Artikel

Aku Memaknainya Sebuah Perjalanan

Oleh; Riana


Kenapa aku memilih judul; Aku memaknainya sebuah perjalanan?
Jawabnya; Karena aku tahu bahwa hidup ini adalah perjalanan.

Ya, aku adalah seorang ibu yang merangkap peran seorang ayah untuk tiga putri cantikku. Amanah Allah yang telah menjadi tanggung jawab dunia akhiratku. Meski begitu, aku sangat bersyukur dengan setiap kejadian serta kisah yang aku alami. Bahkan, aku sangat bersyukur Allah telah menyempurnakan kodratku sebagai seorang perempuan, juga seorang ibu.

Aku adalah seorang ibu, ayah dan juga sahabat untuk anak-anakku. Apa lagi si sulung sudah mulai memasuki masa remajanya. Rasa haru, serta takjub ketika dia mencurahkan perasaannya. Namun tak jarang juga dibuatnya luluh air mata ini, ketika dia ungkap kerinduannya padaku.

Remuk redam perasaanku, batinku meronta. Sungguh aku tidak ingin gendang runguku disajikan dengan perkataan seperti itu.

Bukan sebab aku tidak mencintai mereka, atau aku tidak menyayangi mereka jika harus kutinggalkan mereka. Toh, ini semua pun demi kebaikan bersama, demi masa depan mereka. Aku tidak mau kalau anak-anakku tidak bisa seperti anak lainnya, aku tidak mau mereka kurang sandang pangan.

Terkadang, aku disuguhkan berbagai macam pertanyaan oleh orang yang mungkin tidak bisa merasakan nikmatnya menjadi seorang 'Single Parrent'. Iya, mereka hanya bisa men-judge aku yang memang jarang sekali satu atap dengan anak-anak juga orang tuaku.

Tapi, aku pun tidak pernah mempersoalkan apa yang mereka bicarakan tentangku. Karena aku tahu bahwa berhadapan dengan orang-orang yang hanya bisa mencerna dengan mulut tanpa bisa mencerna sesuatu dengan mata hati yang sesungguhnya itu memang harus lebih sabar. Dan harapanku semoga stok sabarku tidak pernah berkurang

Bukan hal yang mudah memang ketika harus melangkahkan kaki meninggalkan anak serta orang tua, apa lagi jika harus meninggalkan anak yang jelas-jelas baru 3 hari keluar dari ICU.

Jadi Gaes; Anakku yang bungsu itu terlahir Down Syndrome.
Dengan penyakit bawaan; Retina Blasmato (katarak bawaan), Leukimia, infeksi saluran pernafasan, juga infeksi saluran pencernaan.

Awalnya aku memang tidak begitu bisa menerima, bahkan aku sempat mengumpat Tuhanku karena keadaan anakku. Tapi, aku pun bersyukur mempunyai kedua orang tua yang sanggup menerima keadaanku juga anak-anakku apa adanya. Ketika aku jatuh tersungkur pada titik nol terkecil, mereka justru yang menjadi semangatku untuk terus bangkit. Dengan kesabaran, ketelatenan serta tumpah ruah welas asih mereka akhirnya aku pun pelan-pelan mulai bangkit, hingga detik ini ketika aku merekam jejakku, menuang segala lewat goresan ini. Aku telah pun menjadi seorang yang lebih matang lagi.

Oh iya, sahabat bloggerku...
Sedikit cerita tentang 'dunia literasi', jadi aku bergelut di dunia literasi itu memang belum lama. Dulu, tahun 2016 sempat masuk dan bergabung dalam wadah literasi di Taiwan yaitu KPKers_Taiwan, tapi hanya beberapa bulan saja. Tersendat karena beban pikiran juga kebutuhan ekonomi (maklumlah emak-emak). Dan kembali aktiv lagi tahun 2018 bulan Oktober ketika KPKers_Taiwan mengadakan event dengan tema 'Surat untuk Ayah' dan aku mendapat juara 2. Kemudian, aku juga ikut event yang diadakan oleh PCI Muhammadiyah Taiwan dengan tema 'Hijrah' dan aku masuk 9 besar. Sejak saat itulah aku memutuskan kembali bergabung KPKers_Taiwan. Dan hampir setiap hari muncul ide-ide menulis.

Jadi, aku menulis pun di sela-sela kesibukanku menjaga dua orang pasien yang semuanya memang sudah menggunakan kursi roda. Kadang, rasa malas pun menjadi kendala paling ampuh untuk menulis.

"Berat juga ya pekerjaanmu, tapi kok masih sempat menulis dan membaca? Kapan belajarnya?" pernah seseorang menanyakan hal itu.

Jadi menurutku; Tidak ada pekerjaan atau apa pun yang berat, yang berat itu jika kita tidak bisa menikmati setiap prosesnya, yang berat itu jika kita tidak bisa mensyukuri keadaan.

Karena bagiku, bisa konsisten dengan apa yang menjadi tanggung jawab itu termasuk melatih ilmu sabar juga. Seperti aku bisa menyelesaikan tantangan ODOP RWC 2019 menulis setiap hari dengan tema yang berbeda dan ditentukan oleh PJ, itu menurutku bukan hal yang mudah. Aku juga pernah mengikuti event lain yaitu 20day one day one post, dan 14day one day one post. Dari situlah aku belajar untuk konsisten menulis, semoga ke depannya bisa lebih baik lagi.

Aku sangat bersyukur dapat bergabung dengan penulis-penulis hebat di ODOP Batch7 ini. Juga para PJ yang keceh baday, Gaes!

Banyak sekali ilmu yang aku dapat setelah masuk ODOP Batch7, awalnya aku tidak bisa membuat blog, utak-atik saja seperti mau menyerah. Namun, ketelatenan para PJ juga senior lainnya menjawab setiap pertanyaan dari peserta, termasuk pemula seperti aku ini akhirnya pelan namun pasti sedikit paham tentang blog.

Dan aku bersorak "Yeay... aku punya blog sekarang! Alhamdulillah terima kasih ODOP Batch7 telah memperkenalkan aku dengan dunia blogger. Terima kasih PJ yang telah pun sudi membimbingku untuk menjadi penulis sesungguhnya (bukan penulis abal-abal yang cuma bisa nyinyir di akun sosmed)."

Inilah perjalananku, semoga aku bisa konsisiten dalam menyelesaikan setiap tantangan. Bahagia dan rasa syukur bisa masuk menjadi peserta ODOP Batch7 ini.

Salam literasi dari perantau, dari seorang TKW yang sedang berjuang menghidupi anak-anak.


Taichung, 9 September 2019



Komentar

  1. Semangaat mba Riana! Send virtual hug for you from Indonesia 🤗🇮🇩

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaa Allah selalu semangat, Mbak😊😉 Thank you 😍

      Hapus
  2. Masyaalloh.. Semangat mba Ri..

    BalasHapus
  3. kalau dilihat dari setiap susunan katanya kukira tulisan ini bukan terlahir dari aktivitas yang serba sibuk, serba menguras tenaga dan pikiran. ternyata semangat menulisku masih kalah dengan Ibu ini.

    Bu, apapun anggapan orang tentang Ibu. tulisan Ibu ini mengajariku semangat lebih untuk mendapatkan lebih, dan Ibu berhasil membuat inspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semalem suntuk pasien saya tidak tidur, kebetulan obat tidurnya habis😂 Ini saya jam 3 nemu ide langsung esksekusi nulis, slesai langsung stor link.

      Semangat itu tumbuh dari hati sendiri, Pak. Itu menurut pandanganku ya😊 Alhamdulillah jika tulisanku mampu membuat inspirasi buat orang lain.🙏

      Hapus
  4. waowwww hanyuttt bacanya semangat momy kerennn semoga Allah mudahkan selalu perjalanan hidup ka Riana dan princess2nya aamiinnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, terima kasih Mbak😊🙏

      Hapus
  5. Sejalan nih; "Perjalanan selalu mengingatkan akan ketidakpastian. Dan berjuta ketidakpastian itu menyadarkan betapa hidup ini memang ke-sementara-an yang harus dilakoni. :D"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, hidup adalah perjalanan. Di mana, di dunia ini hanya sementara. Liku hidup pun menyempurnakan kodrat kita sebagai hambaNya, hingga kita sampai pada satu titik yang telah Allah tentukan, yaitu KEMATIAN. 😊

      Hapus
  6. Semangatnya terasa sekali Mbak.. aku jadi ikutan kesetrum.. 😍😍😍

    BalasHapus
  7. Masyarakat Allah..keren mba..semangatmu luar biasa ,������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus tetap semangat, Mbak. Apapun keadaan kita.😊

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer