Catatan Kecil Seorang TKW
Jadi, sebenarnya menjadi seorang TKW bukanlah sebuah cita-citaku sejak duduk di bangku sekolah dasar. Cita-citaku ketika itu ingin menjadi 'Dokter'.
Dan ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama justru aku sering menulis, berimajinasi melalui kata yang kutuang dengan tinta hitam di atas kertas. Meski hanya menjadi bahan bacaan sendiri, tidak untuk disajikan atau tidak untuk dikonsumsi publik.
Karena, ketika itu memang masih sangat minimnya alat elektronik, apalagi android seperti jaman sekarang yang sudah bebagai macam merk serta terlalu banyak pilihan bagi kita penikmat benda pipih itu.
Pertama memutuskan untuk bekerja ke luar negeri adalah sekitar tahun 2003, setelah 2 atau 3 tahun lulus dari sekolah menengah pertama. Negara tujuan awal yang aku pilih adalah Singapura. Kenapa aku lebih memilih negara tersebut? Kenapa tidak memilih Taiwan atau Hongkong, atau negara Timur-Tengah?
Karena, jarak negara Singapura lebih dekat dengan Indonesia, kontrak kerja pun hanya terikat 2 tahun, selebihnya itu tergantung bagaimana pihak pertama dan pihak kedua (Dalam artian; antara pembantu dan majikan. Jika memang mereka sama-sama cocok, maka melanjutkan kontrak adalah pilihan).
Sedangkan negara Timur-Tengah ketika itu memang sudah beredar rumor yang tidak baik; penyiksaan terhadap TKW, dari fisik hingga pelecehan seksual. Dan itu merupakan sebuah ketakutan bagi kami kaum perempuan.
Taiwan, Hongkong sendiri ketika itu memang masih jarang sekali yang bekerja ke sana. Hanya segelintir orang saja yang sudah menjadi TKW di negara tersebut.
Awal masuk Singapura menjadi TKW pada tahun 2003, hanya bertahan berapa bulan kerja. Mungkin disebabkan pekerjaan yang terlalu banyak sehingga aku memilih untuk pindah majikan, namun tidak semua agency pun bisa membantu dan membela TKW. Dan aku dibuang di Batam, itu adalah pengalaman terpahit yang aku alami. Bersyukur Allah masih melindungiku, berkat do'a kedua orang tua juga akhirnya aku kerja merawat balita di kawasan perumahan Nagoya. Bertahan selama 1 tahun, hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.
Tahun 2008 adalah kali kedua masuk ke negara Singapura hingga finish kontrack pada tahun 2010. Di daerah Bedok Nort ave 2. Di majikan ini banyak sekali ilmu agama yang kudapat; Menjaga dua anak balita, nenek yang ketika itu punya sakit gula darah, hingga aku banyak belajar bagaimana cara dan adab memandikan mayat (karena nenek yang aku jaga kebetulan seorang pemandi mayat) hingga akhirnya aku memutuskan untuk belajar berhijrah, mulai memutup aurat.
Tahun 2012 kali pertama memutuskan untuk masuk menjadi seorang TKW ke Taiwan, bekerja merawat nenek berusia 79. Masih dalam keadaan lumayan sehat, tapi harus membawanya cuci darah karena pasienku punya riwayat gagal ginjal. Namun hanya bertahan selama beberapa bulan menjaganya dalam keadaan sehat. Hingga pada akhirnya pasien yang aku rawat koma selama 1 bulan 17 hari. Setelah pasienku bangun dari koma, mau tidak mau aku harus menjaga serta merawatnya dalam keadaan lumpuh total dengan selang yang tertancap di sana sini bagian tubuhnya. Dengan; selang sedot dahak, selang kencing, selang sonde.
Sementara aku hanya seorang yang lulusan sekolah menengah pertama, tidak pernah tahu apa dan bagiamana dunia kebidanan atau kesusteran. Dulu, di BLK memang ada praktek tentang itu semua. Hanya saja real dengan praktek yang hanya sekedar praktek pasti berbeda. Tapi, ini adalah sebuah tanggung jawab dan harus aku jalankan, apapun resikonya.
Tahun ini, kali ketiga aku menginjakkan kaki di negeri Formosa ini, berteduh di bawah langitnya demi sebuah amanah yang harus aku tanggung jawabi dunia akhiratnya. Banyak pengalaman berharga yang aku dapat dari setiap majikan yang memperkerjakanku, dari; Sifat, budaya, juga adat. Sebab, tidak selamanya dan tidak mungkin juga setiap kepala sama isi serta cara berfikirnya.
Kali ini, aku menjaga dua pasien yang semua harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, harus kembali beradaptasi juga belajar lagi. Menjaga pasien yang harus menjalani cuci darah juga suntik insulin bukan hal yang mudah, karena menjaga pasien yang punya riwayat penyakit gula darah itu harus benar-benar telaten dalam segala hal. Menjaga makan minum mereka, tidak boleh terlupa untuk memberi obat, juga harus benar-benar diperhatikan sebelum memberi suntik insulin. Belum lagi jika pasien tersebut ada luka di tubuhnya, maka; harus benar-benar teliti dan telaten dalam merawatnya. Sebab, merawat luka itu memang perlu, bukan malah menambah luka.
Kenapa tidak memilih job pabrik atau di panti jompo?
Jawabanku simple; Karena bagiku bekerja informal lebih aman dalam segala hal, makan ditanggung majikan, tidak perlu bayar sewa kamar. Formal (pabrik atau panti jompo) memang bebas, waktu bergaul pun bebas. Tapi menurutku, semua punya pilihan masing-masing. Aku lebih ke tujuan awal pergi jauh meninggalkan keluarga dalam waktu yang cukup lama yaitu fokus mencari nafkah, bukan untuk bersenang-senang.
Lantas, bagaimana menbagi waktu? Antara; kerja, ibadah dan istirahat?
Kerja; Untuk informal sendiri memang 24 jam nonstop fokus ke pasien, karena memang tinggal satu atap bahkan harus satu kamar dengan pasien.
Ibadah; Pintar-pintar membagi waktu untuk beribadah. Sebab, kita di sini menjadi 'minoritas' yang mayoritasnya 'non muslim'. Harus pandai mengatur waktu, juga pandai mengambil hati majikan untuk memberi ruang serta waktu beribadah untuk kita. Karena setiap manusia pasti punya kepercayaan masing-masing.
Istirhat; Menurutku waktu istirahat ya ketika pasien istirahat. Di situlah aku bisa meluangkan sejenak waktu untuk istirahat, berkomunikasi dengan keluarga, menulis, membaca.
Jadi, sebenarnya memang bukal hal mudah untuk masuk ke sebuah negara yang menjadi tujuan untuk mencari nafkah. Berteduh dan menginjakkan kaki di negara yang jauh sebelumnya tidak pernah tahu, bagaimana dengan; budaya, adat, serta lingkungan yang akan ditempati.
Beradaptasi dengan orang-orang baru yang sama sekali belum pernah kenal satu sama lain, bahkan mungkin bermimpi pun belum pernah. Belum lagi dengan bahasa yang kerap kali menjadi kendala untuk berkomunikasi. Belum lagi bagaimana sulitnya hidup di dalam penampungan, berdesak-desakkan dengan ribuan orang. Berlama-lama menanti job, menanti Vissa untuk bisa masuk ke negara tujuan. Ribuan air mata menjadi saksi betapa perihnya hidup di penampungan, menahan segala rasa, emosi, serta rindu pada mereka yang tengah menanti kabar baik dari aku juga para TKW lainnya.
Oke, berbicara tentang penghasilan selama menjadi seorang TKW, untuk aku pribadi; seberapa banyak gaji jika tidak bisa bersyukur maka kita pun tidak akan pernah merasa puas dan cukup, bukan begitu?
Jadi lebih ke pada rasa syukur kita, bagaimana kita mensyukuri setiap nikmat dan rezeki yang telah Allah bagi.
Terkadang, acap kali aku dihadapkan dengan sebuah pertanyaan; kenapa tidak diam di rumah saja supaya lebih dekat dengan anak-anak tanpa jarak, tanpa adanya kerinduan yang jelas-jelas akan mendera batin seorang ibu? Toh, di Brebes pum sekarang sudah banyak pabrik-pabrik milik Asing yang menawarkan ribuan lowongan pekerjaan.
Jadi, hidup berdampingan dengan anak dan keluarga yang teramat kita cintai adalah suatu kebahagiaan untuk kita, memang. Tapi, jika serba minim pun hanya akan menambah beban pikiran kita, bukan?
Sedang UMR di Brebes sendiri pun relatif paling rendah dibanding tempat lain. Sehingga menjadi TKW atau TKL adalah jalan terakhir yang menjadi pilihan kita, bahkan di Brebes sendiri tercatat lebih dari 50.000 jiwa yang keluar mencari rezeki di negeri seberang. Itu disebabkan minimnya penghasilan, sedang harga kebutuhan; sandang pangan serta kebutuhan lain termasuk berobat sagatlah mahal. Sebab, ketika menggunakan layanan BPJS pun terkadang mendapat layanan yang sangat tidak layak. Juga untuk bantuan-bantuan dari pemerintah yang meliputi; PHK, KIP (kartu Indonesia pintar), KIS (kartu Indonesia sehat) hanya orang-orang tertentu yang mendapatkannya, bahkan banyak yang salah sasaran (dalam artian; banyak keluarga mampu yang justru mendapatkan fasilitas itu, sedang orang yang tidak mampu justru tidak mendapatkan fasilitas itu).
Jadi, nikmati apa yang menjadi pekerjaan kita, meski terkadang hanya dianggap rendah, dipandang sebelah m
ata oleh mereka yang merasa dirinya paling baik dan benar. Sebenarnya tidak ada si kaya dan si miskin dalam pandanganku, tapi rasa syukur yang menjadikan kita merasa berbeda. Mensyukuri apa yang menjadi nikmat kita, itu yang selama ini menjadi prinsipku, sehingga sebisa mungkin aku bisa melewati setiap fase kehidupan meski dalam keadaan tersulit sekalipun.
Dan, jangan melihat seseorang hanya dari status sosial saja! Sebab, terkadang jabatan tinggi serta seragam yang dikenakan bukan sebuah jaminan kebahagiaan, bukan pula sebuah jaminan bahwa mereka manusia baik. Bukan seperti itu cara menghargai manusia, bukan hanya dari tingginya jabatan serta seragam yang terpasang atribut sebagai tanda pengenalan diri!
Sebuah coretan yang mungkin tidak ada faedahnya, tapi ini akan menjadi cerita esok lusa untuk anak cucu. Bahwa sebuah perjuangan itu sangat mahal harganya, dan hanya orang-orang pilihan yang sanggup bertahan dalam kesengsaraan meski menjadi yang terhina di mata insani.
Tiada harap yang lebih, melainkan semoga lelah ini menjadi lillah, berkah untuk mereka yang mencintai dan dicintai.
Jadi, sebenarnya menjadi seorang TKW bukanlah sebuah cita-citaku sejak duduk di bangku sekolah dasar. Cita-citaku ketika itu ingin menjadi 'Dokter'.
Dan ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama justru aku sering menulis, berimajinasi melalui kata yang kutuang dengan tinta hitam di atas kertas. Meski hanya menjadi bahan bacaan sendiri, tidak untuk disajikan atau tidak untuk dikonsumsi publik.
Karena, ketika itu memang masih sangat minimnya alat elektronik, apalagi android seperti jaman sekarang yang sudah bebagai macam merk serta terlalu banyak pilihan bagi kita penikmat benda pipih itu.
Pertama memutuskan untuk bekerja ke luar negeri adalah sekitar tahun 2003, setelah 2 atau 3 tahun lulus dari sekolah menengah pertama. Negara tujuan awal yang aku pilih adalah Singapura. Kenapa aku lebih memilih negara tersebut? Kenapa tidak memilih Taiwan atau Hongkong, atau negara Timur-Tengah?
Karena, jarak negara Singapura lebih dekat dengan Indonesia, kontrak kerja pun hanya terikat 2 tahun, selebihnya itu tergantung bagaimana pihak pertama dan pihak kedua (Dalam artian; antara pembantu dan majikan. Jika memang mereka sama-sama cocok, maka melanjutkan kontrak adalah pilihan).
Sedangkan negara Timur-Tengah ketika itu memang sudah beredar rumor yang tidak baik; penyiksaan terhadap TKW, dari fisik hingga pelecehan seksual. Dan itu merupakan sebuah ketakutan bagi kami kaum perempuan.
Taiwan, Hongkong sendiri ketika itu memang masih jarang sekali yang bekerja ke sana. Hanya segelintir orang saja yang sudah menjadi TKW di negara tersebut.
Awal masuk Singapura menjadi TKW pada tahun 2003, hanya bertahan berapa bulan kerja. Mungkin disebabkan pekerjaan yang terlalu banyak sehingga aku memilih untuk pindah majikan, namun tidak semua agency pun bisa membantu dan membela TKW. Dan aku dibuang di Batam, itu adalah pengalaman terpahit yang aku alami. Bersyukur Allah masih melindungiku, berkat do'a kedua orang tua juga akhirnya aku kerja merawat balita di kawasan perumahan Nagoya. Bertahan selama 1 tahun, hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.
Tahun 2008 adalah kali kedua masuk ke negara Singapura hingga finish kontrack pada tahun 2010. Di daerah Bedok Nort ave 2. Di majikan ini banyak sekali ilmu agama yang kudapat; Menjaga dua anak balita, nenek yang ketika itu punya sakit gula darah, hingga aku banyak belajar bagaimana cara dan adab memandikan mayat (karena nenek yang aku jaga kebetulan seorang pemandi mayat) hingga akhirnya aku memutuskan untuk belajar berhijrah, mulai memutup aurat.
Tahun 2012 kali pertama memutuskan untuk masuk menjadi seorang TKW ke Taiwan, bekerja merawat nenek berusia 79. Masih dalam keadaan lumayan sehat, tapi harus membawanya cuci darah karena pasienku punya riwayat gagal ginjal. Namun hanya bertahan selama beberapa bulan menjaganya dalam keadaan sehat. Hingga pada akhirnya pasien yang aku rawat koma selama 1 bulan 17 hari. Setelah pasienku bangun dari koma, mau tidak mau aku harus menjaga serta merawatnya dalam keadaan lumpuh total dengan selang yang tertancap di sana sini bagian tubuhnya. Dengan; selang sedot dahak, selang kencing, selang sonde.
Sementara aku hanya seorang yang lulusan sekolah menengah pertama, tidak pernah tahu apa dan bagiamana dunia kebidanan atau kesusteran. Dulu, di BLK memang ada praktek tentang itu semua. Hanya saja real dengan praktek yang hanya sekedar praktek pasti berbeda. Tapi, ini adalah sebuah tanggung jawab dan harus aku jalankan, apapun resikonya.
Tahun ini, kali ketiga aku menginjakkan kaki di negeri Formosa ini, berteduh di bawah langitnya demi sebuah amanah yang harus aku tanggung jawabi dunia akhiratnya. Banyak pengalaman berharga yang aku dapat dari setiap majikan yang memperkerjakanku, dari; Sifat, budaya, juga adat. Sebab, tidak selamanya dan tidak mungkin juga setiap kepala sama isi serta cara berfikirnya.
Kali ini, aku menjaga dua pasien yang semua harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, harus kembali beradaptasi juga belajar lagi. Menjaga pasien yang harus menjalani cuci darah juga suntik insulin bukan hal yang mudah, karena menjaga pasien yang punya riwayat penyakit gula darah itu harus benar-benar telaten dalam segala hal. Menjaga makan minum mereka, tidak boleh terlupa untuk memberi obat, juga harus benar-benar diperhatikan sebelum memberi suntik insulin. Belum lagi jika pasien tersebut ada luka di tubuhnya, maka; harus benar-benar teliti dan telaten dalam merawatnya. Sebab, merawat luka itu memang perlu, bukan malah menambah luka.
Kenapa tidak memilih job pabrik atau di panti jompo?
Jawabanku simple; Karena bagiku bekerja informal lebih aman dalam segala hal, makan ditanggung majikan, tidak perlu bayar sewa kamar. Formal (pabrik atau panti jompo) memang bebas, waktu bergaul pun bebas. Tapi menurutku, semua punya pilihan masing-masing. Aku lebih ke tujuan awal pergi jauh meninggalkan keluarga dalam waktu yang cukup lama yaitu fokus mencari nafkah, bukan untuk bersenang-senang.
Lantas, bagaimana menbagi waktu? Antara; kerja, ibadah dan istirahat?
Kerja; Untuk informal sendiri memang 24 jam nonstop fokus ke pasien, karena memang tinggal satu atap bahkan harus satu kamar dengan pasien.
Ibadah; Pintar-pintar membagi waktu untuk beribadah. Sebab, kita di sini menjadi 'minoritas' yang mayoritasnya 'non muslim'. Harus pandai mengatur waktu, juga pandai mengambil hati majikan untuk memberi ruang serta waktu beribadah untuk kita. Karena setiap manusia pasti punya kepercayaan masing-masing.
Istirhat; Menurutku waktu istirahat ya ketika pasien istirahat. Di situlah aku bisa meluangkan sejenak waktu untuk istirahat, berkomunikasi dengan keluarga, menulis, membaca.
Jadi, sebenarnya memang bukal hal mudah untuk masuk ke sebuah negara yang menjadi tujuan untuk mencari nafkah. Berteduh dan menginjakkan kaki di negara yang jauh sebelumnya tidak pernah tahu, bagaimana dengan; budaya, adat, serta lingkungan yang akan ditempati.
