Di Balik Wayang
Episode 4
Oleh: Riana
Waktu terus berputar, hari berganti hari, hingga berganti bulan. Tak terasa semua prosedur telah aku lewati di penampungan ini, tangis serta tawa terus menjadi teman setia setiap jantung ini berdegup. Sudah dua bulan aku stay di sini, menggantungkan sejuta harap. Selama itu juga aku tidak menatap wajah Mamak dan Bapak juga kedua adikku, hanya dua kali saja kubaca surat yang mereka kirimkan lewat Pak Karto jika dia datang mengantarkan orang untuk berproses di sini.
Semua dokumen serta pembelajaran bahasa sudah selesai, hanya tinggal menunggu visa keberangkatan maka aku akan melanjutkan perjalananku ke negara yang menjadi tujuan. Dua bulan sudah ku tepis segala keresahan, belajar untuk membiasakan diri menahan segalanya: ego, amarah, juga kerinduan. Sebab aku tahu bahwa suatu saat pasti akan merasakan hal yang tidak pernah aku inginkan. Tapi, hidup memang hanya sebuah ujian dari Sang Maha Pemilik Raga. Jalan hidup pun tak selamanya mulus, banyak kerikil tajam yang mau tidak mau harus tetap dipijak, banyak tikungan yang begitu tajam dan suka tidak suka tetap harus dilewati untuk bisa sampai pada titik yang dituju.
"Marni binti Wardi, segera ke kantor untuk bikin surat pernyataan. Bawa foto ukuran 4×6 dua lembar!" suara Cik Riana dari kantor mengejutkan lamunanku.
"Marni, cepetan! Hati-hati, Mar." Uci kemudian bersorak riang.
Ya, suara panggilan dari kantor adalah hal yang menyenangkan bagi kami yang sedang menunggu kabar baik, itu artinya proses demi proses telah kami lalui dan tinggal selangkah lagi menunggu proses selanjutnya yang paling dinantikan, yaitu pemberangkatan.
Aku bergegas lari menuju kantor, bahagia tak dapat kusembunyikan. Hari yang kutunggu selama dua bulan ini telah pun tiba.
"Siang, Cik." Aku menyerahkan dua lembar foto yang tadi Ci Riana minta.
"Mar, besok kamu ada jadwal PAP (pembekalan akhir pemberangkatan). Tanggal 12 terbang, majikan kamu ingin cepat." Ucap Cik Riana, seorang manajer dari PT Wahana menyerahkan satu lembar kertas bermaterai.
Kemudian aku pun segera mengisi surat perjanjian itu, ada rasa haru ketika mendengar kabar bahwa berapa hari lagi aku akan terbang.
"Doa kalian adalah kunci kesuksesanku," aku bergumam dalam hati.
Senyum sumringah terus kupamerkan menghias di sudut bibir, rasanya nano-nano sekali. Di satu sisi, perjuangan selama dua bulan di sini ternyata tidak sia-sia. Tapi di sisi lain, itu artinya aku benar-benar akan jauh meninggalkan mereka. Tiba-tiba batin bergejolak.
Kemudian aku menuju wartel untuk telepon Pak Karto, memberitahu kabar baik ini. Ingin rasanya aku menyuruh Mamak dan Bapak ke sini, tapi aku juga tidak mau melihat mereka menangis untuk kesekian kalinya.
"Halo … Assalamualaikum, Pak. Ini Marni, tanggal 12 Marni terbang. Kapan Bapak ke sini?"
"Wa'alaikumsalam, Nduk. Alhamdulillah. Kebetulan nanti malam bapak mau berangkat bawa orang, kamu mau nitip apa, Nduk?"
"Nggak mau nitip apa-apa, Pak. Aku cuma mau minta tolong sampaikan berita baik ini ke Mamak dan Bapak."
"Apa kamu mau mereka ke sana, Nduk?"
"Nggak usah, Pak. Nanti malah sedih. Ya sudah Pak, terima kasih."
