Sayangnya, aku telah bahagia dengan kesendirian ini!
Kau pernah menjadikanku tempat tujuanmu, menyandarkan segala lelah, mencukupkan segala keluh, menyudahi segala resah serta rindumu. Ya, sebelum pada akhirnya kau tersesat di hati perempuan lain hingga kau lupa jalan pulang untuk kembali ke hatiku. Bahkan, sumpah janji yang dulu kau ucap ketika ijab Kabul pun hanya menjadi bait usang yang mungkin telah kau hapus dari ingatanmu. Kau tak lagi tahu arah mana untuk kembali menuju rumah yang selama ini menjadi tempatmu bergurau dengan anak-anak.
Ya. Kau lupa bagaimana caramu menyejukkan ketika bara mulai berkobar membakar paksa raga ini. Kau berlalu tanpa sedikit saja asa yang kau tinggalkan untukku. Kau bilang bahwa: Perempuan itu jauh lebih lembut dari aku, perempuan itu lebih pandai mengambil hatimu. Sekejam itu ternyata cara berpikirmu. Kau buat seakan akulah dalang dari segala kesalahan, akulah yang patut kau hukum dengan menancapkan sebilah nista tepat di jantungku.
Dulu, aku pernah memintamu untuk kembali. Memohon agar tetap ada di sini, bersama kembali merajut asa. Namun kau bilang bahwa: Aku pembangkang, aku tidak tahu bagaimana cara memperlakukanmu selayaknya dan sesuai kodratku. Tanpa kau sadar dan harusnya kau tahu ketika aku bungkam, ketika itulah seluruh kekuatanku runtuh. Aku tak mampu lagi berucap, untuk menatap matamu pun aku seakan tak ada daya. Hingga berapa kali aku memohon, mengemis agar kau tetap tinggal di relung hatiku yang terdalam. Lagi dan lagi, kau masih enggan kembali. Kau semakin jauh meninggalkan lara, menyelimutiku dengan nestapa.
Dan aku sempat mengumpat, aku pun memaksamu untuk berkata pada perempuan perebut itu: Atas nama langit dan bumi, aku tidak akan pernah ikhlas kebahagiaanku dirampas olehnya. Aku pun berkata kepadanya: Tidak akan pernah ada bahagia yang menjadi miliknya, setiap degup jantungnya hanya akan ada rasa sesak yang menyiksa karena telah menghancurkan senyum bahagia anak-anakku. Aku berbisik pada bumi, berharap langit akan menyampaikan semua pada Tuhan, dan Tuhan telah pun mendengar semua jerit batinku. Perempuan itu telah menggores luka di hatimu, bukan?
Kini, kau ingin kembali pulang dan aku telah pun menutup rapat pintu hati ini. Maafkan aku!
Percayalah!
Perempuan yang telah kau bunuh paksa asa, rasa dan raganya kini telah bangkit kembali menjadi perempuan yang lebih matang dari sebelumnya. Kini kau bilang bahwa: Perempuan pembangkang sepertiku pantas untuk kau pertahankan. Sayangnya, aku telah bahagia dengan kesendirian ini. Ya, aku tak lagi butuh rayuanmu itu. Berikan saja rayuanmu itu pada perempuan yang jelas-jelas telah membuatmu lupa akan tanggung jawabmu sebagai nakhoda dalam bahtera rumah tangga kita, hingga badai tak mampu lagi kuelakkan dan kehancuran nyata berwujud. Kini, nikmati saja penyesalanmu itu!
Aku tak lagi merasa kehilangan seperti dulu.



Mak..lanjutkan ceritanya sri..aku penisirin
BalasHapusSabaar Mak😁 besok nyari ide
HapusJangan jera ibu Riana #semangat
BalasHapusSemangaatt pak Eko
Hapussedih :(
BalasHapusBanget😊
HapusTulisan yang Selvi tunggu. Sepakat kak I like your idea. Gaya bahasa dan lain sebagainya no komen pokoknya keren 😊 Ini Selvi Febriani dari group Adelaide kak pake akun yang di HP hehe
BalasHapusTerima kasih, Dek😍
Hapus