Tentang Syukur

Ingatlah setiap nikmat yang telah Allah Ta'ala karuniakan. Allah telah memberi kita kehidupan, melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga telapak kaki. Setiap hembus nafas dan degup jantung kita adalah nikmat-Nya, setiap kesakitan kita juga termasuk nikmat-Nya, kesengsaraan dalam hidup kita pun menjadi nikmat-Nya.

Bahkan di dalam kitab suci Al-Qur'an telah pun tersirat dan tersurat; “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (QS. Ibrahim; 34)

Terkadang, kita lupa bahwa; Kesahatan jasmani rohani, kecukupan sandang pangan, udara yang kita hembus, air yang telah tersedia adalah nikmat-Nya. Namun, kita tidak menyadari semua nikmat itu. Mungkin ini yang disebut 'miskin syukur'. "Astaghfirullah hal adzim."

Seperti apa yang berlaku dalam hidupku, terkadang aku lebih sering mengeluh. Tanpa aku bisa melihat ke bawah, bahwa; di bawah sana masih banyak yang jauh lebih susah dan menderita, banyak yang kekurangan sandang pangan. Ya, selama ini aku hanya mendongak ke atas sehingga ambisiku telah menutup mata hatiku. Seakan penyakit hati telah menggerogotiku, aku lemah dan tak berdaya dengan itu semua. Tanpa aku berfikir bahwa Allah begitu mencintaiku, memberiku ujian dengan kesengsaaraan. Ya, itu yang selalu aku pikir, seakan ujian itu menjadi momok yang paling menyeramkan. Namun Allah telah menguatkan bahu ini untuk memikul semua beban, Allah merangkulku dengan tumpah ruah welas asih serta kenikmatan yang berlimpah.

Alangkah Maha Segala-Nya, Allah Ta'ala.
“Dan, dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.” (QS. Lukman; 20)

Allah telah pun menyempurnakan nikmat-Nya kepadaku, tidak seharusnya aku terus mengeluh dan mengalah dengan keadaan. Malu sekali jika aku harus mengeluhkan hidup yang penuh nikmat.

Seperti hidup pun penuh kejutan, Allah selalu memberi kejutan pada hamba-hamba-Nya; aku telah pun dikejutkan dengan berbagai kejadian dan ini adalah nikmat-Nya. Maha Besar Allah yang mencintai hamba-Nya, mencintaiku dengan menitipkan kunci surganya kepadaku yaitu dengan menghadirkan anak Down Syndrome yang telah Allah amanahkan untuk menjadi tanggung jawabku dunia akhirat. Dan itulah bukti cinta-Nya kepadaku, sebab aku tahu bahwa hanya orang-orang yang menjadi pilihan-Nya yang Allah titipkan kunci surga-Nya.

Meski tidak sedikit orang beranggapan bahwa apa yang menimpaku adalah sebuah karma atau sebuah kutukan. Tapi, ah rasanya picik sekali pemikiran mereka terhadap suatu takdir yang menimpa orang lain. Kesengsaraan ini yang pada akhirnya benar-benar membuka mata hatiku untuk terus berhijrah dan mempertahankan keistiqomahan dalam perjalanan hijrahku.

Jadi, apapun yang sudah menjadi takdir kita maka nikmati dan syukurilah. Tidak ada bahagia jika kita belum merasakan nikmatnya kesengsaraan, seperti pelangi; takkan ada pelangi jika tidak didahului dengan hujan, langit menangis sebab ia pun ingin menampakan warna yang begitu indah menggaris di atas sana.

Jika, hanya sengsara yang dirasa. Mungkin sebab kita pun miskin akan rasa syukur,“La Tahzan, Allah bersama kita.”

Maka; maknailah rasa syukur sebagai kebutuhan kita. Seperti hal nya dengan 'salat', jika kita menganggap salat adalah 'kebutuhan' maka kita pun akan terus mengejarnya, sehingga kita pun akan merasa menyesal jika meninggalkannya. Manakala kita sadar, betapa hinanya diri kita ketika kita mendapat tumpah ruah kenikmatan namun kita tidak pun mengingat bahwa Allah yang telah memberi nikmat itu, kita mendustakan semua nikmat yang telah Allah limpahkan, bahkan kita tidak menjadi hamba yang patuh pada perintah-Nya.

Seperti saat ini, aku bergabung dengan orang-orang hebat, dipertemukan dengan mereka yang selalu peduli, selalu memberi motivasi untuk tetap tersenyum bahagia meski dalam kesusahan. Dari mereka aku pun belajar bagaimana memaknai rasa syukur serta menerapkannya untuk hidup yang lebih berarti lagi. Jadi, menerapkan rasa syukur dalam diri itu juga perlu dan penting ternyata.

Semoga; aku bisa menanamkan rasa syukur pada diri anak-anakku sejak dini hingga kelak mereka tumbuh dewasa, mereka akan paham dengan makna syukur yang sesungguhnya. Sehingga jika mereka mendapat kesusahan maka yang pertama mereka ucap adalah kata 'Alhamdulillah'.

“Jadi, bagaiaman dengan hari ini? Sudahkah kita bersyukur hari ini?”
Semoga kita tidak seperti Qorun, yang telah kufur atas nikmat yang ia terima dari Allah Sang pemilik dunia beserta isinya. Semoga kita pun senantiasa berada di jalan yang Allah Ta'ala ridho'i.

Taichung, 10 September 2019

Komentar

  1. Balasan
    1. Makasih dek, masih acak-acakan ya tulisanku😊

      Hapus
  2. Bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat.Nya... Alhamdulillahirobbil'alamin 😊

    BalasHapus
  3. MasyaAllah. Terimakasih sudah diingatkn perihal syukur mba

    BalasHapus
  4. Dengan Syukur, Nikmat Allah akan terasa Besar meski hanya sedikit

    BalasHapus
  5. Subhanallaah. Seberapa pun kita hitung, tak akan ada habisnya apa yang dimaknai dengan nikmat ya, Mbak. Termasuk buah hati. 😊

    BalasHapus
  6. MasyaAllah, isi dan bahasanya bagus sekalii. Suka saya

    BalasHapus
  7. MasyaAllah tulisan yang menawan kak. Dengan apik memainkan kata. Kisah perjuangan hidup yang luar biasa. 1000 jempolan untuk Kak Riana.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer