Di Balik Wayang
Episode 3
Oleh: Riana
Tangerang, 05 Oktober 2011
Mobil Pak Karto benar-benar telah meninggalkan perkampungan, bayangan tentang rumah bambu itu serta suasana perkampungan semakin tak nampak bahkan menghilang dari pandangan bersama laju mobil yang kian kencang. Setelah hampir 9 jam perjalanan, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Sebuah gedung bertuliskan Wahana Karya Suplaindo di bilangan Kota Tangerang, perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia yang begitu besar. Bangunan yang kokoh berdiri di tengah-tengah pabrik serta perkantoran lainnya.
Seorang satpam dengan segera membukakan gerbang pintu utama setelah Pak Karto menunjukan kartu identitasnya.
"Wah … tumben jam segini sudah sampai, Pak Karto? Bawa berapa orang hari ini?" tanya seorang satpam berkepala botak.
"Iya nih Pak. Besok pagi buru-buru soalnya mau jemput orang pulang Dari Malaysia, ini bawa satu orang saja." Pak Karto membuka kaca jendela mobilnya kemudian mengeluarkan sebungkus rokok untuk satpam tersebut.
Kami pun sampai di kantor yang menjadi tempat pengurusan dokumen serta lainnya. Pak Karto keluar dari mobil begitu juga aku yang terus mengikuti langkah kakinya. Banyak sekali orang yang datang ke sini, dari berbagai daerah untuk berproses kerja ke luar negeri yang menjadi tujuan masing-masing. Suara canda tawa mereka yang sebenarnya bukan sebuah simbol kebahagiaan, tapi aku tahu bahwa mereka sedang mencoba untuk menutup luka. Entah karena berpisah dengan keluarga, atau karena keterpaksaan meninggalkan anak dan suami di rumah.
"Nduk, ini kamu isi formulir pendaftaran dulu!" Pak Karto menyerahkan selembar kertas serta pulpen.
"Nggih, Pak." Aku mulai mengisi formulir pendaftaran.
"Pake huruf kapital semua, jangan ada yang salah walau satu huruf!" suara lantang seorang perempuan bermata sipit dengan kulit putih serta rambut ikal sebahu.
"Jangan galak-galak, Mam!" ucap Pak Karto terkekeh menggoda perempuan itu.
Ya, dia adalah Mami Lisa. Seorang staf yang dipercaya mengurus bagian pendaftaran, dari: pendataan, medikal lokal, serta cek bodi. Setelah semua prosedur selesai. Aku pun diantar ke mes yang akan menjadi tempat tinggal selama aku berproses di penampungan ini. Lalu Pak Karto pun berpamitan, meninggalkan aku di sini. Ingin rasanya aku kembali ikut dengannya. Pulang.
Akasia. Ya, setelah melakukan pendataan serta pembagian kamar, aku pun kemudian diantar ke kamar bertuliskan Akasia. Berbaur dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah aku kenal. Ranjang dua tingkat yang terbuat dari besi berjejer panjang sekali, dihuni lebih dari 200 orang. Tempat baru yang kini menjadi tempatku berkeluh kesah segalanya.
"Semoga tak banyak air mata yang tertumpah menemani hari-hariku karena merindukan mereka di rumah," aku bergumam sendiri.
"Mbak, baru datang ya? Sudah dapat ranjang belum?" tanya seseorang kemudian dia membawaku ke sebuah kamar tepat di pojokan dekat pintu.
"Iya, Mbak. Aku baru datang dari kampung."
"Kampungnya mana?" tanyanya.
"Brebes, Mbak." kemudian aku menata baju ke dalam loker yang Mbak itu berikan.
"Oh … aku dari Cilacap, Mbak. Tidur di atas ya, nggak apa-apa, kan? Soalnya aku nggak bisa kalau tidur di atas."
"Iya, Mbak. Nggak masalah kok, terima kasih."
"Namaku Uci, kamu siapa?" ucapnya mengulurkan tangan.
"Marni."
***
Semburat senja menggaris indah di atas sana, matahari hampir saja tenggelam ke ufuk barat. Lelah, itu yang kurasa setelah perjalanan, mengurus pendaftaran. Ingin rasanya ku rebahkan badan ini, melepas segala penat yang merongrong atma. Tiba-tiba bayangan senyum Mamak dan Bapak melintas di pelupuk mata, tepatnya aku rindu mereka.
"Mar, jangan ngelamun. Pamali nanti kesurupan," Uci menepuk punggungku.
Lamunanku buyar. "Nggak kok, aku nggak ngelamun. Cuma ingat sama keluarga di rumah."
"Aku juga dulu gitu pas masih baru-baru, kadang aku nangis kalau ingat anakku." Seketika wajah Uci berubah, ada sedih yang tercetak jelas di bola matanya.
Kemudian kami hanya diam, aku menatap ke arah bawah melihat lalu-lalang penghuni penampungan yang sedang sibuk dengan aktifitas masing-masing. Bangunan yang cukup luas, entah berapa lama aku berada di sini. Berharap secepatnya aku mendapatkan majikan dan proses selanjutnya agar bisa secepat mungkin mendapatkan uang untuk memperbaiki rumah.
"Mbak sudah punya anak?" tanyaku kembali membuka obrolan.
"Sudah, anakku dua." Jawabnya lirih. Luruh air matanya.
"Kamu sudah punya anak berapa?" lanjutnya.
"Aku belum menikah, Mbak."
Ya, setiap orang pasti diuji dengan hal yang berbeda. Setiap yang masuk ke sini untuk berproses kerja ke luar negeri pasti membawa problema hidup, membawa segala asa. Satu yang menjadi perundungan adalah ketika tak mampu membendung air mata sebab merindui mereka yang di rumah. Tiba-tiba aku larut dalam tangis bersama Uci, jika dia menangis karena merindukan anak-anaknya, aku pun menangis merindukan Mamak dan Bapak.
Bersambung…
Taichung, 31 Oktober 2019
Tantangan Pekan 8
Cerbung Episode 3
Konstantinopel
ODOP Batch 7



Hiksss ... Kok ikut nyesek merasakan kerinduan itu.
BalasHapus