Antara Sampah dan Perjalanan Hidup
Oleh: Riana
"Gila panasnya! Neraka bocor kali ya?" gerutu Riko sambil mengusap dahi yang basah karena peluh dengan sapu tangan berwarna biru langit.
Mudik memang sudah menjadi ritual ketika musim liburan tiba, atau ketika hari yang sakral tiba. Aku bersama tiga temanku mudik menggunakan bus yang memang kebetulan satu arah, tujuanku adalah Brebes, Riko pulang ke kampungnya Pemalang, sedangkan Rina ke Tegal. Kami bekerja di sebuah toko kelontong plastik yang menjual berbagai perabotan dapur, perlengkapan kue, juga berbagai macam plastik. Seperti tahun yang sudah-sudah, kami akan diberi cuti selama beberapa hari ketika Hari Raya Imlek tiba, mereka pun mudik ke Kalimantan untuk merayakan Hari Raya bersama keluarga, karena bos kami memang keturunan Tiongkok.
"Sialan! Macet panjang lagi," gerutu pak supir yang sedari tadi pun sibuk mengusap peluhnya.
"Bukan Indonesia namanya kalau tidak macet, Bang!" balas seorang penumpang yang duduk persis di belakang kursi kemudi.
"Lagian kamu beli karcisnya bis yang tidak ada ACnya," Rina menoleh ke arah Riko
"Oh, jadi kamu nyalahin aku sekarang? Kamu sendiri yang meng-iyakan tadi. Lagian kalau nunggu bus yang AC juga nanti malam baru ada," Riko tak mau kalah.
Aku hanya diam, bersandar pada jendela bus yang sengaja kubuka lebar-lebar. Jakarta siang itu macet parah, tidak ada sedikit celah untuk menggeser badan bus, bahkan mungkin rodanya telah menempel lekat di atas aspal panas yang seakan mendidih terbakar matahari.
"Ini kapan jalannya, Bang? Lama amat ya?" tanya seorang penumpang dengan emosi yang jelas terucap dengan nada tingginya.
"Sabar, Pak. Sebentar lagi juga jalan ini." Ucap kernet bus yang sedari tadi sibuk dengan gelas plastik air mineralnya, setelah cairan itu habis diteguk ia pun melempar gelas plastik ke luar jendela hingga terjatuh di atas aspal panas dan kemudian terinjak oleh kendaraan yang lalu lalang.
Hidup memang terkadang selalu disudutkan dengan keadaan yang tidak pernah kita inginkan, contoh kecilnya ya seperti ini: berlama-lama dalam kemacetan, panas, serta oroma yang sangat tidak sedap dihirup oleh hidung. Berdesak-desakan dalam pengap yang kian menyiksa, tapi mau tidak mau ya harus tetap bertahan demi bisa sampai ke tempat tujuan untuk menyudahi semua kerinduan.
"Na, pingsan kamu ya? Dari tadi senyap, tak berkutik sedikitpun kaya enggak ada nafas lagi. Hahaha..." Gelak tawa Riko seakan mengejekku.
"Menikmati hidup," jawabku datar.
"Bahasamu kurang keren, kawan." Ledek Riko.
"Sudahlah diam! Nikmati hidup ini saja, nikmati kesengsaraan kita sekarang!" jawabku.
"Tahu apa kau tentang hidup?" celetuk Rina.
"Hidup ini indah jika kita mampu memaknainya, tapi hidup akan terasa sulit jika otak kita hanya dijejali dengan kesulitan. Maka nikmati hidup sebahagia mungkin!" jawabku.
Memang, tidak selamanya hidup memberi bahagia seperti apa yang kita inginkan. Terkadang kita pun ada di posisi menjadi yang tersisih dan terbuang tidak berguna. Seperti gelas plastik yang kernet bus itu buang, tubuh gelas itu dilempar begitu saja setelah cairannya habis diteguk, tanpa sedikit saja iba atau berpikir bahwa gelas air mineral itu pun berguna jika kita mampu mendaur ulangnya. Buktinya , banyak pemulung yang rela berjalan jauh di bawah terik matahari demi mendapatkan gelas atau botol plastik bekas.
"Bang, minumnya yang dingin, yang dingin. Mbak, minum Mbak?" seorang pedagang asongan menjajakan berbagai minuman, botol plastik berjejer rapi di atas kardusnya, ada beberapa gelas air mineral serta minuman lain dengan variannya masing-masing.
"Pak, Air satu gelas sama kreteknya satu!" ucap supir.
"Jangan nge-bon lagi lu, ya! Belum ada pemasukan ini, gue baru aja keluar." Ucap pedagang tadi.
"Ya elah, biasa gue nge-bon juga lu diam. Ya deh sini buruan gue haus banget ini!" celetuk pak supir yang masih sibuk dengan handuk berwarna coklat tua yang ia kalungkan di leher, sengaja untuk mengusap peluh yang terus membasahi tubuh hitamnya itu.
"Pak, Aqua 1 ya!" pinta seorang penumpang perempuan berkerudung merah maroon yang sedari tadi sibuk dengan kipas kayunya.
"Dingin, Mbak?" tanya pedagang.
"Iya yang dingin, Pak."
Inilah hidup, selalu ada kejutan. Ketika kita tengah kehausan dan kepanasan, datang seorang pedagang asongan yang menawarkan berbagai macam jenis minuman. Sebab, tidak selamanya kesulitan itu tidak ada hikmahnya tersendiri.
Setiap masalah pasti ada jalan penyelesaiannya, bukan?
Dan setiap kesulitan pasti akan ada kemudahannya, bukan?
Ya, namanya juga hidup. Layaknya roda, pasti berputar. Pun dengan hidup manusia, terpenting adalah cara kita menikmati dan mensyukuri apa yang menjadi takdir kita. Tidak perlu mengeluh jika hanya akan membuat kita semakin tidak maju.
Seperti halnya dengan gelas plastik yang dibuang oleh kernet bus tadi, dilemparkannya begitu saja setelah semua cairan telah habis diteguk. Bagi kernet bus itu mungkin gelas plastik tidak ada gunanya sama sekali, hanya dianggap sampah yang pantasnya memang terbuang, di biarkan dalam kekumuhan nan lembab, dan hanya menjadi seonggok sampah yang sebenar-benarnya. Tanpa kita sadar kita pun bisa belajar dari gelas plastik yang terbuang itu, adakalanya kita dibuang oleh mereka yang memang sudah tidak lagi membutuhkan keberadaan dan peran kita.
Kita dibuang layaknya sampah yang menjijikan, tidak berguna dan hanya dianggap menyusahkan saja. Tapi, yakinlah bahwa akan ada yang memungut kita laksana berlian yang sangat berarti untuknya. Seperti gelas yang terbuang itu pun pasti akan ada yang memungutnya, meski bentuk yang sudah tak beraturan dan teronggok di tempat yang kumuh serta menjijikan.
Pelan dan perlahan kemacetan mulai berjalan, badan bus pun mulai menggeser meski sangat pelan.
"Alhamdulillah, akhirnya jalan juga." Ucap seorang penumpang.
Sorak riang mereka meramaikan keadaan di dalam bus, angin pun mulai masuk menelisik lewat celah-celah di setiap jendela yang memang sengaja dibuka lebar.
"Aku tidur dulu, nanti kalau sampai di rumah makan bangunkan aku, ya!" ucap Riko.
"Oke!" jawabku singkat.
"Yeay… akhirnya jalan juga, sudah tidak sabar pengen ketemu keluarga." Sebuah kebahagiaan terpancar dan tergambar jelas di wajah Rina.
Ya, hidup adalah perjalanan. Nikmati setiap prosesnya, meski terkadang lara terus mendera batin. Meski terkadang kita hanya dianggap sampah, meskipun nista terus menyelimuti atma. Tapi, ini hidup yang mau tidak mau harus kita jalani hingga kelak Tuhan tidak lagi memberi kita kehidupan di dunia ini.
Bus melaju dengan kencangnya, berharap akan sampai dengan keadaan selamat hingga temu menyudahi semua kerinduan. Gelas plastik yang hanya dianggap sampah pun sudah jauh tertinggal, entah sudah ada yang memungutnya atau masih teronggok menjadi sesuatu yang tak lagi berbentuk.
Hampir 7 jam perjalanan, kini telah pun sampai pada tujuanku. Disatu sisi, pisah telah menjadi sebuah tangis untukku, Riko dan Rina. Disatu sisi lain, temu telah mencipta senyum bahagia karena aku telah bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang mencintai dan dicintai.
Sebuah perjalanan yang telah banyak memberi pelajaran dan banyak pengalaman, bahwa tidak selamanya yang dianggap sampah itu menjijikan tak berguna. Bisa jadi sampah-sampah itu bisa menjelma menjadi berlian yang indah jika kita pun mampu mendaur ulangnya.
Taichung, 14 September 2019
ODOP_Batch7



Keren, Kak ... Masalah sampah memang butuh kesadaran 😊
BalasHapusIya memang😊
HapusPerjalanan pulang emang bikin kangen y. Anyway, keren kk . Ditunggu cerita yg lainnya y. Tq
BalasHapusTerima kasih, Kak😊
Hapus