Catatanku Nge-ODOP


"Eh, kemarin kamu lulus tantangan ODOP pekan pertama, kan? Selamat ya!" tulis sahabatku.

"Alhamdulillah aku lulus, Guys!" balasku.

Nge-ODOP selama 60 hari? Wow… sanggup enggak? Ya, kadang aku jengah juga kan kalau terus-terusan didera dengan pertanyaan seperti itu? Cita-cita jadi penulis mahir ya kudu doyan nulis, dong!
Baca juga dong! Eh, tapi sebenarnya aku paling malas baca.

Awalnya aku hanya ingin menulis cerita yang manis, tanpa sedikit saja rasa pahit di dalamnya. Tidak seperti hidupku yang memang saat ini sedang dalam kepahitan. Sebisa mungkin aku meracik kata untuk menjadi satu paragraf yang indah serta mudah dicerna oleh pembaca. Ya, aku lebih suka menulis fiksi jenis cerpen realis.

Di tengah kesibukan yang begitu padat, mengurus dua pasien yang memang harus diperhatikan bukan hanya dengan netra saja, tapi tindakan yang lebih, pastinya. Aku mencoba untuk berimajinasi, menuang asa dalam setiap goresanku. Kadang, tidak ada waktu tapi sebisa mungkin aku mencuri celah untuk bisa berdiskusi antara logika dan perasaan untuk mencipta sebuah karya yang memang masih belum sempurna. (Dan kebetulan pasienku sudah pada tidur, jadi sesegera mungkin aku menulis).

Tidak jarang pula aku bertanya pada sahabat yang memang sudah mahir dalam dunia literasi, bahkan aku pun sering bertanya pada Google ketika aku merasa kesulitan dalam merangkai kata sesuai KBBI. 

Jika ditanya kenapa aku lebih suka menulis fiksi jenis cerpen realis. Jawabanya: Karena dengan menuang semua yang berdasarkan true story itu menurutku lebih gampang dan lebih ngena ke hati. Seperti apa yang Mbak Sakifah bilang kepadaku: "Apa yang kita tulis dari hati… akan sampai pula ke hati."

Ya, jadi apa yang menjadi anggapan aku pun sama. Sesuatu yang diawali dengan hati maka akan sampai pula ke hati. Mungkin, itulah cara penulis menghipnotis pembaca agar tertarik dengan karya yang disajikan untuk mereka. Dengan tatanan bahasa yang menarik, simple, dan mudah dipahami oleh setiap pasang mata yang sedang menyantapnya.

Jadi Guys, aku lebih suka berimajinasi dan menggabungkannya dengan cerita atau kisah yang memang aku alami sendiri, hingga kemudian aku rangkai menjadi sebuah cerpen. Apalagi kalau baca karya Boy Candra itu, langsung kebawa ke angan. Sebab, kita pun perlu belajar dari karya orang, bukan? Terkadang kita nemu ide untuk menulis setelah membaca dan memahami isi dari karya orang lain, tapi bukan pula kita menjadi plagiarisme. 

"Mbak, aku suka termehek-mehek kalau baca cerpen yang kamu tulis. Serasa aku ada di dalam cerita itu." Ya, seseorang pernah berkata seperti itu setelah membaca cerpenku.

Dan itu adalah salah satu contoh yang bisa kita jadikan penyemangat untuk terus belajar menghipnotis dan menggiring pembaca agar mereka betah ketika membaca karya kita. Apalagi ketika tulisan kita mampu menginspirasi pembacanya, wah rasanya ingin sekali melahirkan karya yang lebih banyak dan lebih baik lagi, bukan?

Jadi Guys, apapun yang menjadi kemahiran kita, jadikan itu sebagai tantangan. Maka kita pun tidak akan pernah bangga dan puas dengan apa yang kita tulis, justru kita akan merasa tertarik dan terus tertarik untuk lebih memahami serta mendalami apa yang menjadi kemahiran kita, sampai kita benar-benar sampai pada klimaks yang kita inginkan. Seperti halnya dengan menulis cerpen atau novel, kita membutuhkan ending yang benar-benar klimaks. Agar pembaca tidak bosan dan kecewa setelah membaca karya kita.

"Semangat nge-ODOP ya, Guys! Semoga kita semua lulus di tantangan pekan kedua. Dan lulus sampai akhir penentuan kelulusan nanti."

ODOP_Batch7
Tantangan2

Komentar

  1. Ada namaku.... ๐Ÿฅฐ

    Jadi paling sering nulis cerpen realis ya kak? Keren nihhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, soalnya lebih ngena ke hati๐Ÿ˜‚ jadi gampang nulisnya tanpa harus berpikir lebih lama lagi, terima kasih ya Mbak untuk ilmunya๐Ÿ˜ terima kasih untuk pemateri lainnya juga pijeh nya yang keceh-baday

      Hapus
  2. ๐Ÿ˜ kereen Kak, semoga bs ktemu waktu Munas ODOP tahun depan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, semoga saja ya Mbak๐Ÿ˜

      Hapus
  3. Wah penggemar Boy Candra rupanya. Saya kebalikannya. Heheh. Semangat terus menulis hingga akhir.

    Blog saya: aoikinawa.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saya tidak tereliminasi๐Ÿ˜‚, terima kasih Mbak, sudah tak follow ya๐Ÿ˜

      Hapus
  4. Sepertinya gue jadi ada inspirasi buat nulis tantangan ODOP pekan ke-2 ini. Makasih Kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, Waah nanti aku jelajah ke blognya ya, Kak๐Ÿ˜Š

      Hapus
  5. Semangaaattt buat kita ๐Ÿ˜❤️

    BalasHapus
  6. Pasti bisa bertahan sampai garis finish...aammmiiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, semoga ya Mbak๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

      Hapus
  7. Semangat mba...kurang lebih masih ada 6pekan lagi yang mesti dilalui

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, semoga lulus sampai penghujung ya. Aamiin๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

      Hapus
  8. Semangat terus untuk menulis, mbak Riana! :)
    .
    .
    Arsilogi.id

    BalasHapus
  9. Nulis fiksi memang lebih menantang, ya Mbak ��

    BalasHapus
  10. Kalau menurutku menulis fiksii itu butuh imajinasi yang kuat, semangat nulisnya kak๐Ÿ‘

    BalasHapus
  11. Waw cerpen realis... dimana imaji dan nyata menyatu, ya... keren, Kak. ๐Ÿ‘๐Ÿฅฐ

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer