Cerpen

Secercah Cahaya di Langit Formosa

Oleh: Riana

Menjadi seorang tenaga kerja wanita atau TKW bukanlah cita-citaku, bahkan mungkin bukan cita-cita banyak orang. Tapi, keadaan memaksaku harus rela mengambil keputusan yang jelas-jelas ini bukanlah hal yang mudah bagiku.
Bagaimana tidak? Jika faktanya aku harus meninggalkan anak dan keluargaku dalam jangka waktu yang cukup lama.

Terpisah jarak yang begitu jauh, dan harus selalu berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Meski pada kenyataannya aku pun ingin meronta, meluapkan segala amarah, serta membiarkan tangis ini pecah sebab merindu pada mereka di rumah. Meninggalkan segala yang kumiliki di Indonesia termasuk anakku. Bahkan aku harus tega meninggalkan anak bungsuku dalam keadaan sakit, yang sebenarnya dia sangat membutuhkan peranku sebagai ibunya.

Sudah hampir 11 bulan aku menjadi seorang tenaga kerja wanita di negara yang sekarang aku tempati, berteduh dan mencari rezeki disini, di bawah langit Formosa. Dan ini kali ketiga aku menginjakkan kaki di sini. Selama itu juga aku mencoba untuk terus berdamai dengan segala kerinduanku pada anak serta keluarga yang sering kali menghampiri datang lewat mimpiku. Entah harus sampai kapan aku bertahan dalam keadaan yang seperti ini, haruskah aku memutuskan masa kontrak kerjaku dan pulang ke Indonesia atau tetap bertahan disini, memperpanjang kontrak kerjaku? Bagiku, ini adalah sebuah pilihan sulit yang terus bergelanyut dalam benakku.

Bagiku, banyak harta dan Rupiah bukanlah tujuan awalku. Melainkan untuk berobat anakku yang membutuhkan banyak biaya. Anakku yang terlahir Down Syndrome dan didiagnosa oleh dokter mengidap kangker darah atau 'Leukimia' juga kangker retina. Harus mondar-mandir terapi, keluar masuk rumah sakit. Belum lagi untuk kebutuhannya setiap hari, yang sehat pun butuh sandang pangan.

“Tuhan, apa yang harus kuperbuat? Haruskah aku menyerah pada keadaan? Sedangkan yang sakit harus diobati dan yang sehat pun butuh sandang pangan?”

Selama ini memang tak ada masalah apa-apa dalam kerjaku, meskipun terkadang sakit hati karena ocehan majikan itu wajar. Tapi makin kesini semakin merasa tidak kerasan.  Pasien yang aku jaga semakin tempramental, tak jarang ia melayangkan tangan atau melempar bantal ketika ia marah. Dan, aku sendiri pun tak paham serta tak tahu sebab ia marah. Belum lagi dengan otakku yang seperti benang kusut, fikiranku terbagi dengan bermacam masalah.

“Anna, besok pagi kamu bawa kakek ke Rumah Sakit Taichung untuk ambil darah,” suara pekikan nyonya mengagetkan lamunanku.

Aku terperanjat, dan langsung bangkit dari kursi rotan yang memang sudah hampir patah. “Baik Nyonya, jam berapa?”

“Besok pagi jam 7. Mulai jam 11 malam nanti jangan kasih kakek makan. Boleh makan besok pagi setelah ambil darah,” ucapnya sambil melangkah keluar dari pintu kamarku.

“Baik Nyonya,” aku pun berjalan mengikuti langkahnya.

Terkadang kondisi seperti ini yang selalu menjadi perundungan diantara aku dan teman-teman sesama tkw lainnya, tidak sedikit mereka yang datang dengan segala permasalahan hidup masing-masing, menjalani hidup dengan mencoba untuk membahagiakan diri sendiri ditengah peliknya kesedihan yang mendera, kesedihan yang selalu kami pendam. Hanya disaat kami bertemu diakhir pekan, atau sekedar bertemu di taman ketika kami membawa pasien masing-masing, saat itulah seakan kami bertemu keluarga sendiri. melepaskan semua beban kerja yang tak pernah mau pergi, bahkan saat kami tidur pun beban itu selalu bergelanyut dipelupuk mata.

Tidak sedikit dari temanku yang memperhatikan perubahanku, dari mata yang semakin sayu, tubuh yang semakin kurus, serta perubahan sikapku yang semakin pendiam. Bahkan sebagian mereka pun menyarankan untuk mengakhiri masa kontrak kerja dan pulang ke Indonesia Raya demi merawat anakku yang tengah sakit.

Ya, Wulan adalah anak bungsuku dari tiga bersaudara, usianya kini baru 17 bulan. Aku meninggalkannya sejak usianya baru menginjak 5 bulan. Aku titipkan ia pada ibuku karena memang aku pun sudah berpisah dengan mantan suamiku dan sejak perpisahan itu hingga saat ini pun dia tidak pernah lagi mau tahu kabar tentang anaknya meski jarak dari kantor ia bertugas tidaklah jauh dari rumahku. Tapi entah kenapa sekali pun dia tidak pernah singgah untuk sekedar menengok anaknya, bertanya kabar saja sama sekali tidak pernah ia lakukan. Aku pun tidak tahu dia itu manusia jenis apa. Terkadang, ada rasa benci, marah dan ingin aku luapkan semua padanya, tapi apa bedanya aku dengan dia jika aku pun menuruti keegoisanku?

“Dreeeddd… dreeeddd… dreeeddd.” Telepon genggamku bergetar. Iya, aku selalu mematikan bunyi telepon genggamku ketika aku sibuk dengan aktifitasku, hanya getaran saja yang selalu kuaktifkan.

Aku pun bergegas lari ke belakang rumah majikanku. “Assalamu’alaikum. Bu.”

Suara dari seberang sana pun terdengar sangat jelas. “Hallo... hallo... Wa’alaikumsalam. An, Wulan masuk rumah sakit lagi.”

Tangisku pecah tak bisa kutahan, kuraih tiang jemuran dan kupegang erat-erat untuk menopang tubuhku yang seakan tak ada tenaga lagi, kakiku semakin gemeteran, keringat dingin pun dengan derasnya mengucur dari tubuhku.

“Ya Allah. Kenapa lagi dengan Wulan, Bu?”

“Badannya panas dari semalam, kata dokter harus dirawat, HB Trombositnya pun turun.” Jawab ibuku yang semakin menjadi dengan tangisannya.

Aku tak sadar, ternyata nyonyaku memperhatikanku sejak aku pelan-pelan melangkahkan kaki.

“Anna, kamu kenapa menangis disitu? Ada masalah apa?” pekiknya dengan wajah yang memerah.

Sebenarnya dia baik, hanya saja kadang cerewetnya tidak bisa dikalahkan dengan suara radio di kamar kakek, yang hampir 24 jam distel. Sekalinya ngoceh ya tidak mau diam selagi emosinya belum mereda. Belum lagi kalau aku lupa menaruh barang atau sekedar lupa untuk mengingatkannya minum obat. Pasti suaranya bisa terdengar sampai pojok gang apartemen ini.

Kuhapus air mata dengan lengan bajuku, bergegas masuk dan tak lupa kupamerkan senyum di depan nyonyaku. Seolah-olah tak ada apa pun yang berlaku ketika ini.

“Tidak apa-apa Nyonya, maaf kalau saya tidak minta izin untuk keluar sebentar.” Ucapku, karena memang sebenarnya aku sedang masak.

“Ya sudah, cepat masuk! Selesaikan dulu masaknya! Sudah waktunya kakek makan malam.” Ucapnya dengan suara yang lantang.

“Robb, seberat inikah beban yang harus aku pikul? Sebesar inikah ujianMU untukku?”

Senja merah telah pun berlalu, tersapu oleh gelapnya malam. Aku masih terdiam dengan keresahan yang semakin membuatku tak betah berlama-lama disini. Kuambil benda pipih dari saku celanaku. Kucari nama ibu di kontak dan kutekan tombol hijau yang bertuliskan telepon. Berkali-kali tak ada jawaban, aku semakin resah dan tak menentu pikiran serta hati ini.

“Apa yang terjadi dengan Wulan, anakku. Ya Allah?”

Air mata tak lagi dapat kubendung, aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan tak lagi kuperdulikan kakek yang tengah teriak-teriak karena mungkin kebisingan dengan suara isak tangisku yang semakin menjadi. Kucoba sekali lagi menekan tombol panggilan suara untuk menelefon ibuku.

“Hallo... Assalamu’alaikum Ibu...”

“Wa’alaikumsalam.”

“Bu, keadaan Wulan bagaimana? Apa ada yang serius dengan Wulan. Bu?”

Sejenak terdiam, tak ada jawaban apa-apa dari seberang sana.

“Bu, tolong jawab Bu! Apa sebenarnya yang terjadi dengan anakku?” suaraku semakin memekik, rasa penasaran, kekhawatiran serta ketakutan seorang ibu ketika anaknya dalam keadaan sakit.

“Wulan... Wulan...”Tangis ibuku pecah.

“Bu, Wulan kenapa Bu? Kenapa dengan Wulan, Bu? Tolong jawab aku, Bu!” suaraku semakin parau dengan isak tangis yang semakin menjadi.

“Tuutt... tuutt... tuuutt...!!!” panggilan kami pun terputus. Mungkin pulsaku yang tak cukup untuk melanjutkan obrolan kami lewat telefon.

Semakin membuatku ingin lari saat ini juga, ingin kudekap anakku. “Maafkan ibu, Nak. Harusnya ibu ada disampingmu saat ini juga.”

Mendung di langit Formosa semakin menebal, awan hitam pun seakan kian tebal menyelimuti atmaku, membawaku larut dalam duka. Rintih batin menyempurnakan penderitaan ini. Kubuka hordeng jendela kamar, kulihat wajah anak-anak yang tengah asyik bermain. Jelas terlihat seakan sengaja mempermainkan perasaan ini. Aku semakin tidak karuan dengan keadaan ini, tak tahu apa yang harus kuperbuat setelah ini, haruskah aku menyerah dan kalah pada keadaan?

🍁🍁🍁

Mendung semalam telah pun tersapu oleh semburat cahaya di pagi hari. Meski lelah, aku harus tetap bangun untuk menjalankan aktivitasku. Dengan badan yang terasa berat serta mata yang sembab karena menangis semalaman dan enggan terbuka, kupaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidurku yang hanya beralaskan selimut tebal dan bantal yang sudah lepek.

Aku beregas untuk ke kamar mandi, membersihkan diri sebelum memulai aktivitas dan sebelum aku menikmati aroma kopi pahit yang selalu mengawali pagiku. Entah, pagi ini kopiku tak senikmat hari kemarin. Pikiranku masih karut marut dengan kabar yang semalam ibu berikan, ketakutan serta kekhawatiran terus bergelanyut di benakku. Bayangan wajah Wulan pun semakin lekat di pelupuk mata.

Notif panggilan masuk dari mantan majikanku yang di Taipei mengejutkanku, membuyarkan semua kekalutanku. “Wei Dhai-dhai, ni hao?”

“Wei Anna, ni hao ma?” jawabnya.
     
Aku memang sekarang tidak lagi berkerja pada mereka, tapi hingga saat ini mereka masih perduli dengan keadaanku. Bahkan ketika mereka tahu bahwa anakku terbaring lemah di ICU pun mereka mengirimkan sejumlah uang untuk biaya anakku. Kebaikan mereka yang membuatku bertahan di sini. Mungkin, majikan yang sekarang tidak begitu perhatian dengan keadaanku, mereka tidak pernah bertanya tentang anak-anakku, bahkan mereka pun tidak pernah bertanya bagaimana keadaanku disini. Tapi, aku selalu mencoba untuk bertahan demi pengobatan anakku.

“Anna, ni de nu er hai hao ma?” tanyanya.

Seketika tangisku pecah, aku tidak mampu berkata apa-apa. Hanya isak tangis yang bisa kulakukan untuk menjawab pertanyaan nyonya Ahua yang tak lain adalah mantan majikanku.

“Anna, you wenti ma?” tanyanya separuh memaksaku untuk menceritakan semua kepadanya.

Entah harus memulai dari mana untukku menceritakan semua kepada nyonya Ahua. Aku sudah terlalu banyak merepotkannya, aku juga tidak mau dia ikut memikirkan keadaan Wulan, anakku. Sejenak aku diam, kuhela nafas panjang untuk kembali mengumpulkan kekuatan.

“Mei wenti, Dhai-dhai,” jawabku menutupi semua nestapaku.

“No... Wo renshi ni, Anna. Wo zhidao ni sahuang,” nyonya Ahuang terus memaksaku untuk menceritakan apa yang terjadi tentang Wulan.

Dan lagi-lagi, tangisku kian pecah. Aku tidak bisa menyembunyikan semua dari orang yang begitu baik kepadaku. “Wo de nuer bingle, xianzai zai yiyuan.”

“Hah, ni nuer zenmeliao. Anna?” pekiknya.

Aku tak kuasa untuk menyembunyikan semua. Bagiku, nyonya Ahua adalah ibu keduaku di Formosa ini. Dia banyak mengajarkan aku pelajaran hidup, mengajarkan aku bagaimana hidup yang lebih baik di negeri ini. Dia juga dulu yang sering membawaku untuk berkeliling ke tempat-tempat pariwisata di Taiwan, mengajakku berkeliling pasar malam untuk menikmati jajanan khas Taiwan, dia juga yang telah mengajarkan aku untuk selalu menghargai hasil jerih payahku selama berteduh di sini. Agar kelak aku pulang, aku punya simpanan untuk sekolah anak-anak dan juga masa depanku.

🍁🍁🍁

Aku merasa lega, bebanku sedikit berkurang. Nyonya Ahua memberi uang untuk biaya pengobatan anakku. Karena memang bebanku terlalu banyak untuk kupikul dan pikirkan sendiri. Aku bersyukur karena Tuhan telah mempertemukanku dengan mereka, orang-orang yang selalu perduli dengan kesusahanku meskipun sekarang aku bukanlah pekerja di rumahnya. Dengan perasaan sedikit bahagia aku kembali menghubungi ibu, berharap tidak akan ada keburukan yang menimpa anakku, ingin sekali anakku kembali sehat, dengan tumbuh kembangnya yang baik layaknya anak normal lainnya.

Di Formosa ini, aku merasa ada secercah cahaya yang selalu menyinari hidupku. meski pun terkadang ada saja perundungan yang mendera batinku. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa aku beri pada keluarga mantan majikanku untuk membalas semua kebaikan mereka. Pernah ketika itu aku berbincang dengan nyonya Ahua tentang uang NTD 10.000 yang ia kirimkan ketika anakku masuk ruang ICU, sebenarnya aku ingin mengembalikan uang tersebut. Tapi nyonya Ahua melarangku untuk mengembalikan kepadanya, karena dia tahu yang tanggungan hidupku tidaklah sedikit. Bahkan hingga saat ini, nyonya Ahua sering mengirim kopi kesukaanku.

Pernah sekali aku dipergoki majikan yang sekarang. Mungkin, dia merasa curiga karena sering memergoki aku sedang berbicara lewat telefon genggam dengan berbahasa Mandarin. Namun, aku tidak pernah menghiraukannya. Di sini aku selalu mencoba untuk berkerja sebaik mungkin menjaga dua orang pasien, yaitu kakek dan nenek yang sama-sama sudah harus diperhatikan. Meski begitu, aku selalu memperlakukan mereka layaknya kakek dan nenekku sendiri.

Mungkin, kali ini aku tak seberuntung dulu ketika aku berkerja di keluarga nyonya Ahua, tapi bagaimana pun rezeki tetap harus disyukuri. Dulu, ketika aku masih dengan keluarga nyonya Ahua, aku sering diberi waktu untuk menjenguk sesama pekerja migrand Indonesia yang sakit atau mengalami kecelakaan kerja. Karena kebetulan aku pun ikut dalam komunitas Save BMI di sini. Meluangkan waktu untuk memberikan donasi dan dukungan moral pada yang sakit atau mereka yang mengalami kecelakaan kerja.


Pernah sekali, aku diantar sama adik laki-laki nyonya Ahua untuk menjenguk teman PMI yang sakit. Dia rela menghabiskan waktu untuk mengantarku ke rumah sakit. Sekarang, meski tidak seberuntung ketika aku berada di tengah-tengah keluarga nyonya Ahua, tapi setidaknya ini pun jauh lebih baik dari 16 tahun yang lalu, ketika aku berkerja di Singapura. Entah kenapa aku masih saja selalu teringat kejadian menyakitkan itu. Untuk melupakan sebuah kepahitan bukanlah hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Kepahitan dulu masih saja menghantui pikiranku.

🍁🍁🍁

2003  kali pertama aku menjadi tenaga kerja wanita, destinasiku kala itu adalah Singapura. Berharap aku bisa membantu perekonomian keluargaku, tapi justru malang yang aku dapat. Aku mendapat agency yang tidak punya hati. Bahkan aku harus merasakan kedinginan yang luar biasa sebab harus berdiri di bawah AC tanpa memakai baju, hanya celana dalam saja yang tersisa ketika itu.

Sebenarnya, kasusku tidak terlalu fatal. Hanya karena aku minta pindah majikan, tapi agencyku marah besar dan menghukumku, memperlakukan aku layaknya binatang. Selama hampir 2 pekan aku diperlakukan tidak sewajarnya, hingga pada akhirnya aku pun memberanikan diri untuk meminta pulang. Sontak saja membuat Mr. Raymond yang tak lain adalah agencyku marah besar. Dia semakin beringas memakiku, bahkan dia pun berbuat tak senonoh denganku. Tapi aku hanya bisa diam tanpa perlawanan. Apa dayaku?

“Hei, you know if you will go home? You must give me Rp. 20.000.000. And i don't let you go home, but i will send you to Batam.” Ucap Mr. Raymond kala itu.

“But Sir, you haven't given me my 3 month salary.” Jawabku penuh ketakutan.

Mendengar jawabanku yang mengungkit tentang gaji, dia pun langsung bangkit dari kursinya. Seraya mendekatiku, dia membelai rambutku dan berbisik “ 3 month salary is not enough to pay your debt. If you want to go back to Indonesia, I will send you to Batam to make you a prostitute there.”

Mendadak gemetar seluruh tubuhku, seakan langit runtuh ketika aku mendengar ucapan Mr. Raymond. Ketakutan kian tebal meyelimutiku. Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya hujan kecil di sudut netra yang kian deras membasahi pipi, isakku kian menjadi.

Melihat aku menangis, Mr. Raymond pun kian kalap. Nanar matanya kian tajam, bola matanya memerah bak api yang membara. Dihempaskan telapak tangannya ke atas meja kayu di depanku. “Braaakkk… You don't cry Ryana. I don't like tears.”

Entah apa yang harus aku perbuat, aku tidak tahu jalan mana yang harus aku tempuh. Sementara untuk bertahan dan mencari majikan baru pun aku sudah tidak punya keyakinan, aku pasrah dengan apa yang akan terjadi esok ketika Mr. Raymond benar-benar mengirimku ke Batam. Berharap aku tidak akan pernah menemukan jalan kenistaan di sana.

🍁🍁🍁

Mr. Raymond benar-benar membuangku ke Batam. Tanpa uang sepeserpun gajiku diberikan padaku, nasib baik aku tidak sendiri kala itu. Aku berdua dengan kak Vita dari Kalimantan. Kami berdua seperti orang yang tidak waras, kebingungan. Tak tahu tujuan, dan tak tahu arah mana yang harus ditempuh. Aku hanya diam, sesekali kuusap bulir bening yang menetes di sudut pipiku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupku esok lusa. Ketakutan yang teramat dalam ialah bagaimana kalau aku benar-benar dijadikan pelacur seperti apa yang Mr. Raymond katakan.

“Adik ini sepertinya sedang dalam kebingungan, apa ada masalah? Dan mau kemana?” suara seorang lelaki paruh baya mengejutkan lamunanku.

“Saya sebenarnya tidak tahu mau kemana. Saya baru saja dibuang oleh agency saya di Singapura.” Jawabku menahan isak tangis.

“Kamu kenapa sih harus jujur sama dia? Bagaimana kalau dia ini orang jahat? Terus kita dijadikan pelacur seperti apa yang Mr. Raymond katakan pada kita.” Kak Vita mencubit pahaku.

Selama di kapal, seorang lelaki paruh baya itu banyak memberi tahu aku dan kak Vita tentang kehidupan di Batam, bahkan dia pun menawarkan pekerjaan pada kami. Yaitu berkerja pada anak dan menantunya yang kebetulan sedang membutuhkan pembantu rumah. Tanpa fikir panjang, kami pun mengiyakan ajakannya. Hanya do'a yang selalu aku panjatkan kepada Tuhan agar senantiasa selalu dalam lindunganNya serta dalam kebaikanNya. Sesampainya di Pelabuhan Batam Centre kami diajak makan sebelum akhirnya kami diajak pulang ke rumah anak dan menantunya.

Nyonya Ahuang adalah majikan baruku di Batam, aku berkerja sebagai baby sister di rumahnya. Menjaga Jason, anak laki-laki nyonya Ahuang yang berumur 6 tahun, dan Jaselyn, anak perempuan nyonya Ahuang yang berumur 5 tahun. Tugasku adalah mengantar jemput mereka ke sekolah. Sedang kak Vita membersihkan rumah dan masak. Beruntung sekali mendapat majikan yang baik, kali ini nasib baik berpihak kepadaku. Semua ketakutan yang Mr. Raymond ciptakan kini perlahan pun terhapus, aku semakin yakin untuk berkerja dengan keluarga nyonya Ahuang. Hingga aku mampu bertahan sampai satu tahun berkerja dengannya, dan pada akhirnya aku pulang untuk berkumpul kembali dengan orang tuaku. Kembali merasakan kasih sayang orang tuaku yang tumpah ruah tanpa syarat apa pun.

🍁🍁🍁

Seperti hal nya sekarang, aku selalu berusaha untuk menepis segala ketakutan dan kekhawatiran yang selalu menyelimuti benakku. Aku takut kalau hal buruk menimpa Wulan, anakku. Tapi, aku pun percaya bahwa Tuhan telah membagi semua pada umatNya, termasuk; rezeki, jodoh dan kematian. Aku hanya berharap secercah cahaya yang kutemukan di Formosa ini akan membawaku pada sebuah keindahan, seindah langit di malam hari dengan beribu lampion-lampion kecil yang menyala, dengan terangnya rembulan yang semakin memberi indah di kegelapan.

Sebab, bahagia pun bukan orang lain yang mencipta. Melainkan diri sendiri yang melukis, bahagia lahir dari hati kita sendiri. Meski mungkin, tak selalunya ada pelangi setelah hujan, setidaknya badai pasti berlalu. Pun dengan hidupku, meski terkadang jalan yang harus kutempuh banyak liku dan kerikil tajam, namun aku harus tetap melewatinya. Aku harus tetap melangkahkan kaki hingga kelak aku pun sampai pada titik yang telah Tuhan tentukan untuk umatNya, yaitu kematian. Namun begitu, harapanku bisa menyelesaikan kontrak kerjaku di sini, pulang membawa kesuksesan hingga akan tiba saatnya aku kembali pada anak dan keluargaku untuk menyudahi semua kerinduan yang telah membeban dalam benakku, kerinduan yang selalu membuatku sekarat tidak karuan.

“Terima kasih untuk nyonya Ahua yang hingga saat ini selalu memberiku dukungan, baik dukungan moril mau pun dukungan moral. Terima kasih untuk Formosa yang ramah tamah, telah memberiku banyak pelajaran dan pengalaman hidup. Terima kasih pada Tuhan yang telah memberi secercah cahaya di Formosa ini yang kian menyinari hidupku. Indah langit Formosa akan selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan, bahkan kelak akan kuceritakan indahmu pada anak cucuku. Akan menjadi sebuah memori yang tak kan pernah usang dalam ingatan bagi para pendatang, serta bagi para pekerja migrand dari negara Indonesia, serta dari negara asing lainnya. Aku menemukan kebahagiaan ketika kumenatap langit Formosa. Mendung di atas sana telah terhapus oleh indahnya cahaya yang kian menyinari hidupku, semoga gelap tak lagi singgah dalam hidupku.”

Taichung, 11 September 2019

🍁🍁🍁

*Wei Dhai-dhai, ni hao? = Halo Nyonya, apa kabar?

*Wei Anna, hi hao ma?   = Halo Anna, apakah kamu baik-baik saja?

*Anna, ni de nuer hai hao ma? = Anna, apakah putrimu baik-baik saja?

*Anna, yao wenti ma? = Anna, apakah ada masalah?

*Mei wenti, Dhai-dhai = Tidak ada masalah, Nyonya

*No. Wo renshi ni, Anna. Wo zhidao ni sahuang = Tidak. Saya mengenalmu  Anna. Saya tahu kamu berbohong

*Wo de nuer bingle, xinzai zai yiyuan = Putri saya sakit, sekarang di rumah sakit

*Hah, ni nuer zenmeliao. Anna? = Hah, putrimu kenapa. Anna?

*Hei, you know if you will go home? You must give me Rp. 20.000.000. And i don't let you go home, but i will send you to Batam = Hei, kamu tahu kalau kamu mau pulang ke rumah? Kamu harus kasih saya 20 juta. Dan saya tidak akan membiarkanmu pulang, tapi saya akan mengirimmu ke Batam

*But Sir, you haven't given me my 3 month salary = Tapi Tuan, Anda belum memberi gaji saya 3 bulan

*3 month salary is not enough to pay your debt. If you want to go back to Indonesia, I will send you to Batam to make you a prostitute there = 3 bulan gaji tidak cukup membayar hutangmu. Jika kamu mau pulang ke Indonesia, saya akan mengirimmu ke Batam untuk menjadikanmu pelacur di sana

*You don't cry Ryana. I don't like tears = Jangan menangis Riana. Saya tidak suka itu

Komentar

  1. sedihnya. tetap semangat. semoga selalu dalam lindungan-Nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, terima kasihπŸ˜ŠπŸ™

      Hapus
  2. Huaaaa, aku sedih mbak bacanya. MEski panjang, sampe tak ikutin semua detailnya. Semoga Mbak Riana dan keluarga selalu dalam lindungan Allah, amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, terima kasih sudah mau baca tulisan yang panjang banget ini, Mbak😊

      Hapus
  3. Ya Allah mba, perjuangan hidupmu sungguh luar biasa, semoga Allah selalu menguatkanmu ya mba...tetap semangat, salam sayang untuk wulan 😘😘 semoga Allah segera mengangkat sakitnya ya mba Allahumma aammiiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, terima kasih Mbak. Nanti disampaikan ke dek WulanπŸ˜‰

      Hapus
  4. Aku merinding bacanya...... Salut sama mbak... Semoga di beri kemudahan dalam hidupnya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, terima kasihπŸ˜‰πŸ™

      Hapus
  5. Semangat mba riana, Alloh bersama hamba-Nya yg selalu bersabar.. #salamsayang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Insyaa Allah semangat tiada padam Mbak😊

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer