Aku Laksana Mayat Hidup Yang Teronggok di Kegelapan, Hitamnya Kian Menyesatkan
Dulu, kau bilang bahwa kau mencintaiku apa adanya, tanpa syarat dan rindumu tak terbatas untukku. Tapi setelah separuh hatimu tersesat pada perempuan lain, kau bilang bahwa cinta perlukan syarat. Hanya karena kesalahpahaman kau pun memilih untuk membagi cinta dan rindumu itu untuk orang lain. Sementara aku, aku masih saja meneduhkan setiaku pada hubungan kita yang jelas-jelas sudah tidak adem ayem lagi. Dan kau bilang bahwa ini semua karena salahku, karena aku tak bisa menerima jika kau ingin membagi hatimu pada perempuan lain.
Harusnya kau sadar, bagaimana aku berjuang untuk mempertahankan hatiku agar tetap memilihmu. Aku selalu berusaha untuk tidak sedikit saja membagi rasa dan asaku pada lelaki lain. Dan rasanya sangat tidak adil jika kau terus memaksaku untuk menerima semua maumu. Aku perempuan, dan aku punya perasaan yang lembut. Aku sangat tidak mau jika kau terus memaksaku untuk menerimanya sebagai maduku. Maaf!
Namun, kau masih dan terus memaksaku untuk bisa menerima maumu. Aku pun terpaksa mengiyakan semua, aku menerima semua maumu dengan syarat: perpisahan untuk kita. Ya, aku lebih memilih kita pisah dari pada aku harus bermadu dengan orang lain. Oke, dan kau pun terima syarat dariku, kemudian kau berlalu meninggalkan seonggok raga yang selalu ada disampingmu ketika kau berada di titik nol terkecil. Kurasakan hampa kala itu, bagiku dunia ini hanya lorong gelap yang pekatnya terus menyelimuti atmaku. Bahkan aku tidak menemukan percikan cahaya sedikitpun, hanya hitam yang mewarnai hidupku. Diri terpenjara dalam pengapnya sunyi.
Aku laksana mayat hidup yang teronggok di kegelapan, hitamnya kian menyesakkan. Dan aku hanya seperti kerdil yang terkapar pasrah di bumi, mencoba bangkit dan terus menapakkan kaki di atas kerikil-kerikil tajam, antara hidup atau mati. Hanya menunggu malam ke pagi dan pagi hingga kembali ke malam. Sungguh tidak berarti ketika itu, aku meratap dan nestapa atas pergimu. Aku mencoba ikhlas atas pergimu tapi hati ini masih saja tak kuasa, bibir ini tak mampu berucap bahwa aku baik-baik saja jika kenyataannya aku semakin sekarat.
Ya, aku mengiba, mengemis agar kau mau kembali pulang pada hati ini yang kering kerontang kehausan merindukan welas asihmu. Namun sedikit saja tak kau hiraukan, tak ada iba sedikit saja kau melihatku teronggok tak berarti. Kau bahkan hanya menganggapku sampah yang hanya layak teronggok di lembah yang menjijikan. Kau bilang bahwa aku hanyalah bangkai menjijikan dan kau takkan pernah lagi mau memungutnya. Kau sempurnakan laraku dengan menancapkan sebilah nista tepat di jantung ini. Penghianatan menjadi mahar atas kesetiaan dan segala pengabdianku kepadamu. Bahkan kau merasa puas dan menang ketika kau melihatku lemah tanpa daya, gumpalah hinaan serta hujatan selalu terdengar nyaring di gendang runguku.



😢😢
BalasHapusSo deep mba
BalasHapusDiksinya 😍😍
BalasHapus