Beradaptasi dengan orang-orang baru yang sama sekali belum pernah kenal satu sama lain, bahkan mungkin bermimpi pun belum pernah. Belum lagi dengan bahasa yang kerap kali menjadi kendala untuk berkomunikasi. Belum lagi bagaimana sulitnya hidup di dalam penampungan, berdesak-desakkan dengan ribuan orang. Berlama-lama menanti job, menanti Vissa untuk bisa masuk ke negara tujuan. Ribuan air mata menjadi saksi betapa perihnya hidup di penampungan, menahan segala rasa, emosi, serta rindu pada mereka yang tengah menanti kabar baik dari aku juga para TKW lainnya.
Oke, berbicara tentang penghasilan selama menjadi seorang TKW, untuk aku pribadi; seberapa banyak gaji jika tidak bisa bersyukur maka kita pun tidak akan pernah merasa puas dan cukup, bukan begitu?
Jadi lebih ke pada rasa syukur kita, bagaimana kita mensyukuri setiap nikmat dan rezeki yang telah Allah bagi.
Terkadang, acap kali aku dihadapkan dengan sebuah pertanyaan; kenapa tidak diam di rumah saja supaya lebih dekat dengan anak-anak tanpa jarak, tanpa adanya kerinduan yang jelas-jelas akan mendera batin seorang ibu? Toh, di Brebes pum sekarang sudah banyak pabrik-pabrik milik Asing yang menawarkan ribuan lowongan pekerjaan.
Jadi, hidup berdampingan dengan anak dan keluarga yang teramat kita cintai adalah suatu kebahagiaan untuk kita, memang. Tapi, jika serba minim pun hanya akan menambah beban pikiran kita, bukan?
Sedang UMR di Brebes sendiri pun relatif paling rendah dibanding tempat lain. Sehingga menjadi TKW atau TKL adalah jalan terakhir yang menjadi pilihan kita, bahkan di Brebes sendiri tercatat lebih dari 50.000 jiwa yang keluar mencari rezeki di negeri seberang. Itu disebabkan minimnya penghasilan, sedang harga kebutuhan; sandang pangan serta kebutuhan lain termasuk berobat sagatlah mahal. Sebab, ketika menggunakan layanan BPJS pun terkadang mendapat layanan yang sangat tidak layak. Juga untuk bantuan-bantuan dari pemerintah yang meliputi; PHK, KIP (kartu Indonesia pintar), KIS (kartu Indonesia sehat) hanya orang-orang tertentu yang mendapatkannya, bahkan banyak yang salah sasaran (dalam artian; banyak keluarga mampu yang justru mendapatkan fasilitas itu, sedang orang yang tidak mampu justru tidak mendapatkan fasilitas itu).
Jadi, nikmati apa yang menjadi pekerjaan kita, meski terkadang hanya dianggap rendah, dipandang sebelah m
ata oleh mereka yang merasa dirinya paling baik dan benar. Sebenarnya tidak ada si kaya dan si miskin dalam pandanganku, tapi rasa syukur yang menjadikan kita merasa berbeda. Mensyukuri apa yang menjadi nikmat kita, itu yang selama ini menjadi prinsipku, sehingga sebisa mungkin aku bisa melewati setiap fase kehidupan meski dalam keadaan tersulit sekalipun.
Dan, jangan melihat seseorang hanya dari status sosial saja! Sebab, terkadang jabatan tinggi serta seragam yang dikenakan bukan sebuah jaminan kebahagiaan, bukan pula sebuah jaminan bahwa mereka manusia baik. Bukan seperti itu cara menghargai manusia, bukan hanya dari tingginya jabatan serta seragam yang terpasang atribut sebagai tanda pengenalan diri!
Sebuah coretan yang mungkin tidak ada faedahnya, tapi ini akan menjadi cerita esok lusa untuk anak cucu. Bahwa sebuah perjuangan itu sangat mahal harganya, dan hanya orang-orang pilihan yang sanggup bertahan dalam kesengsaraan meski menjadi yang terhina di mata insani.
Tiada harap yang lebih, melainkan semoga lelah ini menjadi lillah, berkah untuk mereka yang mencintai dan dicintai.




Bener mb.. selama kita hidup harus terap semangat untuk belajar. Keep writing ^&
BalasHapusIya Mbak, semangat untuk lebih baik lagi. 😊
Hapus