Di Balik Wayang
Episode 2
Oleh: Riana
Suara deru mobil berhenti tepat di pelataran rumah, aku mengintip dari celah pagar bambu yang sudah berlubang. Seorang laki-laki paruh baya dengan celana jeans dan kemeja polos warna biru telor asin serta sepatu kulit hitam, keluar dari dalam mobil. Adalah Pak Karto, seorang calo yang membawa calon tenaga kerja wanita untuk dibawa ke PJTKI (perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia) yang berada di kota. Dia memang sudah berumur tapi masih terlihat gagah dengan penampilannya yang serba kekinian.
"Pak … Pak … Pak Karto sudah datang," ucap Mamak yang kemudian berjalan keluar rumah untuk menyambut kedatangan Pak Karto.
Bapak pun bergegas keluar, menemui Pak Karto yang memang sedari tadi sudah ditunggu.
"Assalamualaikum … ngapunten Pak Wardi, tadi mobil saya mogok. Jadi agak telat sampai sini," ucap Pak Karto sambil mengulurkan tangannya.
"Nggih, tidak apa-apa. Mari silahkan masuk, Pak!" Bapak mempersilahkan Pak Karto duduk di amben yang sudah tua itu.
"Nduk, sini! Pak Karto sudah datang ini," ucap Bapak kemudian.
"Nggih, Pak!" Aku bergegas keluar membawa tas ransel dan kardus yang akan kubawa ke kota. Baju serta perlengkapan sehari-hari selama tinggal di penampungan.
"Jadi gimana, Nduk? Apa kamu benar-benar sudah mantap dan siap berangkat ke kota hari ini?" tanya Pak Karto.
"Sudah!" jawabku lirih. Menyodorkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat untuk berangkat ke luar negeri.
Sementara Pak Karto melihat dan membaca semua dokumen, aku terus mendekatkan tubuh pada dekapan Mamak. Batinku sebenarnya menjerit pilu, ada nyeri yang terus menjejak di benak. Tapi, ini sudah menjadi jalan yang aku pilih dan harus tegar menghadapi semuanya di depan nanti.
Andai waktu dapat kuputar, rasanya aku ingin berlama-lama tinggal di rumah bambu ini. Menikmati hari-hari bersama mereka. Meski kadang harus menahan kantuk kala hujan tengah malam dan bocor di sana-sini. Tapi, di rumah bambu ini aku dilahirkan, pertama kali melihat betapa indahnya dunia. Pertama kali juga aku mendengar azan yang Bapak kumandangkan ketika itu. Di rumah bambu ini juga Mamak menjadi madrasah pertama untukku, mengajarkan segala hal tentang hidup. Bahkan di rumah bambu ini juga mungkin segala air mata telah tertumpah.
Selama ini, hidup kami memang serba pas-pasan. Sederhana sekali kehidupan yang kami jalani. Tapi rasa syukur yang selalu Bapak dan Mamak ajarkan begitu berarti, sehingga aku tak tahu bagaimana caranya mengeluh meski harus menahan lapar.
"Baiklah, dokumennya sudah lengkap semua. Jadi tinggal Paspor saja dan itu akan dibuat setelah hasil medical Marni vit." Pak Karto kemudian menyimpan berkas-berkas dokumen ke dalam tas kerjanya.
Untuk kesekian kalinya aku melihat gurat duka yang jelas tergambar di wajah sayu Mamak dan Bapak, begitu juga dengan kedua adikku. Pun dengan aku yang sudah tak mampu lagi menahan bongkahan agar tak menganak sungai di sudut netra.
"Berhubung sudah siang, bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga, Marni?" tanya Pak Karto.
"Baik, Pak."
Aku memeluk tubuh mereka satu persatu. Perpisahan membuat raga seakan meregang, tangis menjadi saksi akan duka yang menyudut di hati.
"Jaga diri kamu baik-baik, Nduk! Doa kami selalu menyertaimu." Bapak memeluk tubuhku erat, jemarinya yang kasar itu menyeka air mata yang menetes di pipiku.
Tak kuasa menahan haru, selama 19 tahun baru kali ini perpisahan terjadi. Bukan untuk selama memang, tapi terasa begitu menyayat atma.
Mamak memelukku begitu erat, seakan tidak mau melepas anak gadisnya pergi meninggalkannya untuk jangka waktu yang tidak sebentar.
"Nduk, jika suatu saat kamu rindu kami. Senantiasa selalu baca Al-Fatihah untuk kami di rumah. Pun dengan kami, doa Mamak ada di setiap degup jantung ini. Jangan pernah lupakan kami! Jangan pernah sombong jika kelak kamu menjadi orang sukses!" air mata Mamak pecah. Sesak dada ini ketika melihat Mamak menangis dengan sedunya.
"Mak, jika hari ini air yang keluar dari mata kita adalah simbol dari kesedihan. Maka izinkan aku membuat tangisan kita menjadi simbol dari rasa bangga dan bahagia ketika kita berjumpa kembali!" untuk sekali lagi aku pasrah pada tangis dalam dekapan Mamak.
"Bismillah," aku melangkah keluar dari rumah. Meninggalkan setiap kenangan yang telah tersimpan rapi di dalam rumah bambu itu. Membawa sejuta asa yang telah terajut di setiap doa kala kuberbisik pada bumi, menangis dalam sujud.
Pak Karto membuka pintu belakang untuk menaruh barang bawaanku, kemudian dia mempersilahkan masuk ke dalam mobil. Untuk kesekian kalinya aku melihat duka yang tercetak jelas di bola mata mereka. Tangis Mamak dan kedua adikku masih belum sirna. Sementara Bapak, masih dengan tenang meski ada gurat sedih yang aku lihat di wajahnya.
Mobil Pak Karto melaju dengan kencang menuju Ibu Kota.
Bersambung….
Taichung, 30 Oktober 2019
Tantangan Pekan 8
Cerbung Episode 2
Konstantinopel
ODOP Batch 7



Ya Allah, hatiku ikut tersayat-sayat.
BalasHapusBagai ditusuk sembilu😂
Hapus