Sri part 2
Sementara Sri hanya terpaku diam dibibir ranjang, mematung. Menikmati perih yang membuatnya kian sekarat. Kembang itu semakin layu hingga kusam telah merampas indah warnanya. Jika boleh menawar takdir, Sri ingin mengikuti jejak bapaknya. Mati!
----------------------------------------
Malam kian pekat, hitamnya semakin tebal mencipta gelap. Seharusnya Sri sudah terlelap di pangkuan ibunya, dengan belaian lembut dari jemari ibunya. Namun, Baron terus memaksa dan akan membawa Sri ke sebuah motel. Ya, Baron menjual Sri untuk ia jadikan jaminan kekalahannya di meja judi.
"Loe nanti layani bos gue sebaik mungkin!" bentak Baron. Laki-laki iblis itu menyeret tubuh mungil Sri.
"Ampun! Sri nggak mau," rengeknya.
"Diam loe, nurut saja kenapa, sih?" Baron kian kesetanan. Semakin Sri merengek dan berontak, Baron pun semakin menjadi.
Sedangkan Lastri hanya mematung melihat anak perempuannya diperlakukan sedemikian buruk oleh suaminya yang seharusnya ikut andil dalam melindungi bocah perempuan itu. Sebab, bagaimanapun jika seorang lelaki mau menikah dengan janda yang punya anak berarti dia pun harus mau menerima, mencintai dan melindungi anaknya seperti dia menjaga anak kandungnya.
Dengan ketidakberdayaan Sri duduk di belakang boncengan sepeda motor Baron. Seketika langit murung, mendung kian tebal mencipta gelap hingga langit pun menangis. Seakan tahu dan merasakan derita yang Sri alami.
Tepat di sebuah motel yang tidak jauh dari perkampungan, Baron menghentikan laju sepeda motornya. Dengan disambut seorang satpam yang bekerja menjaga dan membukakan pintu gerbang untuk tamu yang datang di motel tersebut.
"Turun loe!" bentak Baron pada Sri.
Wajah ayu itu semakin terlihat anggun tersapu hembus sang bayu, ada butir air yang membasah di pipinya. Sri tidak mungkin berontak jika ia ingin selamat, hanya bisa patuh dan pasrah dengan semua ketidak adilan yang menjadi takdirnya. Bocah itu di ambang kehancuran.
Dibawanya Sri ke sebuah kamar yang terletak tidak jauh dari tempat parkiran. Hanya melewati 2 lorong saja tibalah di kamar yang akan menjadi tempat kehancuran untuk Sri. Bocah perempuan itu menunduk lemas, dia tidak tahu akan jadi seperti apa masa depannya.
"Tok … tok … tok …!" Baron mengetuk sebuah pintu kamar yang menjadi tempat tujuannya.
"Kreeekkk…!" seorang lelaki bertubuh tegap dan gumpal keluar dari balik pintu.
Ya. Laki-laki itu adalah seorang pengusaha kaya raya yang memang terkenal dengan Raja judi di kampung mereka.
"Bang, gue tepatin janji gue ini. Deal ya, gue nggak punya hutang lagi sama loe!" ucap Baron sambil menyodorkan Sri ke hadapan laki-laki itu.
"Original ini? Dapat dari mana loe barang sebagus ini?" laki-laki itu memandang lekat-lekat ke arah tubuh mungil Sri.
"Udah nikmatin aja sepuas loe, Bang! Gue cabut dulu. Kalau loe udah puas, telepon gue aja! Gue jemput ini bocah."
Baron melangkahkan kaki keluar dari kamar meninggalkan Sri yang memang sudah dijual oleh laki-laki itu.
"Sri mau pulang!" rengeknya.
"Udah loe diam di sini! Layani bos gue. Awas kalau loe macam-macam," ucap Baron.
Sri hanya termangu di pojokan kamar, ditekuk kedua kakinya dan menyembunyikan wajah di atas lutut. Laki-laki itu mendekat ke arah Sri dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sri.
"Ampun! Jangan sakiti Sri. Sri nggak mau, tolong biarkan Sri pulang!" rengeknya.
"Tenang saja, sayang. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Kita nikmati malam ini dengan senang-senang." Tangannya mulai menggerayang tubuh mungil yang teronggok ketakutan.
Seketika Sri bangkit, mencoba membuka pintu kamar. Namun nihil, pintu telah pun terkunci. Luruh air mata Sri.
Dengan beringas laki-laki itu kemudian memangsanya, menghisap sisa madu di dalam sukma Sri yang tadi siang telah pun dihisap oleh Baron. Sri lunglai tak berdaya, hanya mampu meringis kesakitan dan menikmati perih yang kini menyelimuti batinnya. Sempurna sudah ketidakadilan yang Sri terima, Tuhan tidak berpihak kepadanya. Ya, Tuhan telah membiarkan Sri hancur!
"Kenapa tidak kau ambil nyawaku saja. Tuhan!" batin Sri meronta.
Puas sudah laki-laki itu membuat Sri tak berdaya, tawa pekiknya menandakan ia telah puas dengan apa yang ia rasakan. Laki-laki itu kemudian bangkit dari peraduan dan menenggak sebotol bir.
Sementara Sri hanya terpaku diam di bibir ranjang, mematung. Menikmati perih yang membuatnya kian sekarat. Kembang itu semakin layu hingga kusam telah merampas indah warnanya. Jika boleh menawar takdir, Sri ingin mengikuti jejak almarhum bapaknya. Mati!
Bersambung….



:((( ikut kesel sama Baron mba
BalasHapusEmosi juga aku nulisnya😂
HapusMaaakkkk, skip ke ending aja 😭😭
Hapus😊
HapusMenghisap sisa madu, keren gaya bahasanya mbak!
BalasHapusHatur nuhun, Teh😍
Hapus