Jalan Pulang

Oleh: Riana

Tentang perempuan, sebagaimana Allah Ta'ala telah menciptakan perempuan sebagai tulang rusuk dari seorang laki-laki. Perempuan sebagai penolong yang sepadan untuk kaum Adam, yakni tidak untuk diinjak-injak oleh laki-laki.

Sebagaimana kodrat seorang perempuan; Menikah, mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan membesarkan anak-anaknya. Sebab itu perempuan mendapat sebutan 'madrasah pertama' untuk anak-anaknya. Ya, perempuan adalah tulang rusuk, bukan tulang punggung keluarga. 

Namun, terkadang sebutan itu hanya menjadi sebuah kiasan semata. Jika pada faktanya, seorang perempuanlah yang menjadi tulang punggung untuk keluarganya, seperti apa yang berlaku dalam hidupku. Berperan sebagai seorang ibu yang merangkap menjadi sosok seorang ayah untuk anak-anakku yang pada akhirnya memaksaku harus mengambil satu keputusan yang begitu menyakitkan. Aku harus pergi meninggalkan mereka, menjejakkan kaki di negara yang saat ini aku tempati. Berteduh dan mencari rezeki di bawah langit Formosa, demi apa yang disebut tanggung jawab yang telah Allah Ta'ala amanahkan.

Apakah aku bahagia dengan keputusan ini?

Apakah aku menikmati semua prosesnya?

Apakah aku lelah dengan semua keadaan yang seakan membuatku semakin sekarat sebab merindu mereka?

Itu semua selalu menjadi tanda tanya besar yang aku sendiri belum bisa menemukan jawaban yang tepat. Ada kalanya aku pun ingin menyerah dengan keadaan ini.

“Hidup adalah perjalanan, terus melangkah hingga sampai pada titik yang telah Tuhan tentukan yaitu kematian!” suara parau laki-laki tua lewat telewicara.

“Iya, Pak. Tapi kenapa selalunya aku tersesat dalam nestapa?” ucapku lirih.

Hitam putih, pahit getirnya hidup menjadi bumbu dalam perjalanan manusia. Terkadang, gelap terus menyelimuti liku hidup anak cucu Adam, begitu juga dengan aku. Bertahun aku masih terus mencari jalan pulang untuk kembali menjadi manusia yang sebenarnya. Bukan seperti yang sekarang ini, hidup laksana wayang yang setiap gerakan saja selalu diatur dan diawasi. Namun dengan hati, siapa yang tahu? Hanya aku sendiri dan Tuhan yang tahu .

Terkadang, aku ingin berontak, ingin marah dan meluapkan segala kekecewaan. Tapi, pada siapa?

Sedang hidup hanya sebuah lelucon sesaat, hidup hanya sebuah drama sesaat. 

“Hidup itu harus terus berjalan, bukan malah berhenti pada titik yang tanpa kita sadari telah menjerat kita menjadi sesuatu yang seakan mati!” ucap bapakku lagi.

Bagaimana mungkin aku bisa melangkah meneruskan hidup, jika bayang masa lalu masih segar diingatan. Semua derita yang pernah aku rasakan selalu muncul mengusik tenangku hingga sering kali batin meronta ketika terus dihujani sebuah pertanyaan yang hanya membuat luka semakin menganga.

Mungkin benar apa kata banyak orang, bahwa 'move on' adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa terus melanjutkan hidup. Namun, tidak semua orang dengan mudahnya melupakan segala kenangan meski itu adalah sebuah kesakitan. Aku tersesat jauh pada lembah nista, terjerembab dalam nanah yang menjijikan. Hingga aku harus bersusah payah untuk bangkit dan kembali mencari jalan pulang. 

“Pulanglah! Lupakan semua yang telah membuatmu tersiksa, jalan hidupmu masih panjang. Sedang usia kita tidak akan pernah tahu,” rengek bapakku.

“Aku malu, Pak. Maafkan aku!”

“Untuk apa malu?” tanya bapakku.

Entah, apa yang harus kukatakan. Aku pun ingin kembali pulang ke pangkuan keluarga tercinta, tapi aku tidak mungkin pulang jika dengan membawa malu untuk mereka. Aku gagal!

“Aku tidak mungkin terus-terusan mencoreng malu pada keluarga, Pak. Malu jika aku pulang tanpa kesuksesan.”

“Sudahlah, jangan pedulikan orang lain berkata. Pulanglah! Barangkali saja Allah telah menyiapkan jodoh untukmu yang akan menggantikan bapak membimbingmu dan anak-anak,” rengek bapakku lagi.

Tentang jodoh, hingga detik ini pun masih menjadi tanda tanya bagiku. Namun, aku tidak ingin menghinakan Tuhanku dengan berprasangka buruk kepada-Nya. Biarlah hanya menjadi urusan-Nya!

Jika memang Allah tidak menjodohkanku dengan manusia, bisa jadi jodoh kekalku adalah kematian. Seperti apa yang telah tersirat dalam kitab suci Al-Qur'an.

Bahwa: “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat saja disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia tak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran:185).

Bukan aku tidak pernah kembali membuka hati untuk lelaki, aku pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang menurutku dia lelaki mapan. Mapan yang bukan hanya dilihat dari materi, namun mapan dalam pemikirannya. Tapi rupanya Allah cemburu sebab aku lebih mencintai ciptaan-Nya dan Allah pun kembali mematahkan hatiku, lelaki yang kupuja telah berlalu meninggalkanku, membawa sepotong asa yang pernah terajut. 

“Bersabarlah Rin! Beristighfar di setiap hela nafasmu, jika kau masih resah dengan segala beban yang menjejak benakmu, baiknya ambil wudu dan bersalat, berbisiklah pada bumi! Yakin bahwa langit akan mendengar setiap kata yang kau bisikkan pada bumi,” ucap Hani, sahabatku.

“Iya, Han. Terima kasih selalu menguatkanku.”

“Kau tahu kenapa aku selalu menguatkanmu? Karena perjalanan hidup kita hampir serupa, dan aku tidak mau kamu terlalu larut dalam nestapa seperti apa yang dulu pernah aku alami,” katanya.

“Adakalanya, beribu pertanyaan menjejak dalam benakku. Hingga terkadang batinku meronta, aku lelah. Han!”

“Jangan pernah lelah dengan hidup ini, kita tidak sendiri. Ada Allah yang selalu mendekap kita!”  

Bersyukur Allah mempertemukanku dengan orang-orang yang selalu menggandengku pada kebaikan. Ini adalah rezeki yang telah Allah beri, sahabat yang bukan hanya menyemangati untuk urusan duniawi saja, tapi lebih untuk urusan akhirat.

Antara aku dan Hani adalah sama, yaitu sebagai tulang punggung anak-anak, itu persamaanku dengan Hani. Namun, satu yang membuatku lebih salut pada seorang Hani adalah sebab ia menjadi tulang punggung dari kelima anaknya setelah suaminya berpulang kepada Allah, yang ketiga dari anaknya bukanlah anak kandung melainkan anak dari almarhum suaminya dengan istri pertama sebelum menikah dengan Hani.

“Han, memang kamu tidak kewalahan ketika harus berjuang sendiri demi mereka? Sedangkan tiga dari mereka bukanlah anak kandungmu,” tanyaku.

Dengan tenang dan keibuannya Hani menjawab semua pertanyaanku. “Aku tidak pernah merasa kewalahan meski aku harus menjadikan kepala sebagai kaki, pun sebaliknya. Karena aku yakin bahwa Allah telah membagi semua, termasuk rezeki untuk mereka.”

Begitu mulia hati perempuan bernama Hani, bahkan ia rela mengorbankan perasaan dan kebahagiaan demi apa yang disebut amanah. 

Dari kisah Hani, aku banyak belajar untuk berpikir lebih dewasa lagi, tidak berburuk sangka pada kehendak-Nya. Dan bukankah, tak selamanya kesakitan itu tidak berharga, adakalanya dari kesakitan itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Jadi, jangan membenci rasa sakit!

Tentang perempuan, adakah seorang perempuan yang tidak pernah merasakan pahitnya hidup?

Bukankah pelangi hadir setelah hujan datang, atau sesudah badai menerjang?

Lantas, apakah ada yang aneh jika kesakitan itu mendera batin perempuan?

Ya, lagi dan lagi tentang perempuan. Tentang nestapa yang menjadi perundungan kaum perempuan.

“La Tahzan, yakinlah bahwa Allah selalu ada di hati kita, Rin!” Hani kembali menyemangatiku.

“In Syaa Allah aku selalu bersabar, Han. Walau sebilah nista masih saja menancap di jantungku. Aku pun tahu, hidup tanpa mereguk kepahitan maka untaian do'a yang kupanjatkan hanya akan terasa seperti kumpulan kata-kata mutiara yang murahan. Sebab, dengan kesakitan maka ketulusan sebuah do'a pun akan muncul.”

“Tersenyumlah, sekali lagi! Selama jarak antara kita dengan kematian masih belum ada sejengkal. Sebab, setelah kematian kita tidak akan pernah tahu yang kita masih bisa tersenyum atau tidak,” ucap Hani.

Tentang perempuan, sekuat dan setegarnya seorang perempuan tetaplah perempuan. Manusia yang lemah lembut, yang sebenarnya masih butuh bahu untuk ia sandarkan segala resah. Ia pun butuh seorang lelaki untuk menjadi imam yang sudi membimbingnya juga anak-anak hingga ke syurga-Nya. Meski terkadang ia masih saja tersesat dalam masa lalu yang membuatnya semakin sekarat.

Bukan sebab kebodohan ketika perempuan membiarkan dirinya tersesat pada masa lalu yang seakan membuatnya depresi dan seakan memaksanya membunuh paksa raganya sendiri. Namun, terkadang perempuan sengaja membiarkan dirinya terus tersesat sebab ia tak ingin lukanya bertambah parah. Itulah hebatnya perempuan, ia bahkan rela terperangkap dalam kehampaan dalam jangka waktu yang panjang.

Mendung yang menyelimuti atmaku kian tebal, gelap menutup rapat hingga tak ada sedikit saja celah untuk membiarkan putih atau merah menyelusup masuk mengusik liku hidupku. Ada beban yang setiap saat selalu menjejak paksa benakku. Entah sampai kapan semua akan berakhir, aku pun tak tahu dan masih menjadi tanda tanya besar yang setiap saat mengajak batinku untuk berdebat.

Tentang perempuan yang masih menunggu, entah kapan bahagia akan bertandang menjadi miliknya.

Kapan cinta sejatinya bertandang?

Kapan derita batinnya berakhir?

Kapan dan kapan?

Semua itu masih menjadi tanda tanya yang entah kapan akan terpecahkan dan mendapat jawaban. Hanya Allah saja yang tahu dan berkehendak.

Ketika aku tersadar, bahwa mengingat dan mengenang masa lalu adalah sebuah kebodohan. Apalagi harus larut dalam kesedihan dan nestapa, serta tenggelam dalam puing kehancuran. Iya, betapa bodohnya aku jika aku terus menutup rapat hati dan pikiran serta membiarkan masa depanku hancur hanya karena kesakitan.

Dari situ aku mulai kembali meniti untuk bangkit, menapakkan kaki, langkah demi langkah untuk kembali pulang. Menyudahi dan mencukupkan segala derita, mencari jalan untuk keluar dari jerat masa lalu yang mematikan. Aku coba membuang semua berkas-berkas masa lalu dan aku pastikan berkas itu takkan pernah kembali muncul dalam kamus hidupku. Hingga kelak kesedihan tak mampu mengembalikan semua ingatan tentang masa lalu. Resah yang selama ini menjadi perundunganku pun sirna tak tersisa lagi. Kini, masa lalu sudah mati dalam ingatanku!

Aku tidak ingin dan tidak akan pernah lagi mengeja apalagi membaca bait demi bait guratan masa lalu, aku tidak akan lagi tersesat dalam mimpi buruk masa lalu. Aku hanya ingin memfokuskan kembali pulang pada jalan yang Allah ridho'i, kembali menjadi hamba yang selalu bertanggung jawab akan kewajiban-kewajiban serta hidup sesuai dengan kodratku. Ya, aku ingin menjadi perempuan yang sesungguhnya!

“Aku tidak akan bersedih sebab kegagalan, karena aku masih memiliki banyak sekali kenikmatan yang telah Allah karuniakan, termasuk anak-anakku. Syurga nyata di dunia dan semoga kelak akan menjadi syurga nyata di akhirat.”

Tanpa sadar, terkadang aku telah mendustakan nikmat-Nya. Bahkan, aku tidak akan pernah mampu menghitung nikmat yang Allah karuniakan untukku. Seperti apa yang telah tercantum dalam kitab suci Al-Qur'an bahwa tidak ada sesiapa yang sanggup menghitung nikmat-Nya.

Bahwa; Kesehatan jasmani rohani, kecukupan sandang pangan, udara yang aku hirup, air yang telah Allah sediakan di dunia ini, semua adalah nikmat Allah. Namun, aku tak pernah menyadarinya. Allah memberiku dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, itu semua juga nikmat-Nya. Kesempurnaan yang Allah ciptakan dari makhluk lainnya.

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” 

Kini, aku telah menemukan jalan untuk kembali pulang, meski harus terseok sendiri di atas kerikil-kerikil tajam itu. Tapi aku yakin dengan kekuasaan-Nya, dan aku sadar sebenarnya bahagiaku bukan di sini melainkan di rumah bambu itu, tempat yang paling hangat untuk bercengkrama. Tempatku bukan di sini, tapi di samping mereka, menyirami mereka dengan segala welas asih yang tumpah ruah. Aku akan kembali menjadi madrasah pertama untuk anak-anak.

Taichung, 4 September 2019

Komentar

Postingan Populer