Sri part 3




Tak sepatah kata yang terucap dari bibir Sri. Luruh air mata kembali menjadi saksi akan derita yang telah mencabik-cabik jiwa raganya. "Sri telah hancur, Sri kotor. Pak. Maafkan Sri!"



----------------------------------------



"Mau lagi, sayang?" laki-laki itu kembali mendekat ke arah Sri. 

Ketakutan yang tadi pun masih belum sirna, kini Sri harus merasakan kembali pahit yang akan laki-laki itu beri. Ingin lari, ingin berontak tapi Sri tak kuasa. Gemetar seluruh tubuh, kakinya pun seakan sudah tak mampu menapak ke bumi untuk menopang badannya. Sri tak mampu untuk bangkit.

"Ron, gue udah puas ini. Loe cepetan jemput nih bocah!" suara laki-laki itu yang tengah menelepon Baron.

Laki-laki itu kemudian kembali mendekatkan diri ke arah Sri dan duduk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sri. "Ini ada uang buat loe, gue puas sekali malam ini. Kapan-kapan kalau gue butuh lagi, gue bakal telepon Baron."

Tak sepatah kata yang terucap dari bibir Sri. Luruh air mata kembali menjadi saksi akan derita yang telah mencabik-cabik jiwa raganya. "Sri telah hancur, Sri kotor. Pak. Maafkan Sri!" 

Laki-laki itu keluar meninggalkan seonggok raga yang telah tak berdaya sebelum Baron datang menjemput Sri. Dengan secepat mungkin Sri pun meraih pakaian yang telah berserak di atas lantai, dia berusaha untuk lari sebelum Baron datang menjemputnya. Namun nahas kembali berpihak kepadanya, di luar sana hujan lebat, dengan dentuman petir yang saling bersahutan. Semakin sempurna lara yang bocah itu rasakan.

Hujan bukanlah suatu alasan untuk Sri bertahan diam di kamar yang penuh nista. Sri beranikan diri lari di tengah hujan lebat, langit berduka atas nista yang telah menancap di relung sukma bocah itu. Petir yang menggelegar pun tidak pula menggoyahkan langkah kaki Sri.

"Neng, hujan. Sebaiknya nanti saja pulangnya!" suara seorang laki-laki mengagetkan Sri. Langkahnya pun sempat terhenti.

Sri masih dengan tekadnya, lari sebelum Baron memergokinya. 

"Neng … Neng …!"  lagi dan lagi suara itu kembali mencoba untuk menghentikan langkah Sri. Namun Sri pun masih tidak tergoda dengan suara itu.

Laki-laki itu kemudian terus mengejar Sri, hingga akhirnya Sri pun pasrah tepat di depan gerbang motel. Langkah Sri terhenti oleh suara seorang laki-laki yang sedari tadi memanggilnya.

"Sebaiknya berteduh dulu, Neng! Hujan masih lebat sekali, lagi pula jam segini mana ada ojek atau angkutan umum." Sambil menyodorkan payung untuk melindungi tubuh Sri dari hujan.

"Aku takut kalau nanti Baron keburu datang ke sini. Makanya aku pengen cepat-cepat keluar dari sini." Sri masih terus mencoba melangkahkan kaki keluar dari motel.

"Baron? Siapa dia? Dan kenapa kamu ada di sini?" tanya laki-laki itu.

"Aku dipaksa oleh Baron. Baron adalah bapak tiriku, dia telah menjualku untuk jaminan hutangnya." 

"Siapa namamu? Aku Roni, aku office boy di sini. Terus kamu mau kemana?" 

"Namaku Sri, aku nggak tahu mau kemana. Dan aku tidak mau pulang ke rumah," tubuh Sri kian menggigil. 

"Ya sudah. Kalau begitu kamu ikut aku," ucapnya sambil menuntun langkah Sri.

Entah apa yang harus Sri lakukan, menolak ataukah terus mengikuti ajakan seorang laki-laki yang jelas-jelas tidak ia kenal. Namun, Sri tidak punya pilihan lain selain ia harus ikut dengannya.

Di tengah hujan lebat Roni melanju sepeda motornya, membawa Sri. Tepat di sebuah tempat, kontrakan yang berjejer panjang itu Roni menghentikan motornya. Kontrakan berwarna kuning yang berjejer serta berhadap-hadapan. 

"Masuklah!" Roni membuka pintu mempersilahkan Sri masuk.

"Ini kontrakan siapa?" tanyanya pada Roni.

"Ini kontrakanku, kebetulan aku tinggal sendiri di sini."

"Keluarga Mas, atau … anak istri Mas di mana?" tanya Sri penasaran.

"Aku belum menikah, orang tuaku di kampung."

"Kalau aku di sini, apakah tidak menimbulkan fitnah?" kembali Sri bertanya.

"Tidak, tenang saja. Sekarang kamu mandi dulu, ini ada baju ganti buat kamu."

Sri pun melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sri menangis sejadinya, teringat betapa kotor dirinya. Seketika angan Sri jauh melayang tentang Roni, apakah mungkin Roni laki-laki yang baik? Bagaimana jika Roni pun sama dengan Baron atau laki-laki yang telah menidurinya di motel? 

"Neng, kamu mandinya udah apa belum? Ini aku bikinin teh manis hangat untukmu. Aku mau balik dulu ke motel ya." suara itu tiba-tiba mengagetkan lamunan Sri.

Dengan segera Sri menyelesaikan mandinya, memakai baju kemudian keluar. Satu gelas teh manis hangat dan biskuit telah tertata di meja TV. Pandangan Sri berkeliling ke setiap pojokan kamar, satu kamar yang nyambung dengan kamar mandi dan hanya disekat oleh tembok setengah. Sedangkan dapur, Sri tak melihat ada dapur di ruangan itu.

Jam dinding tepat menunjukkan angka 6. Hari sudah pagi, semburat cahaya mulai masuk melalui celah-celah di jendela kamar namun mata Sri masih enggan terpejam dari semalam. Karut marut pikirannya, beribu tanya bergelayut di benaknya. 
Akan kemana ia nanti?
Sementara Sri tidak punya bekal banyak jika ia memaksakan pulang ke kampung almarhum bapaknya, hanya berapa lembar uang 100 ribuan saja yang ia dapatkan dari laki-laki yang telah menidurinya.



Bersambung…

Komentar

  1. Jangan-jangan Roni juga komplotannya...kasian sri. 😢

    BalasHapus
  2. Kasian Sri. Sungguh tega bapak tirinya. Anyway, ceritanya ngalir mb. Keren

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer