Senja di Panti Jompo

Oleh: Riana

Menjadi tua itu pasti, pun dengan kematian. Kematian adalah kepastian, dimana Allah memanggil hambaNya untuk kembali berpulang kepadaNya. Mati yang khusnul khotimah tentunya yang menjadi harapan setiap manusia. Bisa berkumpul dengan anak keluarga ketika usia senja menyapa, dikelilingi orang-orang terkasih ketika ajal menjemput. Namun, terkadang kenyataan tak sesuai dengan harapan. Mimpi hanya menjadi cerita usang yang entah akan terwujud atau tidak.

Air mata laksana air sungai yang terus mengalir tanpa pemberhentian dan tak tahu di mana letak hujungnya. Mencipta sendu dan lara yang mencabik hati. Bayangan itu kembali muncul melekat dalam angan. Bayangan kelak aku tua, mungkinkah anak-anakku pun akan seperti aku ketika aku berjuang mati-matian untuk mereka?
Ataukah mereka akan mengirimku ke panti jompo atau dinas sosial untukku menghabiskan masa senja?
Rasanya, picik sekali jika aku berpikiran seperti itu.

Dua tahun lalu aku pernah berkunjung ke panti jompo dekat rumahku. Tempatnya yang memang asri, seakan membuat nyaman para penghuni disana. Panti jompo itu milik dinas sosial pemerintah. Semua fasilitas telah disediakan oleh pihak panti.
Ya, tepatnya aku dan kawan-kawanku berkunjung kesana untuk bersilaturahmi dengan lansia yang tinggal disana.

Terik mentari kian membakar paksa tubuh ini, peluh semakin deras mengucur membasahi baju yang melekat. Acara demi acara telah selesai, kami pun makan bersama dengan mereka, memberikan sedikit rezeki untuk mereka. Canda tawa tak lepas dari kegiatan kami, meski hanya sekedar bergurau kecil dengan mereka. Kemudian kami pun meminta izin untuk berkeliling panti, melihat keadaan mereka dari kamar satu ke kamar yang lainnya. 

Tepat di kamar X yang dihuni berapa orang nenek. Kami bersalaman, saling berpelukan.

 Netraku tertuju pada seorang nenek yang tengah duduk di bibir ranjang tempat tidurnya, sekilas terlihat seperti sedang kesakitan. Aku mendekat dan duduk di sebelah beliau.

"Mbah, namanya siapa?” tanyaku seraya mensejajarkan tubuhku dengan beliau.

"Mbah ini pendengarannya sudah kurang, Mbak.” Kata seorang pengurus panti yang kebetulan membawaku untuk berkeliling.

Pendengarannya memang sudah kurang hingga akhirnya aku semakin mendekatkan diri pada nenek tersebut. “Mbah, sehat?”

“Mbah ini salah apa ya, Nok? Kenapa anak-anak mbah tidak mau merawat mbah? Padahal anak-anak mbah itu kaya-kaya. Ada yang jadi juragan bawang, ada yang punya ruko oleh-oleh. Ada juga yang jadi PNS," ucapnya dengan nanar mata kesedihan.

“Deg...” dadaku seketika sesak sekali mendengar nenek itu berucap. Luluh air mata  kian deras membanjiri pipi, tenggorokanku terasa sakit seakan tertusuk jarum 1000. Nyeuri!

Jelas tergambar gurat kesedihan di wajah nenek itu, di usia senjanya justru beliau harus menikmati lara yang kian mendera tubuh rentanya. Kebahagiaan untuk berkumpul dengan anak keluarganya, sepertinya hanya menjadi mimpi usang belaka. 

Aku tak mampu berkata apa pun, hanya butir air mata yang masih setia menemani ke-tidak berdayaanku melihat dan mendengar keadaan mereka di sini.

"Nok, mbah ikut kamu pulang ya?” ucapnya penuh harap, nenek itu semakin erat memelukku.

Aku semakin tidak karuan dibuatnya. “Andai saja bisa, aku pasti bawa pulang Mbah.” gemingku dalam hati.

Ada gurat asa di setiap wajah lansia yang tinggal di panti tersebut. Aku bisa mengartikan setiap kata yang terucap dari bibir mereka. Bahwa berkumpul dengan keluarga di usia senja adalah kebahagiaan untuk mereka. Namun, keadaan memaksa mereka harus menikmati senjanya yang terpisah dari anak keluarganya. 

Setelah nenek tersebut mulai tenang dan menghentikan isak tangisnya. Aku pun kembali berkeliling. Sebenarnya, aku ingin sekali melihat ke kamar M yang katanya penghuni di situ sudah tidak bisa apa-apa, dalam artian semua kegiatan sudah dilakukannya di atas ranjang. Tapi pihak panti tidak memperbolehkan aku kesana dengan alasan sikon yang kurang mendukung.

Dan aku pun melanjutkan berkeliling panti, pengurus panti menjelaskan satu persatu kamar yang ada disitu. Menjelaskan semua kegiatan-kegiatan lansia di panti dari sholat Subuh berjama'ah, hingga ke malam mereka kembali beristirahat.

Kembali mataku meneteskan air mata ketika datang seorang nenek dengan tiba-tiba menghentikan langkahku. Kudekati beliau dan kembali terjadi obrolan kecil antara aku dan beliau.

"Nok... Nok, mbah ikut kamu pulang saja ya!” ucapnya sambil memijit-mijit kakinya sendiri yang terluka, nampak ada bercak darah di kakinya.

Lagi dan lagi, bongkahan air dari mataku tak mampu kubendung. “Loh Mbah, kakinya kenapa? Sudah diobati belum?”

“Sudah diobati Mbak, tapi namanya orang tua kan perangainya sama dengan anak-anak.” Ucap pengurus panti yang sedari tadi menemaniku berkeliling.

"Mbah gak mau diobati, maunya ikut kamu pulang. Mbah kemarin sempat dibuang sama anak lelaki mbah. Terus ada yang bawa mbah kesini," ucapnya menahan isak tangis.

Entah, salah siapa kalau sudah seperti ini. Terkadang, seorang ibu mampu merawat 10 anaknya, menjaganya ketika anak-anak sakit. Bahkan, seorang ibu rela untuk tidak memejamkan mata barang satu menit pun selama menjaga anaknya yang sakit. Sebab, dilema terbesar orang tua adalah ketika anak-anaknya sakit, tapi tidak dengan 10 orang anak. Mereka lebih rela menelantarkan orang tuanya, lebih rela melihat orang tuanya terlunta-lunta di usia senjanya. Bukan sebab apa, terkadang keadaan yang memaksa mereka menitipkan orang tuanya ke panti.

Sakit. Kata itu yang dapat aku ungkapkan ketika melihat jelas raut kesedihan di wajah para lansia. Bukankah orang tua adalah surga bagi anak-anak? Lantas, kenapa harus disia-sia? Bukankah ridho orang tua pun ridho Allah juga? Lantas kenapa dengan mudahnya menyia-nyiakannya?

Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” Hadits riwayat Hakim, ath-Thabrani.

Senja di panti jompo kian memerah, sudah saatnya aku berpamitan pulang. Berharap malam nanti akan ada rembulan yang benderang dengan beribu lampion-lampion kecil yang menyala dengan indahnya. Begitu pula harapanku untuk para lansia di panti tersebut. Semoga di penutupan usianya akan merasakan bahagia dari sebelumnya. Aku pun berjanji tidak akan pernah menyia-nyia orang tuaku. Tidak akan pernah mengirim orang tuaku ke panti, dan berharap semoga di usia senjaku nanti, anak-anakku akan memperlakukan  layaknya aku memperlakukan mereka dulu.

Semoga aku mampu merawat surgaku di dunia hingga kelak menjadi surga nyata di akhirat. Sebab, tanpa orang tua maka hidup laksana mati, tak ada kehidupan dan tidak akan ada ridha serta do'a tulus ikhlas dari orang tua.


Taichung, 16 September 2019

Komentar

  1. What happen for us sampai tega mrmbusng orang tua 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah... Sebenarnya memang tidak semua salah anak, tapi bagaimanapun yang namanya orang tua ya tetap harus kita jaga😢

      Hapus
  2. Nah itu idh ada komen yg muncul, say, berarti blog mu baik2 sajah

    BalasHapus
  3. Kudapati kedua bola mataku mengeluarkan bulir, tega nian mereka yang mengaku orang sukses, menelantarkan orang tuanya.

    Ya Allohu Robbi ... Semoga aku tidak menelan ludahku sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, krisannya Kak😊 terima kasih sudah mampir

      Hapus
  4. Hiks,,aq jadi kepikiran masa tuaku nnti seperti apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dijalani saja, Mbak. Sebab hidup ini penuh kejutan. Semoga kita semua dihidarkan dari hal2 yang buruk

      Hapus
  5. Ikhlaskan diri kita untuk beranak pinak. Jika kita didik anak dg sepenuh hati dan dg ilmu agama yg lebih dari cukup, InsyaAllah anak akan mengerti kewajibannya di kala orang tuanya menua kelak, dan anggap itu bonus dari Allah. Tapi jika tidak, kita sudah siap, karena kita beranak pinak karena Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya jika kita kembalikan kepada Allah pasti apapun yang berlaku dalam hidup kita ya sebuah nikmat-Nya. Tapi adakalanya berharap itu memang perlu😢

      Hapus
  6. Sedih bacanya, kebayang bagaimana raut sedih dan berharapnya Mbah saat ingin ikut pulang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih tak tak bisa diukur, Mbak😢 iya andai bisa pasti aku bawa pulang

      Hapus
  7. PR besar buat saya sebagai anak dan orang tua. Hiks

    BalasHapus
  8. 😭😭 jadi ingat almh ibu, dulu waktu sakit2an pernah minta ditaruh ke panti jompo. Biar nggak repot katanya. Jelas Saya menolaknya.. namun memang merawat orang sakit itu butuh support system yang kuat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer