Berselimut Dosa



Sumber gambar dari Google


Sesungguhnya iblis berdiri di depan manusia, jiwa di sebelah kanannya, nafsu berada di sebelah kiri manusia. Sedangkan Allah selalu berada di dalam hati manusia.
Sementara iblis terkutuk selalu mengajak manusia untuk meninggalkan Agama, mengajak manusia ke arah maksiat. Nafsu mengajak manusia untuk selalu memenuhi syahwat. Sedangkan dunia selalu memperdaya manusia untuk memilihnya dan melupakan akherat. Dan anggota tubuh selalu mengajak manusia untuk berbuat dosa.
Sementara Tuhan, Ia selalu mengajak manusia supaya masuk syurgaNya, serta memberi ampun atas dosa-dosa yang telah manusia perbuat. Sebagaimana Firman-Nya yang telah tercantum di dalam kitab suci Al-Qur'an bahwa Ia Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba-Nya lagi Maha Pengasih.

Mungkin, orang lain melihat keluargaku begitu bahagia. Sebab senyap, tak pernah ada pertengkaran dalam biduk rumah tanggaku. Ya, hidup memang seperti itu. Sawang-sinawang.
Namaku Rima, usiaku kini 35 tahun. 10 tahun lalu aku telah disunting oleh seorang pengusaha tambang batu bara yakni Tomy Mahardi Irawan. Pernikahanku dengan Mas Tomy dikaruniai 2 orang anak. Yaitu Steve 8 tahun dan Tasya 6 tahun.
Segala kemewahan aku dapatkan dari suamiku. Apapun yang aku inginkan pasti akan ia berikan. Berlibur kemana pun pasti ia setujui, berapa kali aku keliling Eropa.

“Iya, aku bahagia!” gumamku penuh murka.

Bukankah kebahagiaan itu sebenarnya bukan dinilai dari kemewahan? Lantas kebahagiaan yang bagaimana lagi yang seorang perempuan cari?

10 tahun sudah pernikahanku dengan Mas Tomy, selama itu juga aku menyembunyikan semua. Batinku menjerit, aku seperti mayat hidup yang tak berarti apa-apa, tak memberi makna sebagai seorang istri. Aku haus akan kasih sayang, kering keronta batin ini, sebab aku hanya dibiarkan seorang diri dalam hitamnya malam. Mas Tomy jarang sekali pulang, apa lagi menyentuh, menemaniku dalam dinginnya malam serta memberi setetes embun ketika batinku kekeringan, kehausan. Tidak, dia tidak pernah memberiku nafkah batin.
Kesibukan, harta dan kemewahan yang selama ini Mas Tomy nomor satukan. Sementara aku dan anak-anak hanya menjadi boneka mainannya saja. Mungkin kemewahan baginya adalah sebuah kecukupan untuk membahagiakan anak istrinya, dan sebuah jaminan utuhnya serta mempererat tali pernikahan.

"Kapan kamu pulang, Mas?" secarik pesanku untuk Mas Tomy lewat aplikasi WhatsApp.

"Belum ada jadwal cuti untuk bulan ini," balasnya singkat.

Aku semakin geram, panas dingin tubuhku. Bola mataku kian memanas.

"Aku juga manusia biasa, Mas. Aku butuh kamu, pun dengan anak-anak yang selalu merindukan dan bertanya tentangmu." Gerutuku dalam hati.

Malam kian pekat, kutatap langit dengan ratusan lampion-lampion kecil yang menyala, menerawang sejauh mata memandang. Indah sekali, meski terkadang langit pun berduka, meski langit terkadang menangis. Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku, rupanya baru pukul 23.00 WIB. Kulihat anak-anak sudah terlelap tidur, begitu pun dengan mbak Asih asisten rumah tanggaku. Rumah kian sunyi, hanya denting jarum jam dan suara-suara binatang malam dari luar yang masih setia mengusik gendang runguku.

Kulangkahkah kaki, keluar dari rumah. Ku starter Avanza berwarna silver hadiah ulang tahunku dari Mas Tomy. Kususuri jalanan Ibu Kota. Tak ada tujuan.
Jalanan Ibu kota di malam hari pun terlihat lenggang, hanya beberapa kendaraan yang masih berseliweran di atas aspal. Tepat di sebuah bar aku menghentikan laju mobilku, kuparkir dan kuayunkan kaki masuk ke dalam bar, kemudian aku mencari kursi di pojokan. Berharap aku dapat menemukan kebahagiaanku di sini, di tempat yang terkutuk ini.

"Cekreeekkk …" kunyalakan korek memanggil waiter.

"Mau minum apa Mbak?"ucapnya menyodorkan buku menu.

Aku terperanjat, bola mataku semakin membesar. "Busyet … ini cowok ganteng banget." Gumamku dalam hati.

“Mmm … orange juice saja, Mas!” pintaku.

Dia pun bergegas meninggalkan kursi yang kududuki. "Oke, tunggu sebentar Mbak!"

Ada getar yang berbeda di dadaku, degup jantungku semakin tak berarah. Kupandangi waiter itu dari kejauhan, alisnya yang tebal, rambut gondrong serta perawakannya yang tinggi besar membuatku semakin tak karuan.

"Tuhan, perasaan apa ini?"  gumamku.

Lamunanku buyar ketika suara seseorang mengagetkanku.

"Mbak, orange juice-nya. Silahkan!"

Lidahku kelu, tak mampu berkata apa-apa. Hanya anggukan kepala saja dengan senyum malu.
Dia pun meninggalkanku, kembali melanjutkan aktivitasnya.
Entah perasaan apa ini, yang jelas ada getaran yang sama ketika dulu Mas Tomy melamarku.

"Tuhan, jauhkan aku dari perasaan yang hanya akan membawaku pada kenistaan!"

Rupanya, malam pun kian larut. Namun pandanganku masih saja tertuju pada waiter tadi. Kuhabiskan minum dan bergegas keluar dari bar. Kuselipkan beberapa lembar uang seratus ribu-an beserta nomor telepon di bawah gelas yang sudah tak berisi lagi.

🍁🍁🍁🍁🍁


“Dreeeddd … dreeeddd …" bunyi telepon genggam mengagetkanku, memaksaku untuk menyudahi segala mimpiku.

"Halo, benar ini Mbak Rima?" suara seorang laki-laki dari seberang sana.

"Iya, aku Rima. Maaf ini dengan siapa?" kataku.

"Aku, Dimas. Mbak."

"Dimas? Dimas siapa ya?"

"Yang semalam itu loh Mbak, waiter yang di bar."

"Mmm … oh iya. Aku ingat," rasanya aku tak percaya. Kucubit pipiku sendiri untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi di siang bolong.

"Nanti malam datang lagi ya Mbak, aku tunggu!" pintanya.

"Mmm … gimana ya? Oke lah nanti malam aku kesana."

Aku pun bergegas bangkit dari ranjangku. Kubuka lemari baju, kupilih dan mencobanya satu persatu. Aku harus terlihat cantik dan anggun untuk malam nanti, harus terlihat mempesona di depan Dimas. Kulempar  satu persatu gaun yang telah aku coba hingga semua berserakan di atas lantai.

"Sial, tidak ada yang cocok. Aku harus ke butik sekarang juga, aku harus ke salon juga." Gerutuku.

Rasanya sudah tak sabar. Andai dapat kuputar waktu, pasti sudah kuputar dari tadi.

🍁🍁🍁🍁🍁


Hari telah berganti, hitam pun telah menyelimuti langit, gemericik hujan di luar menumbuhkan hasratku. Kian mendera batinku.

"Mbak, jam berapa mau datang? Aku sudah di bar. Jangan malam-malam ya, kalau bisa sekarang saja kesininya. Biar kita bisa leluasa kenalannya, mumpung jam kerjaku juga belum mulai." Tulis Dimas dalam secarik pesannya.

Aku yang memang seperti kehausan pun segera bergegas untuk menemuinya. Entah iblis apa yang telah merasukiku, sehingga aku tak lagi ingat akan ikrar janji ketika akad nikah. Bahkan aku tak lagi memperdulikan marwahku sebagai seorang istri dari suamiku. Aku hanya ingin bahagia, melepas semua resah dan melepas semua yang selama ini mengganjal dalam benakku.

Kuparkir mobil tepat di parkiran depan bar, bergegas masuk ke dalam bar. Kulihat Dimas pun tengah asyik dengan telepon genggamnya. Kuberanikan diri menghampirinya.

"Hai …  Dimas," sapaku melambaikan tangan manja.

"Eh, sudah sampai Mbak?" Dimas pun bangkit dari duduknya, ia tarik kursi dan mempersilahkanku duduk.

"Manis sekali cowok ini," gumamku dalam hati.

Kami ngobrol ngalor-ngidul, sesekali Dimas melirik mencuri pandang, pun dengan aku. Dimas juga menyentuh tanganku dan aku membiarkan jarinya meremas jemariku. Degup jantungku kian tak menentu, aku menemukan kebahagiaan bersamanya.
Dari pertemuan itulah awal petaka dalam hidup dan biduk rumah tanggaku. Aku merasakan nikmat yang sesaat tapi dosa yang kutanggung seumur hidup bahkan hingga kelak aku mati. Aku tak mampu lagi mempertahakan marwah sebagai seorang wanita, seorang istri dan seorang ibu dari anak-anakku. Aku tak lagi diam di rumah mengurus anak-anakku, urusan rumah sudah aku pasrahkan semua pada Mbak Asih, dan urusanku hanya memuaskan nafsuku. Sampai akhirnya  aku memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah, kujadikan tempat untuk melepas rindu pada Dimas, bahkan aku pun rela mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk memenuhi kebutuhan Dimas, seorang waiter yang telah meluluh lantahkan hatiku. Aku tak lagi memperdulikan anak-anakku, apalagi untuk berkirim kabar pada Mas Tomy.

🍁🍁🍁🍁🍁

Aku terlena, terbuai dalam nikmatnya duniawi. Aku menghiantai pernikahan. Aku menjelma menjadi iblis yang hanya memikirkan kepuasan nafsuku semata.
Aku tak pernah sadar bahwa Mas Tomy mengintai gerak-gerikku, rupanya Mas Tomy membayar orang untuk memata-matai aku. Terbongar sudah perselingkuhanku. Aku digerebeg warga ketika aku tengah berdua di rumah kontrakan dengan Dimas. Aku tak menyangka ternyata Mas Tomy diam-diam sudah mempersiapkan semua. Ia datang bersama warga.

"Braaaakkkk …!" terdengar seperti ada orang yang menendang pintu.

"Suara apa itu, Sayang?" tanyaku pada Dimas.

Dia pun seakan kebingungan.  "Biar aku lihat dulu, Sayang."

"Hei ... keluar kalian. Iblis!" suara pekikan itu membuatku terperanjat.

Kuintip dari lobang pintu, betapa terkejutnya. Aku melihat Mas Tomy tengah berdiri di depan rumah kontrakanku.

"Warga? Mau ngapain mereka? Jangan-jangan ... tidak,ini tidak mungkin!" perasaan takut seketika menyelimuti otakku.

Kulirik Dimas, ada gurat ketakutan di wajahnya.

"Rima, keluarlah. Tak perlu lagi kau bersembunyi!" ucap Mas Tomy dengan sabarnya.

Dengan perasaan takut yang mendera, aku pun memberanikan diri untuk keluar menemui mereka di luar. Namun, aku tak punya keberanian untuk menatap bola mata Mas Tomy yang kian memerah, seakan ada kobaran api yang membara di dalamnya. Ada kekecewaan yang menyelimuti perasaan Mas Tomy. Aku hanya bisa terdiam tanpa bahasa, tertunduk malu bersekimut ketakutan.

"Maafkan aku, Mas. Aku mohon!" ucapku lirih, bersimpuh di kaki suamiku.

"Mulai hari ini, detik ini juga. Saya (Tomy Mahardi Irawan) ceraikan kamu, Rima binti bapak. Ridwan (Almarhum) dengan talak tiga!" pekik Mas Tomy di depan banyak pasang mata.

Seketika nafasku sesak, dadaku sakit sekali, tubuhku berat seakan langit runtuh menindih tubuhku. Mendadak gelap penglihatanku, aku tak mampu lagi menopang tubuh ini. Tangisku pecah menggelegar.

"Maafkan aku, Mas. Aku mohon!"  aku semakin mengiba pada Mas Tomy.

Mas Tomy yang terlanjur kecewa pun tak lagi menghiraukan isak tangisku, meski aku megiba dan memohon.

"Minta maaf lah pada Tuhan. Bertaubatlah kepada-Nya!" Mas Tomy pun berlalu meninggalkanku.

Kini, aku kehilangan semuanya. Anak-anak, kemewahan, dan gelar jutawan yang aku sandang selama aku menjadi istri mas Tomy. Hidupku tak karuan, luntang-lantung tak ada tempat tinggal, untuk sesuap nasi pun aku harus meminta-minta. Dimas yang dulu kubela mati-matian telah berlalu meninggalkan aku, ia lebih memilih perempuan lain yang lebih muda dan cantik dari aku.


Taichung, 8 Oktober 2019

Komentar

Postingan Populer