Sri
Part 1
Ya. Sri telah ternoda. Kembang itu layu sebelum waktunya, putik-putiknya telah pun berguguran ke bumi. Menjadi bangkai menjijikkan dan mungkin tidak akan pernah ada yang sudi memungutnya.
---------------------------
"Buat apa sekolah tinggi? Kalau nyatanya juga mentok jadi budak nafsu laki-laki!" suara itu masih terus menghantui gendang rungu Sri.
Adalah Sri, bocah perempuan ayu berlesung pipi. Sri terlahir begitu sempurna dibanding dengan remaja sebayanya. Kulit sawo matang, lesung pipit yang membuatnya semakin manis, serta rambut ikal yang memang sengaja ia urai. Usianya kini baru 15 tahun, tapi perawakannya tinggi semampai.
Semenjak ayahnya meninggal, Sri ikut dengan ibu kandung serta ayah tirinya. Dulu, ketika ayahnya masih hidup Sri ikut dengan ayahnya. Dan kini dia harus kembali pada ibunya yang memang sudah menikah lagi sejak bercerai dengan ayahnya. Hidup satu atap dengan ayah tiri yang usianya memang 10 tahun terpaut lebih muda dari ibunya, membuat Sri terkadang muak dengan kelakuan mereka terhadapnya.
"Heh! Ngapain loe sekolah? Mending juga cari uang!" bentak Baron yang tak lain adalah ayah tiri Sri.
Sri hanya diam, gemetar seluruh tubuhnya. Tak ada yang membelanya. Sementara wanita yang ia panggil 'ibu' juga seakan sudah tidak peduli lagi. Wanita itu lebih manut dengan semua ucapan suaminya, tanpa sedikit saja welas asih untuk bocah yang telah berkongsi nyawa dengannya selama 9 bulan.
"Sri salah apa, Bu? Sri masih mau sekolah," ucapnya.
"Sekolah? Bapakmu mati saja tidak meninggalkan warisan apa-apa untuk biaya sekolahmu, Sri! Ngapain sekolah?" pekik bu Lastri, yang tak lain adalah ibunya Sri.
"Tapi, Bu. Sri ingin sekolah demi bapak," rintihnya semakin pilu. Sri memohon pada ibu dan ayah tirinya.
"Sudah! Nanti malam loe ikut gue kerja. Nyari duit buat makan!" bentak Baron.
Sebuah cita-cita yang harus ia hapus, Sri harus rela melupakan semua keinginan almarhum ayahnya yang memang menginginkan Sri menjadi seorang Dokter. Sri hanya pasrah dengan keadaan, menjadi apa yang ibu dan ayah tirinya inginkan. Tidak ada jalan lain, selain Sri harus mau menuruti semua kemauan mereka.
Hari kian terik, matahari serasa sudah di atas kepala. Seperti biasa, ibunya akan pergi menjajakan jualannya ketika jam istirahat makan siang tiba. Di rumah hanya tinggal Sri dan Baron. Ketakutan kian tebal menyelimuti Sri, hanya berharap Sang Maha Semesta akan terus melindunginya dari setan bernama Baron.
"Heh, sini loe! Pijitin gue!" seru Baron dengan botol minuman beralkohol di tangannya.
Dengan ketakutan yang teramat Sri pun menjauh dari laki-laki itu.
"Heh, budeg loe ya? Sini buruan pijitin gue!" suara laki-laki itu semakin meninggi.
Sementara Sri hanya diam membisu, tak sepatah kata yang berani ia lontarkan di hadapan laki-laki iblis itu. Langkah Sri kian menjauh. Namun nahas, dengan sigap laki-laki itu meraih tubuh mungil Sri hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"Ampun! Lepaskan aku!" rintih Sri memelas pada Baron.
"Makanya, jadi anak yang nurut. Jangan ngeyel!" tangan Baron kian kuat mencengkeram lengan Sri.
Sementara Sri, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan dan lari dari cengkeraman Baron. Tubuh mungil itu lunglai di hadapan iblis berwujud manusia seperti Baron.
Runtuh sudah langit menindih paksa tubuh Sri, kehormatan yang seharusnya hanya ia persembahkan untuk suaminya kelak, kini telah koyak. Sri menangis sejadinya. Seakan sudah tidak lagi ada kehidupan untuknya di dunia ini.
"Andai Bapak masih ada, Sri tidak akan menjadi sehina ini, Pak. Ampuni Sri, Pak! Sri sudah kotor!" luruh air mata Sri.
"Sudah jangan nangis loe! Keenakan juga loe, pura-pura mewek segala." Dengan beringas laki-laki itu telah melahap habis semua madu yang ada di tubuh Sri.
Ya. Sri telah ternoda. Kembang itu layu sebelum waktunya, putik-putiknya telah pun berguguran menjadi bangkai menjijikan dan mungkin tidak akan pernah ada yang sudi memungutnya.
"Awas loe kalau ngadu ke emak loe! Gue cincang habis loe!" dengan senyum kemenangan Baron pun meninggalkan Sri yang tengah tak berdaya.
Langit seketika murung, hingga kemudian hujan pun mencipta sendu. Membasah bumi yang tengah menganga, perih. Lukanya kian menjadi borok yang menjijikan. Sri masih dengan ketidakberdayaannya, sementara Lastri tidak sedikit saja peduli dengan duka yang anak perempuan alami. Seperti itukah seorang ibu memperlakukan anak perempuan yang seharusnya ia jaga?
Jika iya, lantas untuk apa ia lahirkan Sri ke dunia ini?
Taichung, 23 September 2019



Fenomena yang benar2 miris.
BalasHapusAku punya tulisan tentang penjajahan spt.ini tapi tdk berani sekeras ini diksinya .
www.storial.co/book/setan-itu-kamu
Itu klo njenengan sudi mampir
Mak, jangan bilang ini based on true story ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
BalasHapusRasanya gakuat baca lanjutannya, tp berharap happy ending bwt sri