Secarik Asa


Oleh: Riana



Kali ini, bahuku terasa berat sekali
Terlalu berat memikul gundukan rindu yang terus mencabik batin
Bahkan, netra pun sudah tak mampu lagi mencipta hujan kecil
Entah karena ia telah bosan jika harus terus-terusan menciptakan hujan kecil, atau memang Tuhan sudah tidak menghendakinya?

Ah … kadang rindu tak tahu diri!
Ia datang tanpa permisi, resah pun semakin tebal menyelimuti atma
Laksana pohon yang merindukan hujan, hingga ke akar-akarnya, pun menjalar-menjulur keluar dari tanah. Kering kerontang!
Hingga dedaunan nampak kering kecoklatan, sudah tak lagi indah kehijauan yang menyejukkan netra!

Sepagi ini rindu sudah bergelayut mesra di pelupuk mata
Dan aku … aku masih saja teronggok tak berdaya dengan hadirnya
Kian menyesakkan dada ini
Resah semakin saja membuatku sekarat
Entah … masih menjadi tanda tanya besar
Kapankah temu menyudahi semua kerinduan ini?

Tuhan…
Kuberbisik pada bumi, berharap langit mendengar jerit rintih batin ini
Hingga langit kembali menangis, memberi sejuk pada hati yang kian sekarat
Hingga hujan kembali memberi warna hijau pada dedaunan 

Wahai hati…
Berdamailah dengan keadaan yang kian menyesakkan ini
Hingga temu mencukupkan segala derita yang mencabik jiwa raga
Hingga temu kembali menyatukan raga yang selama ini terpisah
Hingga temu kembali mencipta senyum bahagia di sudut bibir 
Dan, pisah tak lagi menjadi nestapa!

Secarik asa seorang ibu yang kian sekarat sebab merindu
Segumpal harap bahagia akan berpihak, hingga duka tak lagi menyelimuti raga
Hingga tak lagi ada resah yang menjadi perundungan
Berharap secercah cahaya memberi terang pada lorong gelap di relung sukma



Taichung, 29 September 2019

Komentar

Postingan Populer