku lihat ternyata banyak rekan odopers lain yang sudah mampir duluan, memberi apresiasi, mendukung, sedikit mengoreksi, dan lain sebagainya.

    aku bingung mau komentar apa, keren sudah, mantul sudah ada, yang mengomentari diksinya bagus juga sudah ada. Amazing (3)!

    Yasudah, aku berdo'a saja. semoga tetap istiqomah dalam menulis, apalagi tulisan hikmah yang bisa mempengaruhi orang untuk berbuat baik atau untuk memiliki pandangan yang baik tentang kehidupan. Amazing (4)! lanjutkan!!!

    BalasHapus
  11. Mbak Ri...
    Keren banget cerpennya, maa syaa Allah

    BalasHapus
  12. Bagus mbak.. Jadi semangat baca tulisan mbak Riana..

    BalasHapus
  13. Sungguh, terimakasih telah berbagi tentang kehidupan. Hal yang ditulis dengan sepenuh hati itu memang beda. Bravo mb... Semangat terus ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer