Sepotong Rindu dalam Hujan



"Lewat hujan dan petrichornya, kutitipkan sepotong rindu untukmu. Ben!"


---------------------------------------



Hujan malam ini membuaiku larut dalam kerinduan. Rindu akan sosok raga yang telah membawa pergi separuh hatiku. Hawa dingin yang menyelusup masuk lewat jendela kamar membuatku semakin ingin menikmati bersamanya menari di atas tanah, kupandangi satu per satu tetes hujan yang turun. Aroma petrichor pun seakan membuatku hanyut, semakin mencipta kerinduan.

Kulirik dedaunan yang seakan kembali memberi warna hijaunya, setelah sekian lama ia merindukan hujan. Dedaunan tengah asyik menggoyang tubuhnya kesana kemari bersama deraian air hujan yang turun. Akar yang kemarin kering kerontang, menjalar menjulur keluar dari tanah, kini tak lagi kehausan. Hujan menyejukkan panasnya bumi, pun selalu mencipta kerinduan. Bagaimana bisa seperti itu?

Pada hujan malam ini, aku menitipkan sepotong rindu untuk dia yang telah berhasil membuatku setengah waras
Bagaimana kabarnya, apakah baik-baik saja? 
Setelah dia berhasil membunuh paksa rasa dan ragaku.
Apakah dia akan kembali mencariku bersama hujan?
Kembali untuk mengukir senyum atau hanya akan mengoyakan kembali rasa dan ragaku?

“Ah! Jahat sekali dia memperlakukanku. Seakan tak lagi ada sedikitpun ingatannya tentang aku yang terbelenggu akan segala kenangan bersamanya, serta hati yang telah ia remuk redamkan hingga tak berwujud lagi.”

Mungkin dia tak pernah tahu, bagaimana aku berusaha untuk terus lari dari bayangan yang hampir setiap detik datang menyiksa netraku. Bagaimana tidak menyiksa? Jika bayangan itu terus lari ketika hendak kugapai. 
Ingin rasanya aku katakan bahwa aku baik-baik saja tanpanya, meski kenyataannya warasku hanya tersisa separuh. 
Aaah ... tapi tidak mungkin. Jika kenyataannya aku masih terus hanyut dalam rindu yang semakin tak karuan.

Sudah berapa musim kulalui tanpanya, sudah berapa kali hujan kunikmati tanpanya, meski sekedar menikmati secangkir kopi pahit kesukaannya dan menghidu petrichor yang selalu saja menumbuhkan rasa dan asa.
Entahlah, hujan di luar semakin deras. Semakin mencipta rindu yang kian menjadi candu.

“Rin, besok pagi pukul 08.00 aku tunggu di depan gang rumahmu!" sebuah pesan masuk di aplikasi WhatsApp.

Seketika terperanjat, kutatap lekat-lekat benda pipih berwarna silver dan ber-merk Samsung, berulang-ulang kubaca secarik pesan itu. 

“Sungguhkah ini Ben?” rasa penasaran kian pekat menyelimuti benak.

“Iya!" balasnya singkat.

Malam penuh khayal, hitamnya semakin kelam menyelimuti resah. Gemericik alunan air hujan pun kian tak berirama, hujan masih setia membasahi tanah, memberi sejuk pada bumi. Kucoba pejamkan mata namun resah semakin menderaku. Ada asa untuk hari esok, berharap pertemuan kali ini akan menyudahi semua kerinduan. 

🍁🍁🍁🍁🍁

Hujan semalam tersapu oleh mentari pagi yang cerah. Namun tidak dengan kerinduanku, rindu ini semakin menebal. Menyelimuti sukmaku yang seakan kian merapuh sejak separuh hatiku ia bawa pergi.

Aku bergegas keluar rumah, ada asa di setiap langkah kaki yang kuayunkan. “Aku ingin kita kembali seperti dulu Ben, kita yang selalu bersama ketika hujan, menikmati secangkir kopi.”

Masih dari kejauhan, aku melihat sosok yang dulu selalu lekat dalam pelukan. Jaket merah kesukaannya. Iya, aku masih ingat itu semua.

Perlahan kuhampiri dia. “Sudah lama nunggu, Ben?”

“Belum juga sih. Bagaimana kabarmu, Rin?” ucapnya.

"Aku masih sama seperti dulu, Ben. Aku masih bertahan dengan separuh hati yang kau tinggalkan."

“Maafkan aku, Rin! Aku tidak bermaksud menggores luka di hatimu. Sebab, ini pun bukan murni keputusanku," ada gurat kecewa di raut wajahnya.

Aku tak tahu maksud Ben berbicara seperti itu. “Maksudmu apa? Ada hal penting yang ingin kau utarakan padaku, Ben?”

Sejenak dia terdiam, seakan dia sedang memikirkan sesuatu. 

“Bulan depan aku menikah, Rin. Maafkan aku!” ucapnya lirih.

“Hah! Apa? Lantas, kamu tiba-tiba datang kembali hanya untuk membuat lukaku semakin menganga? Jahat kamu, Ben!"

Ia berusaha untuk menggapai tanganku. “Maafkan aku, Rin. Sumpah! Aku tidak ada maksud untuk membuatmu semakin terluka.”

“Sudahlah! Aku tidak mau lagi dengar alasanmu. Pergilah dan lupakan aku!” aku berlari menjauh darinya.

 “Rin, tolong maafkan aku! Ini bukan inginku, aku dijodohkan oleh orang tuaku. Dan aku tidak ingin menjadi anak durhaka dengan tidak menuruti keinginan ibuku.”

And now, what do you want for me, Ben?” 

Dia pun semakin tertunduk, diam tanpa bahasa. Aku tahu bahwa sebenarnya dia ingin sekali meraih tubuhku untuk ia peluk. Tapi aku selalu berusaha menjauh. Pelukan yang dulu membuatku nyaman, bisiknya yang dulu menyejukkan, dan mampu meredam amarahku.

Tiba-tiba kini datang setelah hampir berapa musim berlalu tanpanya, setelah luka lama yang dulu menganga pun sudah sedikit mengering.
Kupikir, kedatangannya kali ini akan kembali mengukir senyum di sudut bibirkui. Nyatanya hanya kembali mencipta hujan kecil di sudut netraku.

“Sudahlah Ben! Aku sadar, bukan aku yang kau pilih untuk meracikkan kopi untukmu kala hujan turun membasahi bumi. Bukan aku yang akan selalu menemanimu menikmati indahnya hujan, menghitung setiap tetes demi tetes air yang turun. Bukan aku, Ben. Pergilah!” 

Ben berlalu meninggalkanku dengan segurat resah yang mendera di wajahnya, bayangannya semakin samar bahkan hampir tak nampak.Kemudian hilang dan lenyap dari pandanganku. Hujan kemarin telah menumbuhkan rindu, tapi rupanya mentari pagi ini telah menyapu rinduku, bahkan tak tersisa sedikitpun.

“Kau adalah sebait rindu yang selamanya akan selalu kueja, tak mungkin aku hapus bait itu. Dan biarkan aku terus mengeja hingga kelak aku sanggup menerjemahkannya menjadi bait yang tak pernah usang.”

"Lewat hujan dan petrichornya, kutitipkan sepotong rindu untukmu. Ben!"


Taichung, 20 September 2019

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer