Di Balik Wayang episode 1

Di Balik Wayang
Episode 1 (Kelanjutan Pekan Lalu)
Oleh: Riana



Semburat mentari pagi telah nampak indah menggaris di atas sana, tak lagi sembunyi di balik punggung gunung Slamet. Gemericik air dari padasan memberi sejuk pada wajah. Lalu kuseka dengan kain batik pemberian Mamak. Hari ini, aku bersiap untuk ke kota. Memulai segalanya, berproses agar bisa menjadi seorang tenaga kerja wanita ke luar negeri.

"Nduk, kamu sudah siap belum?" tanya Mamak yang sedari subuh tadi sudah sibuk di pawon

"Bentar, Mak. Aku masih nyuci baju."

Aku bergegas menyelesaikan cucian. Jika dulu, setiap pagi aku harus ke sawah mencari pakan bebek. Tapi sekarang tidak lagi melakukan pekerjaan itu, Bapak menyuruh Trio, adik bungsuku untuk menggantikan.

"Sudah benar-benar mantap mau ke kota hari ini, Nduk?" tanya Bapak sembari menyeruput teh dan menikmati singkong rebusnya.

"Sudah, Pak."

"Yo wis. Hati-hati di sana, doa kami selalu menyertai langkahmu, Nduk." Mamak menyodorkan satu cangkir kopi hitam yang aromanya langsung merasuk dalam otakku. Menenangkan.

Menjadi seorang tenaga kerja wanita tentu bukan cita-cita setiap orang, termasuk aku. Tapi jika dengan jalan ini mampu merubah garis hidup, kenapa tidak? Toh, apapun pekerjaan itu selagi kita mau bersyukur dan ikhlas menjalaninya, maka berkah yang akan didapat.

Ada duka yang kutangkap dari nanar mata mereka. Dan aku tahu pasti bagaimana perasaan mereka yang mau tidak mau harus rela melepas anak gadisnya pergi, terbentang jarak dan waktu yang cukup lama. Kuedarkan pandangan, mengelilingi tiap sudut rumah yang masih berdindingkan bambu, beralas tanah liat yang selama ini menjadi pijakan kami. Rumah yang selama ini telah memberi banyak kenang dan pelajaran hidup, kini harus aku tinggalkan. Rumah yang selama ini menjadi tempat dan saksi ketika aku memintal doa serta segala asa di setiap sujudku, berbisik pada bumi.

"Doakan aku, semoga bisa sukses membangun kembali rumah ini dengan dinding yang lebih kokoh lagi, bukan terbuat dari bambu. Agar lantainya pun menjadi keramik, bukan tanah liat lagi yang setiap hujan pasti akan becek." Aku menyeka bulir bening yang membasah di pipi.

Sejenak hening. Tak sepatah kata yang terucap dari bibir kami. Kemudian larut dalam duka. Hanya isak tangis yang telah berhasil memecah kesunyian. 

"Izinkan aku menjadi sesuatu yang mampu terus mencipta senyum bahagia di sudut bibir kalian!" aku mendekat pada Mamak kemudian pasrah pada tangis dalam pelukannya.

"Berangkatlah, Nduk! Mamak yakin kamu pasti bisa melepaskan kami dari jerat kemiskinan ini."

Ya. Aku selalu yakin bahwa setiap ucapan dan doa yang keluar dari bibir seorang perempuan yang telah berkongsi nyawa denganku adalah doa yang paling mustajab. Setiap tetes air mata seorang ibu kala menengadah tangan meminta pada Sang Pemberi Nikmat adalah sebuah kekuatan untuk langkah anak-anaknya.

Entah, degup jantung ini kian tak berirama. Ada gores duka yang seakan menyayat-nyayat hati ketika netra menyaksikan setiap tetes bulir bening yang membasah di pipi mereka. Perih.

"Jam berapa Pak Karto  ke sini jemput kamu, Nduk?" seakan cemas kian memenuhi benak Bapak. 

Tubuh renta itu mondar-mandir penuh kekhawatiran. Dan aku dapat menangkap segala gundah yang jelas tergambar di raut wajah sayunya. Bapak, seorang laki-laki.

"Katanya jam sembilan Pak Karto ke sini, Pak."

Aku kembali menatap puing-puing rumah. Genteng yang sudah sangat tua dan selalu bocor ketika musim hujan yang mengharuskan kami tidak bisa tertidur lelap kala hujan membasah di pelataran malam. Usuk yang terbuat dari bambu itu pun terlihat sudah tak kokoh lagi. Membuat semangatku kian membara untuk segera menghasilkan uang dan membangun kembali rumah ini.

"Tuhan, ridhoi setiap langkah kaki ini untuk mereka. Izinkan aku mencipta bahagia sebelum ajal menjemput mereka."


Bersambung…

Taichung, 29 Oktober 2019

Tantangan Pekan 8
Cerbung Episode 1
Konstantinopel
ODOP Batch 7

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer