Cerpen

Aku Tulang Punggung, bukan Tulang Rusuk

Oleh: Riana

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.”(HR. Muslim)

Namun, di
jaman sekarang justru kebanyakan wanita yang menjadi tulang punggung anak-anaknya. Rela merantau jauh dalam kurun waktu yang tidak sebentar, bukan karena seorang ibu jahat jika terpaksa harus meninggalkan anak-anak demi kelangsungan hidup.

Lantas apa sebenarnya makna dari wanita adalah tulang rusuk? Jika faktanya wanita adalah tulang punggung untuk keluarganya?

Dulu mungkin benar, wanita itu lemah. Iya, dulu sebelum R. A. Kartini memenangkan hak wanita. Dulu katanya wanita hanya berdiam diri di rumah, tidak boleh sekolah tinggi, hanya patuh pada perintah serta arahan seorang lelaki. Tapi sekarang, wanita justru lebih kuat dalam segala hal. Buktinya seorang wanita mampu membesarkan anak-anaknya sendiri tanpa seorang lelaki yang disebut suami.

"Sudah mantapkah kamu untuk pergi kerja ke luar negri, Na?" tanya ibuku.

Aku yang sedari tadi tengah asyik menimang anakku, mencoba menghindar dari pertanyaan ibuku. Sebenarnya aku tidak ingin pergi meninggalkan anak-anakku. Tapi keadaan yang mengharuskan aku melangkahkan kaki demi kelangsungan hidup mereka.

"Ya. Mau bagaimana lagi, Bu? Kalau aku tidak pergi, lantas bagaimana nanti masa depan mereka?" jawabku.

"Apa tidak seharusnya kamu cari kerja di dekat rumah saja? Kasihan anak-anak kalau kamu harus pergi jauh, apa lagi harus bertahun-tahun meninggalkan mereka." Ada gurat cemas yang tergambar jelas di raut wajah ibuku.

"Bu, sebenarnya aku juga tidak mau meninggalkan mereka. Aku juga ingin melihat tumbuh kembang mereka, tapi kalau harus tetap bertahan dengan keadaan yang seperti ini ya tidak mungkin Bu. Sedangkan anak-anak butuh biaya hidup. Kalau bukan aku, terus siapa lagi yang akan bertanggung jawab atas diri mereka?" bulir bening pun menetes di sudut netraku, luluh air mata kian deras membasah di pipi.

Entah berapa tahun yang lalu, sejak aku berpisah dengan mantan suamiku. Aku lah yang mengambil alih semua peran atas diri anak-anakku. Dari biaya hidup, sekolah hingga aku pun harus berperan sebagai seorang ayah untuk mereka. Bukan hal yang mudah memang, tapi Allah selalu memberi kejutan pada umatNya. Termasuk untuk rezeki anak-anakku, Allah pun telah menguatkan bahu ini sehingga aku mampu memikul semuanya sendiri. Buktinya, anak-anak pun tidak pernah kekurangan sandang pangan meski tanpa campur tangan dari manusia yang sebenarnya bertanggung jawab atas diri mereka seutuhnya, dunia akhirat.

🍁🍁🍁🍁🍁

Sudah hampir satu tahun aku berperang batin, mencoba untuk selalu berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Hampir tiap hari aku bercengkerama dengan mereka di rumah meski hanya lewat telewicara saja. Namun ada kepuasan tersendiri ketika aku melihat senyum yang tergambar indah di wajah polos anak-anakku. Walau sebenarnya aku tahu bahwa hati kecil mereka pun meronta.

"Bu, Ibu kapan pulang?" tanya anak sulungku.

Langit seakan runtuh menindih paksa seluruh tubuhku, tenggorokan pun seakan tercucuk duri seribu. Aku tak mampu berkata apa-apa ketika anakku bertanya seperti itu. Kalimat itu adalah kalimat yang tidak ingin aku dengar dari bibir anakku. Sebab, sebuah kesakitan yang mendera ketika telingaku dihidangkan dengan pertanyaan itu.

"Do'akan saja ibu selalu diberi nikmat sehat ya Kak, biar ibu bisa terus mencari rezeki. Nanti kalau uang ibu sudah banyak, ibu janji ibu pasti akan segera pulang." Jawabku menahan isak tangis.

"Ibu tidak sayang sama kakak lagi? Apa Ibu juga tidak kangen sama adik, Bu? Kakak ingin Ibu ada ketika kakak kelulusan sekolah." Ucapnya datar.

Aku hanya menghela nafas panjang, mencoba menciptakan keadaan senyaman mungkin. Kusunggingkan senyum agar mereka tidak tahu yang sebenarnya aku tengah mencoba membendung air yang hampir saja bongkah di pipiku.

"Kak, ibu sayang sama kalian. Ibu juga kangen sekali sama kalian. Kalau ibu pulang sekarang, itu tandanya ibu tidak sayang sama kalian."

Sejenak dia pun terdiam, canda tawa mereka di seberang telepon pun terhenti. Aku melihat anak sulungku terisak. Sedang adiknya hanya diam menatap video di layar benda pipihnya.

"Ibu, kalau nanti Ibu pulang, adik janji akan bantu Ibu cari uang. Adik janji mau nurut sama Ibu." Kaeyla yang dari tadi hanya diam pun akhirnya membuka suara. Kaeyla adalah anak keduaku.

"Ibu pulang saja, biar kakak yang gantikan Ibu cari uang!" lagi dan lagi si kakak pun menyuruhku untuk pulang.

"Kak, kalau ibu pulang tidak membawa uang itu tandanya ibu tidak berhasil menjadikan kalian anak-anak yang sukses, Nak. Bukankah Kakak juga tahu kalau adikmu ingin jadi dokter supaya bisa mengobati Wulan, adik bungsumu? Bukankah kamu tahu kalau adik punya cita-cita yang mulia ingin membantu mengobati orang sakit yang tidak mampu tanpa dipungut biaya?" aku menghela nafas panjang, sebisa mungkin menyembunyikan rana duka di wajahku.

Dan mereka hanya terdiam, semakin membuatku ingin menjerit, meronta sebab keadaan ini. Tergambar jelas kesedihan di wajah polos anak-anakku. Isak tangis si sulung pun semakin menjadi.

Dia yang selama ini hanya diam, tidak pernah protes apa-apa. Kini dia utarakan semua duka yang dia rasakan selama aku meninggalkannya, dari sekolah taman kanak-kanak hingga sekarang dia masuk sekolah menengah pertama.

"Maafkan ibu, Nak. Ini semua demi masa depan kalian, demi hidup yang lebih baik lagi."

Aku adalah tulang punggung mereka, bagaimana pun dan apa pun keadaannya, aku harus tetap kuat hingga kelak aku bisa menjadikan mereka anak-anak yang sukses dunia akherat.

Aku hanya ingin melihat anak-anakku sukses dalam pendidikannya, tidak seperti aku yang hanya tamatan sekolah menengah pertama. Aku ingin anak-anakku terus maju, hingga kelak mereka menjadi manusia yang berguna untuk bangsa, agama dan untuk orang banyak. Karena bagiku, tidak ada yang mustahil di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan ini. Seberat apa pun cobaan dalam hidup, bukan berarti aku pun harus menyerah dan terpuruk.

Tuhan lah yang akan ikut andil dalam segala perjuangan serta pengorbananku untuk mereka. Dan aku yakin bahwa mereka akan menjadi manusia hebat serta menjadi wanita-wanita tangguh.

"Harapan untuk tiga srikandiku!"

Taichung, 12 September 2019

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer