Arogansi



Sekali lagi aku menangkap netranya tengah menatap mataku. Dan aku laksana kerbau yang dicucuk hidungnya. Diam mematung!

------------------


Mentari pagi dengan riangnya menelusup masuk melalui celah-celah jendela kamarku, aku yang masih enggan bangun dari pembaringan. Masih berselimut ragu, diam teronggok memandang jendela kaca yang telah berdebu. Entah kapan terakhir kali aku mengelap debu tebal yang selalu saja mengotori jendela beningku. Sudah hampir satu tahun mungkin tidak mengelapnya, atau bahkan lebih dari satu tahun.

Waktu itu, ya-dulu waktu kopi masih dengan asap putih yang mengepul dari balik cangkir mungil bermotif bunga berwarna violet dan aromanya menjadi candu pada warasku. Lalu tiba-tiba datang seseorang yang entah dari ujung antah berantah dan kemudian membuat warasku kian sekarat begitu lama. Dia bukanlah sosok yang asing menurutku, karena memang kami sering berada dalam satu ruang dan waktu yang sama untuk sebuah acara atau event tapi tanpa saling sapa. Dia tidak mengenalku, begitu juga aku yang tidak tahu siapa namanya.

Entah, warasku terkadang setengah terbang ketika netra dihadapkan dengan sosoknya. Namun, apakah salah jika aku menginginkan merah kuning hijau biru dan ungu, warna-warni yang akan menambah semarak hidupku, mewarna pria juga mewarna cinta yang tumbuh di relung hati ini. Dia yang kemudian mengusik kelabu kehidupan, karena dia datang membawa sejuta warna yang kuinginkan.

"Maaf, aku tidak minum kopi semenjak asam lambung naik," katanya tanpa basa-basi bertanya kabar.

"Sudah lama kita tidak bersama dalam satu acara," lanjutnya dengan tatapan yang menembus ke jendela berdebu tebal itu.

"Iya, aku sibuk dengan pekerjaan. Tidak seperti dulu ketika aku kerja di rumah sakit di daerah Taipei."

"Sudah tidak bisa mengikuti acara-acara di luaran sana sepertimu," lanjutku dengan cangkir yang telah tersisa sedikit saja isinya.

"Jadi, bagaimana dengan pekerjaanmu yang sekarang? Apakah kamu menikmati semuanya? Atau kamu merasa ingin lepas dari jerat sibukmu itu?" ucapnya sambil sesekali memasukan kacang almond yang kusuguhkan di atas meja.

"Ah, sudahlah! Aku harus tetap menikmati semua ini!" jawabku.

Kemudian hening dan lama sekali bibir terkunci, kami membeku dalam dimensi waktu yang hanya diam. Hanya denting jarum jam yang seakan berkuasa menjadi Raja di keheningan kami, tak tik tak tik terus memecah keheningan.

Mungkin berkisar antara 15 bahkan 20 menit, hening. Kemudian kudengar hela napas panjangnya dan sesekali pandangannya beralih fokus menatapku.

"Maukah kamu mendengar semua resahku?"

Tanpa bersuara aku menganggukkan kepala tanda setuju, hingga terlupa untuk menanyakan tujuannya yang datang secara tiba-tiba dan dari mana dia mendapat informasi tentangku? Dari: Nomor WhatsApp, Facebook serta alamat kost.

Jauh-jauh ia tempuh perjalanan dari Taipei-Taichung yang berkisar sekitar 3 jam, dan hebatnya aku tidak pernah berkenalan sebelumnya. Hanya sekilas ketika berada dalam satu acara atau bersama ketika memanusiakan manusia.

Kini, detik ini sosoknya telah ada di depan mataku dengan membawa cerita panjang yang seakan seseorang hilang dalam dunianya. Kini, sosoknya berubah menjadi ingin dimengerti. Ah, semua berputar asing dan seakan menjadi sendu untukku. Sekali lagi aku menangkap netranya tengah menatap mata ini. Dan aku laksana kerbau yang dicucuk hidungnya. Diam mematung!

"Teh atau kopi?" sambil beranjak bangkit menawarkan minum, lupa bahwa dia tadi sudah memberi tahu kalau dia tidak minum kopi.

"Aku tidak minum kopi, teh saja. Jangan terlalu manis! Cukup melihat senyummu saja, dan aku tidak merokok."

Jawabannya tidak membuatku surut sedikitpun untuk mengaduk kopi keduaku dan aroma kopi hitam kental telah menghipnotis indera penciuman hingga menenangkan ke urat saraf otak.

"Kenapa tiba-tiba ke sini? Bukankah sebelumnya aku tidak pernah memberi tahu alamatku? Lalu dari mana kau dapatkan semuanya?" 

Sejurus pandangannya beralih menelanjangiku, lagi dan lagi aku tersipu. Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya.

"Kamu memang tidak pernah memberi tahu alamatmu, juga tidak pernah mau mengenalku. Tapi selama ini aku selalu mencari tahu tentangmu." Dia kembali menghela napas panjang dan kemudian mensejajarkan tubuhnya di sampingku.

"Kenapa kamu tidak pernah mau menyapaku?" ucapnya lirih.

"Menyapamu? Untuk apa? Aku bukan penggemar gilamu yang selalu bersorak riuh ketika suara serak menghipnotis semua perempuan yang berdiri berdesak-desakkan di bawah panggung."

Dia semakin mendekatkan posisi duduknya, dengan tatapan tajam. Aku hanya diam menikmati aliran darah yang semakin kencang di pembuluh nadiku, serta gemetar menikmati degup jantung yang kian tak berirama.

"Bisakah kita berbicara layaknya seorang sahabat atau lebih dari itu, bukan sebagai seseorang yang tidak pernah mengenal sebelumnya. Toh, kita pun beberapa kali dipertemukan, bukan?" tangannya mulai menggenggam jemariku yang basah karena keringat dingin.

"Kita berbeda, Bang. Aku lebih suka sunyi, bukan sepertimu yang penuh sorak riuh penggemarmu. Dan aku tidak bisa seperti mereka yang rela berdesak-desakkan demi untuk bisa berfoto denganmu atau hanya demi sebuah tanda tanganmu."

"Kenapa kamu berpikiran picik seperti itu? Bukankah perbedaan harus kita satukan?" ucapnya.

Sebenarnya ada rasa sesal dengan ucapanku tadi, rasanya terlalu naif memang. Tapi aku tidak mungkin menarik kembali semua kata yang telah kulontarkan di hadapannya. Ada sedikit rasa yang tumbuh, tapi aku tidak mau terlihat begitu murah dan begitu gampang menerima semua ucapannya. Sosoknya memang sering mengusik lewat mimpi, tapi kurasa biarlah mimpi hanya menjadi kembang tidur.

Kemudian dia bangkit, matanya keruh. Aku melihat ada setitik bening yang ia tahan dari sudut sana. Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Ya, mungkin saja aku salah!

"Aku pamit. Senang bisa menjumpaimu, bukan dalam keadaan kita dipertemukan dalam suatu acara. Dan ini sebuah bukti bahwa aku sanggup menyeberangi perbedaan di antara kita untuk bisa menjumpaimu, mengungkap semua yang bergejolak di hati."

Aku tercengang menatap bahunya, bahu itu yang semakin lama semakin menjadi bayangan. Lalu bayangan itu lenyap begitu saja. Kini, hanya rasa sesal yang tertinggal di sudut hatiku. 

"Apakah aku menginginkannya? Apakah aku mencintainya? Apakah aku harus memanggilnya kembali dan memintanya untuk mendengar semua apa yang aku rasakan? Bahwa aku pun merasakan apa yang ia rasa."

Arogansi telah mencipta lara. Dan aku tak tahu harus bagaimana, tidak mungkin juga aku mencarinya hanya untuk sebuah pengakuan. Dia telah pergi, dan tak mungkin kaki kecil ini sanggup mengejar langkahnya yang tak akan pernah kembali. 

Aku menyesal, ada nyeri di relung hati ini dan arogansi telah pun bersorak riang dengan kepergian wewarna itu. Kini kembali sunyi!


Taichung, 19 September 2019

Komentar

  1. Jangan menyesal mb ๐Ÿ˜…๐Ÿ’ช๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha menyesal karna warna-warni itu hilang dan kembali menjadi kelabu๐Ÿ˜‚. Terima kasih sudah mampir๐Ÿ™

      Hapus
  2. Balasan
    1. Haruskah aku mencari jejaknya untuk melanjutkan episode selanjutnya? ๐Ÿ˜‚

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca karya recehan saya, apalagi jika mau meninggalkan jejak sebagai krisan atas karya saya yang masih recehan ini.

Postingan Populer