"Iya Nduk. Kamu hati-hati."
Aku pun menutup telepon, tinggal berapa hari lagi aku benar-benar akan pergi meninggalkan bumi pertiwi ini. Tanah Indonesia yang kata banyak orang gemah ripah loh jinawi. Bayangan bagaimana majikanku nanti, bagaimana pekerjaan, juga bagaimana berbicara dengan orang-orang baru dengan bahasa yang baru pula.
***
Hari berlalu, tiba saatnya hari penerbanganku. Gugup, itu yang kurasa. Selama 19 tahun, baru kali ini merasakan gugup yang luar biasa.
"Mar, kamu sudah siap semua? Jangan ada yang tertinggal ya!" ucap Uci mengingatkan.
"Sudah, Mbak."
"Yang mau terbang hari ini segera kumpul ke depan kantor, bawa perlengkapan kalian. Jangan lupa bawa buku pelajaran juga!" Suara lantang Cik Riana kembali kudengar.
Aku bergegas keluar dari mess menenteng semua barang bawaan. Uci pun kemudian mengantarkan dan membantu membawakan tas ransel. Lalu aku berbaur dengan mereka yang hari ini akan terbang bersama, berpamitan dengan semua penghuni di penampungan ini. Dari staf, guru bahasa, juga teman-teman seperjuangan. Tangis menjadi saksi bagaimana perjuangan kami (para calon tenaga kerja) susah bahagia menjadi selimut yang tak terus melekat.
"Mar, jangan lupakan aku. Nanti kalau sudah bisa beli handphone kamu segera kasih kabar ke orang tua, juga aku!" Uci memeluk erat tubuhku.
Memang, nasib manusia itu berbeda. Dua bulan dua minggu aku berproses di sini, sedangkan Uci sudah hampir 4 bulan belum juga mendapatkan majikan.
"Iya, Mbak. Semoga Mbak segera dapat majikan dan cepat menyusulku, ya?" ucapku.
Setelah pak supir mengabsen nama-nama yang mau terbang, kami pun segera masuk ke mobil elf untuk melakukan perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta. Mobil melaju dengan kencangnya membawa kami, jalanan Ibu Kota memang selalu ramai.
Setelah 2 jam melakukan perjalanan, kami pun sampai di Bandara Soekarno Hatta. Kemudian kami masuk untuk mengantri cek-in bagasi terlebih dahulu. Lalu-lalang orang di dalam bandara membuat kepalaku sedikit pusing. Mungkin, karena aku belum terbiasa.
Cek-in bagasi telah pun selesai. Kemudian aku dan teman-teman masuk untuk menunggu pesawat. Aku menatap jauh ke luar jendela kaca. Berjejer pesawat serta lalu-lalang orang dengan aktivitasnya.
"Perhatian! Para penumpang pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan C1752 tujuan Taipei dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu B12. Terima kasih!" Suara pengumuman keberangkatan pesawat membuyarkan lamunanku.
Aku pun bangkit dari duduk dan antri untuk masuk ke dalam pesawat. Aku menunjukan potongan tiket kemudian menunjukan nomor kursi. 40A ZONE1 adalah nomor seat yang aku dapat. Lalu, petugas mengarahkan dari mana aku harus masuk.
Tepat di kursi nomor 40A aku berhenti. Lalu kukemas barang-barang bawaan dan menyimpannya di tempat penyimpanan barang di atas kepala. Burung besi akan melayang-layang di angkasa, membawaku ke tempat dimana aku akan menggantungkan segala harapan.
"Bismillah … restui langkah kaki ini, Tuhan!"
Bersambung….
Taichung, 1 November 2019
Tantangan Pekan 8
Cerbung Episode 4
Konstantinopel
ODOP Batch7



Banyak pengetahuan yang selama ini tak kuketahui tentang proses penerimaan TKI di cerita ini. Keren Mbak, ayok dibukukan.
BalasHapus